Senin, 02 September 2013

It's Our New Start

Minggu lalu merupakan masa penting dalam hubunganku dengan pacarku. Akhirnya kesempatan itu datang juga, dan aku sudah menantikannya...
Pada awalnya, kami sadar kalau hubungan kami ga akan mudah, seperti yang sudah pernah aku ceritakan di blog sebelumnya “Beda Tapi Cinta”. Sampai sekarang kami masih terus berjuang dan menunggu. Kami yakin Tuhan akan membuat semua indah pada waktunya.

Sudah lama dia memintaku untuk jadi istrinya. Aku sudah mengiyakan, tapi masih mempertimbangkan kendala di luar kekuatan kami untuk menyelesaikannya itu. Memang aku ga mau serta-merta mengabaikan nasehat orang tua. Bagaimanapun juga, orang tua kan sudah banyak berkorban merawat dan memberikan yang terbaik untuk kita, mulai dari kecil hingga sekarang, maka kini giliran kita memberikan kebahagiaan bagi mereka. Orang tua juga disebut sudah banyak makan asam-garam kehidupan, jadi bisa tau gimana kehidupan pernikahan itu ga semudah dan se-enak yang dibayangkan oleh anak muda. Namun bukan berarti kebahagiaan orang tua adalah kebahagiaan kita pula. Dalam hal ini, orang tuaku melarang hubunganku yang sudah bahagia bersama pasanganku. Demi mempertahankan tradisi keluarga, mereka memintaku memilih pasangan hidup dari ras dan budaya yang sama. “Ini demi kebahagiaanmu sendiri. Kita ga sederajat dengan mereka. Susah bersatunya, banyak perbedaan pikiran dan adat istiadatnya, nanti hidupmu ga bakal bahagia...” Hei, kok bisa situ menentukan kebahagiaanku?

Aku memang harus memilih: menuruti pilihan orang tua yang berarti mengorbankan kebahagiaan sendiri, atau bahagia menurut pilihanku sekarang. Percayalah, bukannya aku hanya membela “cinta” dan ga berpikir panjang tentang masa depan yang akan kujalani bersamanya, tapi ku juga memperhitungkan aspek lain seperti baik/buruk pribadinya, juga kondisi finansial yang harus dipersiapkan ga cuma untuk satu/dua tahun pertama, tapi untuk jangka waktu yang lama. Iya, memang benar kalau perbedaan pola pikir, aturan, serta adat istiadat itu ada, tapi hal itu ga harus dipaksakan supaya jadi sama, kan? Lebih tepatnya harus ditoleransi keberadaannya. Jadi aku sudah sadar dan sepenuhnya paham tentang resiko yang mungkin akan terjadi. Aku pun tau harus bertanggung jawab atas semuanya itu, dan aku akan melakukannya! Kami sudah sama-sama dewasa dan berpikiran panjang, bukan ABG lagi yang masih suka bersenang-senang aja. Itulah yang ga dipahami oleh orang tuaku...

Sekian lama galau dengan keadaan ini, aku butuh teman untuk berbagi. Di kantor, aku mempunyai sahabat baik. Kami sering ngobrol, bercanda, dan berbagi cerita, termasuk cerita tentang ini. Karena sama-sama beragama Katolik, kami juga berbagi info tentang gereja. Dia sudah kuanggap kakakku sendiri. Aku tau dia juga mempunyai masalah yang sama denganku, cintanya terhalang perbedaan. Bukan perbedaan ras dan budaya sepertiku, tapi perbedaan agama. Menurutku, itu lebih kompleks lagi!
Dia beragama Katolik, ceweknya seorang pemeluk Islam. Mulanya, hubungan mereka mendapat restu dari keluarga kedua belah pihak, dan mereka pun saling menghormati agama masing-masing. Mereka pacaran cukup lama (aku lupa berapa tahun pastinya), dan dia juga sempat curhat ke aku, betapa ia ingin ceweknya memeluk agama yang sama. Kalau aku sih –jujur aja– agak menyayangkan saat seorang murid Yesus memilih pasangan yang ga seiman. Tapi aku ga menghakimi, aku cuma memberi pendapat pribadi, “Jangan sampai cintamu kepada manusia mengalahkan cintamu pada Tuhan dan membuatmu berpaling...”

Hingga tibalah suatu masa, dimana ia mengungkapkan niatnya untuk menikahi ceweknya. Tapi reaksi dari pihak keluarga ceweknya sungguh mengejutkan. Mereka ga bersedia anak gadisnya dinikahi secara Katolik. Kata temanku, intinya begini, “Saya yang laki-laki, jadi sudah seharusnya Lisa (nama ceweknya) yang mengikuti saya. Kalau keberatan soal agama, kenapa dari dulu saya direstui bersama dengan Lisa?”
“Soalnya saya pikir Mas mau pindah ke Islam dan menikah secara Islam,” jawab ibunya si Lisa.
“Maaf, kalau soal itu saya tidak bisa. Kalau benar-benar tidak direstui untuk menikah secara Katolik, lebih baik hubungan saya dan Lisa sampai di sini saja,” temanku tegas memberikan pernyataan seperti itu. Salut!

Setelah kejadian itu, hubungan temanku dengan ceweknya merenggang, bahkan temanku berencana untuk menjauh pelan-pelan, ga mau langsung putus begitu aja. Aku sedih juga saat mendengar ceritanya. Tapi aku rasa temanku sudah mengambil keputusan yang terbaik. Apapun yang ia lakukan, aku hanya bisa memberikan dukungan semangat dan doa untuknya.
Memang, rasanya berat banget saat mengingkari perasaan bahwa masih sayang, tapi harus menjauhi, apalagi karena alasannya bukan berasal dari pribadi masing-masing, melainkan dari pihak luar! Tapi itulah yang temanku lakukan. Ceweknya pun juga belum bisa menerima kenyataan kalau hubungan mereka menjadi rumit...

Waktu berlalu, entah bagaimana kelanjutan hubungan temanku dengan ceweknya. Aku juga ga bertanya lagi. Sehari-hari, kami ngobrol hal-hal yang biasa aja. Tiba-tiba tanggal 24 Juli yang lalu, dia mengajukan cuti 1 hari untuk besoknya, tanggal 25 Juli. Tumben, soalnya Mas yang satu ini terbilang jarang banget cuti.
“Emang cuti mau kemana?” tanyaku lewat chating di YM waktu itu.
“Aku mau ke catatan sipil, Arzy,” tulisnya.
“Waaahh... Akhirnya happy ending nih sama si Lisa?” surprise aku membaca jawabannya.
“Iya, akhirnya... Puji Tuhan!” jawabnya diikuti smiley big grin.
“Syukur deh... Gimana ceritanya? Kok akhirnya bisa?” antusias aku ingin tau.
Lalu dia menceritakan kronologisnya.
“Awalnya, cewekkku tanya apa bedanya Kristen Protestan dengan Katolik. Ya aku jawab sepengetahuanku. Trus dia bilang pengen dibaptis dan nikah cara Katolik. Aku kaget, tapi juga bersyukur banget. Aku bilang, ‘Kalau beneran mau nikah Katolik, lebih baik kamu belajar aja dulu 1 tahun. Setelah itu baru dibaptis.’ Lagian kalau dari luar Katolik kan ga bisa langsung dibaptis. Akhirnya dia mau belajar agama dulu.”

Aku ga puas tau ceritanya sampai di situ. Bagaimana bisa si cewek akhirnya mau belajar menerima Tuhan Yesus? Lalu bagaimana dengan pihak keluarga yang sangat menentang jika pernikahan mereka dilangsungkan secara Katolik? Pertanyaan itu sangat menggelitik keingintahuanku. Temanku ga pelit bercerita saat ditanya, dan cerita berikutnya sangat menginspirasiku.
“Aku doa novena terus tiap malam jam 12. Aku mohon sama Tuhan, bilang mauku gini, maunya cewekku gini. Pernah ya, aku ngalami kejadian ajaib. Aku pulang dari kantor udah malem, abis lembur. Capek banget, jadi ketiduran. Eh, tau-tau aku merasa ada orang laki-laki di kamarku, dia banguni aku, ‘Hei, bangun! Kamu ga doa ta?’ Langsung aku bangun, lihat jam, ternyata jam 12 pas! Waktunya aku doa. Bener-bener mujizat.
Aku juga ga tau kenapa tiba-tiba cewekku ngomong mau dibaptis, mau belajar agama Katolik, padahal ya ga ada yg nyuruh, aku kan ga pernah maksa dia buat pindah Katolik. Tapi ya itulah mujizat Tuhan! Sekarang keadaannya udah jauh lebih baik. Orang tuanya cewekku akhirnya luluh juga, nyerahin semua keputusan sama Lisa dan aku. Kalau orang tuaku sih udah ga masalah. Sebulan lebih aku berdoa tiap hari, dan akhirnya doaku dijawab Tuhan...
Kamu coba doa Novena Kepada Hati Kudus Yesus sama Novena Tiga Salam Maria, biar masalahmu dapat jalan kayak masalahku sekarang. Sambil berdoa, bayangin orang-orang yang kamu kasihi kayak Mamamu, Papamu, semuanya, doain mereka. Di androidmu, kamu download aplikasi namanya ABADI. Di situ ada info tentang Katolik kayak doa-doa harian, doa novena, rumah doa, gereja, renungan, pokoknya lengkap. Kamu bisa berdoa pake bantuan itu.”
WOW, it’s trully inspiring me!

Berdasarkan cerita temanku, aku makin semangat untuk memperjuangkan hak-ku, hak mendapatkan kebahagiaan. Kalau dia bisa berhasil, kenapa aku ga bisa? Aku percaya satu hal: Tuhan bekerja dengan caraNya sendiri. Kalau benar dia yang Tuhan sediakan buat aku, pasti Tuhan bukakan jalan untuk kami. So, aku menuruti sarannya. Download aplikasi ABADI, lalu mulai berdoa novena tiap malam. Sebelumnya, aku memang berdoa untuk ini setiap hari, tapi doa biasa, bukan khusus meminta lewat doa novena. Kali ini aku benar-benar berserah kepadaNya, mendoakan keluargaku, juga hubunganku dengan pacarku. Sejak rutin berdoa novena, aku merasakan suatu perubahan. Bukan, doaku belum dikabulkan oleh Tuhan kok, tapi aku merasa jiwa ini tenang banget. Aku yang semula selalu khawatir, merasa diuji oleh Tuhan sedemikian beratnya, bingung gimana harus bersikap, hingga putus asa dan buru-buru ingin masalah ini berhasil dengan sukses sesuai harapanku; kini aku lebih sabar, lebih bisa tenang menghadapi situasi ini, dan pastinya lebih optimis.

Aku dan pacarku memang sudah pernah membicarakan soal pernikahan, rencananya di tahun 2014 nanti. Tapi kami belum berani jauh mempersiapkan ini-itu, tentu karena selain masih ada faktor hambatan, pengetahuan kami soal syarat pernikahan gereja Katolik masih minim, misalnya bagaimana jika ga ada restu dari orang tua dan bagaimana kalau orang tua ga hadir pada waktu pernikahan, apakah bisa tetap menikah. Semakin waktu berlalu, kami memang harus mengambil keputusan. Daripada bingung mau bertanya ke siapa, akhirnya kami konsultasi ke Romo.
Datang ke gereja, kami menemui Romo yang sudah kami kenal dan menceritakan masalahnya. Sebelum menjawab, Romo banyak bertanya tentang kesungguhan niat kami. Setelah itu, jawaban Romo, “Sebenarnya kalau pernikahan di gereja Katolik itu cuma perlu ada mempelainya, dua orang saksi, dan Romo. Itu saja sudah cukup sah. Saksi itu bisa siapa saja, orang yang kehidupan pernikahannya bisa kamu jadikan contoh. Jadi kalau orang tua ga bisa datang ya ga pa-pa. Soal pasangan kan sepenuhnya pilihanmu sendiri. Kehidupan pernikahan juga kalian sendiri yang menjalani, jadi seharusnya orang tua ga bisa ikut campur, ga bisa maksa dalam hal itu. Yang harus kalian hayati bener-bener adalah pernikahan Katolik itu satu untuk selamanya, tak terceraikan.” Ini bener jawaban seorang Romo lho, bukan aku sendiri yang mengarang demi mulusnya rencanaku. Hehehe... Jawaban itu seketika membuat optimisme kami meningkat.

Jujur dari dalam hati terdalam, aku ga mau menikah tanpa restu orang tua. Bayangan akan penolakan, takut kualat, dan takut ga didoakan sampai rumah-tanggaku nanti banyak batu sandungannya, sempat membuatku ragu. Tapi banyak pihak yang menguatkan aku, salah satunya Mas-ku itu, juga keluarga pacarku yang sepenuhnya bisa menerima aku dan mendoakan hubungan kami berlanjut sampai ke pernikahan. Jadi kalau kenyataannya orang tua menghalangi aku untuk bahagia, hanya karena masalah stereotype budaya di tengah zaman yang semakin modern dan terbuka, aku ga bisa pasrah gitu aja. Setiap manusia punya kehendak bebas! Itulah yang aku perjuangkan. Itulah yang kami berdua perjuangkan. Masa sih orang tua ga bahagia kalau anaknya bahagia? Kata pepatah, when you don’t care about other people feelings, no one will care about your feelings...
Jadi aku masih terus berdoa, pacarku juga, memohon jalan yang terbaik sesuai kehendakNya. Kami hendak mewujudkan mimpi bersama. Jika sebelumnya masih takut untuk melangkah, kini kami merasa yakin karena satu pintu dari gereja sudah terbuka. Welcome September, akhir-akhir ini kami semakin berani dan optimis menuju tahap krusial selanjutnya. It’s a new start for our future.

Jangan pernah kau merasa sendiri, jangan pernah kau berkecil hati
Hilangkan semua resah gelisah, tunjukkan pada dunia kau bisa!
Coba sejenak kau renungkan ini, langkahkan kaki dan mantapkan hati
Yakinlah semua kan baik saja, jadikan hidupmu lebih indah
Someday you’ll find out that you are brighter than a star
Just be strong
Just be brave
And be sure
Yes you can
Kaulah bintang hidupmu!
Lupakanlah semua yang lalu, kita sambut yang baru
Janganlah kau ragu ‘tuk maju, kejar semua impianmu
Hadapi semua rintangan, kuatkanlah tekadmu
Gapailah semua anganmu, yakinkanlah dirimu,
It’s a brand new day!
(Brand New Day ~~ Cherrybelle)

Kembali ke ceritanya temanku tadi. Aku berkomentar begini,
“Wah, kamu mesti kesaksian lho, kalau kamu udah berdoa dan doamu dikabulkan sama Tuhan.”
“Iya, aku cerita ke kamu ini kan juga kesaksianku. Tuhan sudah menjawab doaku dan aku harap Tuhan menjawab doamu juga. Aku doain kamu sukses dan diberkati Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Tetep semangat ya Arzy!”

Thanks to sahabatku, Mas Mahar Mardhana Putra, buat sharing dan inspirasinya yang boleh aku bagikan disini. Maaf kalau ada salah-salah kata, soalnya nulisnya ini berdasarkan ingatan aja sih, hehe... Aku tunggu undangannya ^o^/

Buat para pengejar mimpi dan harapan, jangan menyerah sebelum mencoba semua yang bisa dilakukan. Serahkan semua permasalahan dan kegelisahan hatimu pada Tuhan. Ketika kita angkat tangan, Tuhan akan turun tangan...        

Selasa, 27 Agustus 2013

Apakah Tuhan Selalu Menjawab "Tidak"?

Seringkali, setelah berdoa memohon kepada Tuhan, kita harus menunggu sampai terkabulnya permohonan itu. Berapa lama? Tidak ada yang tahu, semua ada dalam rencana-Nya. Jawaban Tuhan pun tidak semuanya ”Iya” alias sesuai dengan kehendak kita. Tentu kita harus bersyukur kalau semuanya dijadikan indah oleh-Nya, tapi bisa juga yang terjadi malah membuat kita sedih karena seolah-olah Tuhan berdiam diri, lalu muncullah pertanyaan, ”Apakah Tuhan tidak mendengar doaku?” Bahkan, lama-lama kita bisa membuat kesimpulan kalau Tuhan tidak berkenan mengabulkan permohonan kita. Jadi, apakah benar Tuhan menjawab ”Tidak”? Mengapa?
Contohnya seperti ini:

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyingkirkan masalah-masalahku. Tuhan menjawab: TIDAK. Itu bukan untuk KU-singkirkan, tapi agar kau MENGALAHKANNYA.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyembuhkan kecacatanku. Tuhan menjawab: TIDAK. Jiwa adalah yang sempurna, badan hanyalah sementara.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menghadiahiku KESABARAN. Tuhan menjawab: TIDAK. Kesabaran adalah HASIL DARI KESULITAN. Itu tidak dihadiahkan, tapi harus dipelajari.

Aku meminta Tuhan untuk memberiku BERKAT. Tuhan menjawab: TIDAK. Aku memberimu RASA SYUKUR, agar hidupmu tak  pernah kekurangan.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menjauhkan PENDERITAAN. Tuhan menjawab: TIDAK. Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian dari duniawi dan membawamu mendekat kepadaKU.

Aku meminta kepada Tuhan untuk MENUMBUHKAN IMANKU. Tuhan menjawab TIDAK. Engkau harus menumbuhkannya sendiri, tapi Aku akan memangkas untuk membuatmu berbuah lebih cepat.

Aku meminta kepada Tuhan SEGALA HAL agar aku dapat menikmati HIDUP. Tuhan menjawab: TIDAK. Aku memberimu hidup supaya kau dapat menikmati segala hal.

Aku meminta Tuhan membantuku agar dapat mengasihi orang lain seperti IA mengasihiku. Tuhan tersenyum dan menjawab: Aaahh... Akhirnya kau mengerti juga...


Sesungguhnya, ada alasan dibalik setiap rencana yang dibuat Tuhan dalam kehidupan kita.
All we have to do is just believe in HIM...
Jadi, jangan ragu memercayakan masa depan kita yang tak pasti, hanya kepada Tuhan yang pasti.
Thank you Lord, YOU are so amazing!


~dikutip dari berbagai sumber~

Jumat, 23 Agustus 2013

Kecelakaan Menjadi Pengubah Semangat

Wolaa... Senang rasanya bisa nulis lagi. Setelah ada kejadian luar biasa dalam hidupku, yang membuatku vakum nulis selama lebih dari 3 bulan ini.
Semuanya berawal dari siang itu, hari Senin tanggal 29 April 2013. Jam 12-an, seperti biasa aku keluar kantor mau makan siang. Lagi santai-santainya mengendarai si motor, baru sekitar 5 menit jalan, tiba-tiba aku ga sadarkan diri. Ternyata, aku kecelakaan, ditabrak dari belakang oleh pengendara motor lain!

Saking kerasnya tabrakan, aku jatuh dan langsung pingsan di tempat. Menurut cerita orang-orang, aku segera ditolong lalu dilarikan ke rumah sakit terdekat, RSI Jemursari. Dahi benjol, telinga dan hidung keluar darah, serta ketidaksadaran itu membuat pihak rumah sakit memutuskan untuk CT-Scan.
Orang baik hati yang menolong aku segera menelpon Mamaku, pakai HP-ku. Karena Mamaku ada di Kediri, otomatis ga bisa langsung menemui aku. Jadi, Mamaku menelepon atasanku, Pak Henri. Begitu mendengar kabar itu, Pak Henri segera memberitahu rekanku, Mbak Tri, untuk mengurus semua keperluan di rumah sakit. Dengan bantuan beberapa teman juga, Pak Henri dan Mbak Tri mengunjungi aku di rumah sakit. Untungnya, hari itu pacarku sedang cuti, dan siang itu memang kami janjian untuk makan siang bareng. Begitu nelpon HP-ku dan yang menjawab orang lain, tahulah pacarku kalau aku kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit. Ia segera menuju rumah sakit.
                                    
Entah apa sebabnya, dari RSI Jemursari aku dirujuk ke RS St.Vincentius a Paulo (RKZ), dan langsung masuk ruang ICU. Kata orang-orang sih, aku sadar waktu dibawa ke RKZ dan bisa menjawab dengan benar waktu di-“tes” dengan pertanyaan: aku siapa? Ini siapa? Itu siapa?
Takutnya aku amnesia soalnya luka di kepala parah banget. Tapi kalau sekarang aku ditanya, “Kamu inget ga kejadian di RS waktu ditanya: ini siapa, itu siapa?” Jujur aku jawab: ga. Walaupun –katanya– aku melek, tapi kenyataannya aku antara sadar dan ga sadar.

Lima hari aku dirawat di ICU, dengan kondisi antara sadar dan ga sadar itu. Kadang kalau melek aku berpikir, ini dimana? Kenapa aku disini? Lalu aku pikir itu hanya mimpi. Tidur lagi. Tapi pas bangun lagi, kok aku masih disini? Ini dimana sih?
Aku juga bisa melihat siapa saja yang ada disana: pacarku, Mamaku, Papaku, bosku, beberapa temanku... Tapi aku heran, kenapa mereka ada di sini?
Lama-lama aku tahu  kalau aku di rumah sakit.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan di RSI Jemursari dan RKZ, kata dokter aku mengalami pendarahan otak, gegar otak ringan, dan patah tulang selangka bagian kiri. Padahal waktu itu aku pakai helm SNI, di-klik, dan waktu jatuh –kata saksi mata– posisi helm masih melekat di kepala. Tapi bisa jadi pendarahan parah di otak gitu.
Sementara si penabrak? Cuma luka-luka ringan di kaki-tangannya.
Hadeh....
Aku baru benar-benar sadar kalau lagi di rumah sakit pada hari keenam, setelah dipindahkan dari ICU ke kamar rawat biasa. Saat itu pula aku diberi tahu kalau aku kecelakaan dengan kronologis begini:

Di jalan raya Jemursari, tepatnya di depan ruko yang ada Bank Ganesha (ruko apa sih itu namanya?) ada jembatan kecil yang menghubungkan antara 2 jalur jalan (karena 2 jalur jalan dipisahkan oleh sungai kecil). Dari arah kantorku, aku harus menyeberang jembatan itu untuk menuju ruas jalan sebaliknya. Setelah sukses menyeberang jembatan, aku harus menunggu kendaraan dari arah sebaliknya sedikit lengang, baru aku melaju, karena aku harus segera mengambil jalur kiri.
Nah, setelah arus kendaraan ga terlalu ramai, aku segera melaju dan mengambil jalur kiri. Aku sudah merasa benar ada di kiri. Pada saat itulah, motor CBR yang dikendarai orang itu menabrak aku dari belakang. Honda Beat vs Honda CBR, terpental-lah aku.
Menurut keterangan si penabrak, aku memotong jalannya dan ga menyalakan lampu sign kiri. Padahal aku yakin betul kalau aku sudah berada di jalur kiri, jadi buat apa menyalakan lampu sign kiri lagi?? Tapi si penabrak juga mengakui kalau dia lagi ngebut. Menurut beberapa saksi mata, kedua pihak sama-sama salahnya, aku terlalu cepat pindah jalur ke kiri, sedangkan si penabrak ngebut saat berada di jalur kiri.

Berada di rumah sakit merupakan masa dimana terbatasnya segala gerak tubuhku. Kepalaku pusing banget tiada henti, badanku sakit semua. Kondisiku benar-benar dipantau oleh dokter dan perawat. Tapi aku bersyukur ada simpati datang silih berganti, dari keluarga, teman-temanku, juga teman-teman Papa-Mamaku. Mereka menjenguk dan memberi kekuatan tersendiri buatku.

Untuk merawat tulangku yang patah, dokter memberikan 2 alternatif: pertama, dioperasi, yaitu dipasang plat dengan resiko nantinya harus operasi lagi untuk mengambil plat itu, atau yang kedua: ga dioperasi, tapi dipasang ransel ban untuk menyokong posisi tulang dan otomatis penyembuhannya jadi lebih lama. Opsi kedua muncul karena usia yang masih muda, jadi tubuh bisa membentuk jaringan  seperti “lem”-nya dan lama-lama tulang bisa nyambung sendiri. Setelah diskusi, Mamaku mengambil kesimpulan ga usah dioperasi. Pertimbangannya, kepalaku masih pusing-pusing terus, kalau operasi nanti menambah rasa sakitnya.
Setelah itu, barulah dokter tulang itu mengambil tindakan dengan memasangkan ransel ban di bahuku.

Sepuluh hari aku dirawat di rumah sakit. Selama itu pula aku ga merasakan hasrat untuk buang air, karena dipasang kateter. Hari kedelapan, aku diberi obat pencahar supaya bisa BAB. Bayangkan, 8 hari ga BAB blas! Hahaha...
Akhirnya, tanggal 8 Mei 2013 jam 3 sore, aku diperbolehkan keluar dari rumah sakit, lalu langsung menuju ke rumah di Kediri. Perawatan dilanjutkan di rumah. Aku harus totally bed rest! Rasanya luar biasa. Kepala masih pusing-pusing, tangan ga bisa gerak, makan-minum harus disuapi, mandi dimandiin, minum obat terus...

Dalam sehari, aku harus minum sekitar 6 macam obat, mulai dari obat saraf, obat tulang, obat sakit kepala, dsb. Ada yg minumnya 1x sehari, 2x sehari, atau 3x sehari. Totalnya sekitar 12 butir obat yang kutelan! Belum lagi ada obat tetes telinga dari dokter THT untuk menyembuhkan infeksi di telinga (karena sebelumnya sempat berdarah), juga obat Cina yang sudah terkenal sebagai obatnya saraf dan otak: Ankung. Asupan makanan juga harus dijaga. Pantangannya sih cuma makanan-minuman yang dingin-dingin, soalnya kan membuat tulang ngilu. Setiap hari aku minum susu high calcium, lalu sering diberi makan sup ceker ayam atau sup sumsum. Padahal aku ga suka ceker ayam! Tapi katanya ceker ayam dan sumsum itu mengandung kalsium yang cepat menyembuhkan dan memperkuat tulangku. Yaudah dimakan aja... Semuanya dilakukan demi cepat sembuh...

Selain minum obat, untuk membantu penyembuhan, aku juga mencoba pengobatan alternatif: sangkal putung. Terapisnya bisa dipanggil ke rumah. Seminggu 2-3 kali, aku diterapi dan lama-lama mulai merasakan perubahan berarti. Tangan yang semula kaku sudah bisa digerakkan sedikit-sedikit. Walaupun gitu, aku tetap pakai ransel ban dari dokter untuk mencegah tangan banyak bergerak yang bisa mempengaruhi posisi tulang.
  
Aku juga rutin kontrol ke dokter. Karena penyakitnya kompleks, aku sampai punya kartu member dari banyak dokter, seperti dokter tulang, dokter saraf, dokter THT, dsb, hehehe... Sebulan sekali, aku juga ke RKZ Surabaya untuk kontrol ke Dokter Joni (dokter bedah saraf) dan Dokter Stephanus (dokter tulang) yang menangani aku dulu.
Terapi sangkal putung terus dilanjutkan, minum obat secara teratur, ditambah dengan doa dan keyakinan akan sembuh, puji Tuhan keadaanku berangsur-angsur pulih. Kepala sudah ga sering pusing-pusing, badan yang terasa sakit mulai membaik, tangan yang kaku mulai bisa digerakkan lebih fleksibel.

Hampir satu bulan penuh bed rest, aku mulai bosan di rumah terus. Rasanya kangen kerja lagi, apalagi berat badan mulai bertambah. Iya lah, soalnya makan-tidur terus ga melakukan apa-apa. Baru kali ini sakit tapi tambah gemuk. Hehehe...
Menurut pemeriksaan dokter, yang dibuktikan dengan foto ronsen tanggal 20 Mei, kondisi tulangku sudah mulai terlihat nyambung, cuma belum kuat. Jadi tetap harus rutin minum obat, istirahat, ga boleh capek-capek dan mengangkat benda yang berat. Tapi dibalik sembuhnya pusing-pusing dan membaiknya kondisi tulang, ternyata penyakit lain muncul!

Mata.
Akhir bulan Mei, aku merasakan kondisi aneh terjadi di mataku. Waktu melihat, seolah muncul bayangan di samping objek aslinya. Mataku jadi ga fokus, semuanya terlihat kabur, bayang-bayang itu sangat mengganggu! Waduh, kenapa lagi ini?
Akhirnya tambah lagi satu kartu member dokter, yaitu dokter mata. Setelah diperiksa dan diberi tahu kalau baru kecelakaan, dokter mata yang sudah bergelar Profesor itu mengambil kesimpulan kalau gangguan pengelihatanku itu muncul karena adanya kerusakan saraf di kepala, yang berdampak bagi saraf mata pula. Jadi sarannya, sembuhkan dulu saraf yang ada di kepala. “Kalau dokter saraf menyatakan sarafnya sudah sembuh tapi matamu masih belum normal, baru saya bisa memberi tindakan pada mata,” begitu katanya.
Si dokter menyarankan latihan gerak bola mata ke kiri-kanan berulang-ulang, seperti penari Bali gitu. Haha... Dia juga meresepkan vitamin yang harus diteteskan di mata.

Atas saran dokter mata, aku kembali ke Dokter Joni di RKZ Surabaya. Diperiksa olehnya, Dokter Joni menjelaskan kalau saraf memang lama sembuhnya. Ibaratnya, sarafku ini lagi memar, soalnya baru terbentur. Tapi lama-lama bisa sembuh sendiri, dan mataku juga akan normal  kembali. Kemudian Dokter Joni meresepkan obat lagi.
Dua minggu berlalu, aku kembali ke dokter mata karena masih belum merasa perubahan berarti. Jawaban si dokter masih sama, “Dokter saraf bilang sarafnya sudah sembuh belum?”
“Belum, Dok. Katanya memang agak lama.”
“Yaudah, kamu tunggu aja sampai sembuh. Kamu latihan terus lirik kiri-kanan gitu. Ini lama-lama bisa sembuh sendiri kok. Saya sih bisa aja operasi kamu, membetulkan supaya ga muncul bayang-bayangnya lagi, tapi nanti kalau sarafnya sudah sembuh, trus malah matamu jadi ga fokus lagi, gimana?”
Oooh... Begitu ya... Aku manggut-manggut.
Berbekal keyakinan akan sembuh, aku teruskan pengobatan di dokter saraf.

Kondisi mata kabur itu aku alami selama lebih dari 2 minggu. Ternyata memang benar, mata adalah jendela dunia (eh, itu mata atau buku ya?)
Ga nyaman, ga bisa melihat dengan jelas. Ga boleh kelamaan nonton TV, ga boleh kelamaan lihat HP, karena fokus mataku ga boleh di satu tempat. Makanya mataku dilatih jadi kayak penari Bali.
Suatu hari aku menemukan satu pola, bahwa kalau mata ditutup satu, bayangannya berkurang dan lebih bisa fokus. Akhirnya supaya bisa melihat dengan lebih nyaman, aku dibuatkan tutup mata satu seperti bajak laut gitu! Hehehe... Tiap hari gantian, kadang mata kiri yang ditutup, besoknya mata kanan, begitu seterusnya.

Tuhan memang baik. Eh, suatu hari tiba-tiba mataku jadi bisa melihat dengan jelas lagi! *cling-cling-cling, mata berbinar-binar*
Pengelihatanku sudah kembali normal, bayang-bayangnya sudah ga ada. Semuanya jadi terlihat indah lagi. Terima kasih, Tuhan! Betul kata si dokter. Ga rugi Anda bergelar Profesor, hehehe ^_^Y
Mata sudah sembuh, saatnya kembali ke dokter saraf. Dokter Joni cuma mengajukan pertanyaan sederhana, “Masih pusing-pusing ga?”
“Udah ga, Dok.”
“Ada keluhan apa lagi?”
“Hmmm... Ga ada sih, Dok. Cuma tangannya ini yang masih sakit, tapi sudah bisa digerakin sedikit.”
“Yaudah, berarti sarafnya sudah sembuh. Kalau tulangnya memang perlu waktu  penyembuhan lebih lama. Obatnya masih ada?”
“Udah tinggal sedikit.”
“Ga usah diresepkan obat lagi, ya. Tinggal kontrol ke Dokter Stephanus. Kalau Dokter Stephanus sudah mbolehin masuk kerja, ya masuk kerja aja.”
“Oke, Dok.”
Karena Dokter Joni sudah menyatakan sarafnya sembuh, aku periksa ke Dokter Stephanus. Jawaban Dokter Stephanus juga sederhana, “Supaya tulangnya nyambung dengan kuat memang perlu waktu lama. Sementara 3 bulan ini jangan nyetir motor atau mobil dulu. Tunggu sampai bener-bener sembuh. Tangannya ini dilatih lurus ke atas, tapi jangan tinggi-tinggi ngangkatnya. Stop sampai 90 derajat sikunya gini. Nanti bertahap, latihan ngangkat tangan lurus ke atas. Trus jangan ngangkat yang berat-berat juga. Jangan makan-minum yang dingin-dingin.”
“Sudah boleh masuk kerja lagi belum, Dok?”
“Ya kalau kamu sudah merasa fit, ga pa-pa masuk. Asal tetep dijaga tangannya...”

Hore! Para dokter sudah menyatakan sembuh, walaupun belum 100%. Aku pun bersiap untuk masuk kerja lagi. Karena aku belum boleh nyetir motor sendiri, sementara kostku jaraknya 4 kilometer dari kantor dan ga dilewati kendaraan umum, mau ga mau aku harus pindah kost yang lebih dekat, supaya bisa jalan kaki atau naik angkutan umum.
Proses pindah kost memakan waktu yang cukup lama, juga penuh dengan emosi.
Dengan dibantu Mama dan Tanteku, kami mencari kost yang dekat dengan kantor. Pertimbangan lokasi, kelayakan dan kenyamanan kondisi kost, juga harganya, membuatku berpikir sangat keras untuk mengambil satu diantara beberapa tempat yang lolos seleksi. Setelah diputuskan salah satu kost, mulailah proses pindahan dari kost lama. Sedih banget rasanya... Aku udah menghuni kost di Jalan Kutisari itu selama lebih dari 4 tahun. Teman-temannya baik, kondisi dan lingkungan kostnya juga lumayan, lagipula harganya murah, karena masih ikut harga tahun 2009 dan baru naik 1x, selama 4 tahun cuma naik 100 ribu! Kost baru di Jalan Jemur Andayani ini juga ada plus-minusnya. Jadi ya dinikmati aja tempat baru ini.

Aku masuk kerja lagi tanggal 19 Juni, setelah 51 hari istirahat. Wow, rasanya gimanaaa getu! Seperti anak baru lagi. Puji Tuhan, kondisi sudah lumayan fit, teman-teman di kantor menyambut dengan kepedulian. Reaksi pertama dari teman-teman adalah, “Mbak Arzy! Sudah sembuh? Kok tambah ndut, tambah chubby pipinya!”
Hadeh, terima kasih ya teman-teman... :P
Sampai sekarang, puji Tuhan aku sudah bisa bekerja seperti dulu. Pipi sudah ga se-chubby dulu, berat badan yang sempat kelebihan 2 kilo sekarang sudah normal. Hehehe...
Tulang yang patah memang belum benar-benar sembuh, satu bulan sekali aku masih harus kontrol ke Dokter Stephanus untuk ronsen, masih terasa sedikit sakit kalau diangkat lurus ke atas, jadi masih minum obat / vitamin untuk tulang itu.

Dari peristiwa kecelakaan sampai sakit itu, aku mensyukuri satu hal: harta paling berharga di dunia ini adalah kesehatan. Kalau sudah sakit gitu, penyembuhannya lama, mengeluarkan banyak biaya (walaupun ditanggung oleh kantor), ga bisa ngapa-ngapain, dan yang paling berpengaruh: amat sangat bosan. Ditambah lagi, waktu bed rest itu aku melewatkan banyak film keren di bioskop, seperti Iron Man dan Too Fast Too Furious 6... Hiks.. (beli DVD-nya aja)

Yah, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Kadang aku berpikir, kenapa aku harus kecelakaan? Apa Tuhan ga menjaga aku? Kalau ga kecelakaan, pasti aku ga harus pindah kost, pasti aku bisa ini-itu... Tapi akhirnya aku tahu,

Apa yang kau alami kini, mungkin tak dapat engkau mengerti
Cobaan yang engkau alami tak melebihi kekuatanmu...
Tuhanmu tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti
Satu hal, tanamkan di hati: indah semua yang Tuhan beri...
Tangan Tuhan sedang merenda suatu karya yang agung mulia
Saatnya kan tiba nanti, kau lihat pelangi kasihNya!
(Pelangi Kasih ~~ Maria Shandi)

Jadi disyukuri aja. Harus tetap semangat! Orang yang bahagia itu bukanlah orang yang mempunyai segala hal, tapi adalah orang yang mampu bersyukur akan segala hal...




Kamis, 04 April 2013

Berburu Vintage Fashion

Tren mode dunia selalu eksis setiap hari. Munculnya para desainer muda berbakat membuat dunia fashion tak pernah berhenti menampilkan karya-karya baru yang menjadi referensi untuk tampil gaya. Bahkan, negara-negara kiblat mode seringkali mengeluarkan kreasinya sesuai 4 musim: semi, panas, gugur, dan dingin. Di Asia, saat ini Korea menjadi sorotan karena kiprahnya yang cukup bagus di dunia entertain dan mode. Jadi, banyaknya pilihan membuat para pecinta fashion dapat menambah koleksi busananya. Tetapi, seiring perkembangannya, bukan berarti mode-mode keluaran lama menjadi usang dan tidak menarik lagi. Justru di beberapa kalangan, gaya klasik yang disebut vintage ini tetap digemari dan diburu keberadaannya.

Memakai pakaian model lama bukan berarti membuat penampilan jadi terkesan kuno. Walaupun sederhana, kesan elegan dan bergengsi tetap bisa didapatkan. Kuncinya, perlu padu-padan dengan item lain yang stylish, misalnya dengan mengenakan aksesori. Tas tangan, arloji, atau perhiasan dapat mengubah penampilan seseorang menjadi lebih menarik dan trendi.

Kini, pakaian bergaya vintage banyak ditemui di butik ataupun mall. Tapi walaupun terbilang model lama, bukan berarti harganya murah. Beberapa item malah lebih mahal dibandingkan dengan model terbaru karena desainnya yang langka atau unik. Nah, bagi Anda yang ingin mencari koleksi vintage namun tidak ingin merogoh kocek terlalu dalam, Anda dapat mempertimbangkan untuk mengunjungi pasar barang bekas.

Tidak hanya pakaian yang dijual di pasar barang bekas atau pasar loak. Beragam jenis aksesoris, tas, sepatu, jaket, topi, mantel, bahkan kosmetik ada disana. Kebanyakan barang yang dijual berasal dari Singapura, Korea, China, Jepang, dan Amerika Serikat. Beberapa barang pun bukan bekas dipakai orang, melainkan sisa impor. Walaupun memang barang bekas, Anda tak perlu khawatir soal kualitasnya. Asal jeli memilih, barang bermerek dunia dengan kualitas yang baik bisa didapatkan. Plus, kepuasaan saat mendapatkannya dengan harga murah. Misalnya kemeja dihargai mulai Rp 5000 sampai Rp 40 ribu, tas sekitar Rp 15 ribu sampai Rp 100 ribuan, jaket atau sepatu mulai Rp 50 ribu hingga ratusan ribu Rupiah, bahkan banyak pula baju dan kaos yang cuma Rp 1000! Tentu saja, untuk mendapatkan harga terbaik, tawar menawar dengan si penjual menjadi keharusan. Bukan tidak mungkin, dengan uang Rp 100 ribu, Anda bisa mendapatkan 4 potong baju vintage yang tetap chic saat dipakai.

Sayangnya, masih banyak orang yang gengsi berbelanja di pasar barang bekas, mungkin karena image “pasar” yang kotor, panas, dan tidak ingin berdesakan dengan pembeli lain. Padahal banyaknya barang unik dengan model yang tidak pasaran dan harga terjangkau menjadi daya tarik tempat ini. Tapi beberapa wanita yang senang berbelanja di pasar barang bekas mengungkapkan serunya ‘berburu’ pakaian di antara tumpukan yang ‘menggunung’ itu.

Nah, tertarik untuk mulai mengunjungi pasar barang bekas? Agar berbelanja disana terasa lebih nyaman, tipsnya adalah kenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman, juga sebaiknya tidak memakai perhiasan yang mencolok. Jangan ragu untuk mencari dan menggali lebih dalam, karena kita tak akan pernah tahu ada pakaian branded yang unik terselip diantara tumpukan-tumpukan tersebut. Jika sudah menemukan pakaian yang diinginkan, jangan terburu-buru membelinya. Pastikan dulu kualitasnya, apakah masih layak pakai atau ada yang cacat, barulah mulai tawar menawar dengan si penjual. Jika menemukan warna baju yang pudar, kotor, atau berlubang, mintalah si penjual menurunkan lagi harganya. Siapkan selalu uang nominal kecil dan recehan di dalam dompet, agar tak menyusahkan penjual karena harus memberikan uang kembalian terlalu banyak.

Pasar barang bekas biasanya buka mulai pukul 9 pagi sampai 6 malam. Jika tidak ingin berdesakan, datanglah pagi hari saat suasana belum ramai dan panas, atau sekalian sore hari saat hendak tutup untuk mendapatkan tambahan obral. Harga yang murah dan banyaknya pilihan bisa membuat kita semangat mengelilingi seluruh pasar, berbelanja kesana-kemari. Oleh sebab itu, bawalah tas sendiri untuk membungkus barang yang kita beli. Selain pertimbangan kepraktisan, juga untuk mengurangi pemakaian tas kresek. Hal yang terpenting adalah jangan lengah, selalu jaga tas dan barang belanjaan Anda agar terhindar dari copet-copet yang memanfaatkan situasi berdesakan di pasar.

Satu lagi alasan orang ragu membeli pakaian bekas adalah takut terkena penyakit kulit atau gatal-gatal. Memang benar, karena pakaian-pakaian tersebut didatangkan entah dari mana, sudah disimpan terlalu lama hingga jadi lembab, juga mungkin sudah dipakai oleh dua orang, tiga orang, bahkan lebih. Untuk mencegah penularan kuman, pastikan mencuci dahulu pakaian second tersebut segera setelah sampai di rumah. Gunakan air panas untuk merendamnya, tambahkan sabun antiseptik, lalu cuci dengan sabun seperti biasa. Saat mencuci, perhatikan bahan pakaian. Katun yang tipis dan bahan yang halus sebaiknya dicuci dengan tangan, sedangkan untuk coat atau bahan-bahan yang tebal dapat dicuci dengan mesin cuci. Jangan abaikan pula perawatan pakaian berbahan khusus seperti bulu-bulu agar bentuknya tidak berubah.

Barang bekas tidak sepenuhnya langsung dibuang dan kehilangan fungsinya. Bisa jadi, dengan keunikan bentuk dan dianggap bernilai seni tinggi, barang bekas tersebut banyak dicari orang dan berharga mahal. Begitu pula dalam hal pakaian. Dengan kembalinya tren mode 1980-an, vintage fashion membuat perbendaharaan mode dunia semakin kaya. Bagi para pencintanya, bukankah merupakan suatu kepuasan saat memakai pakaian yang terlihat berharga mahal, padahal aslinya didapat dengan harga murah di pasar barang bekas? Kini, membeli pakaian second merupakan salah satu alternatif bagi wanita yang ingin tampil modis tanpa membuat dompet jadi tipis.

So, ladies, sudah siap berburu vintage fashion? Beberapa pasar barang bekas yang terkenal adalah Pasar Senen dan Pasar Baru di Jakarta, Pasar Gedebage di Bandung, Pasar Gembong di Surabaya, dan Pasar Kodok di Tabanan, Bali. Tampillah beda dengan gaya vintage yang Anda dapat berdasarkan inspirasi dari sana.


~~Diambil dari berbagai sumber~~

Selasa, 12 Februari 2013

Beda Tapi Cinta



Itulah judul serial “Lolly Love” yang aku lihat di TransTV hari Minggu sore yang lalu. Dikisahkan sepasang sahabat bernama Lolly dan Aga yang sama-sama mempunyai hobi fotografi. Lolly mengajak Aga untuk hunting foto di kawasan yang terkenal kental akan budaya China. Aga langsung setuju dan antusias menyambut ajakan Lolly. Disana, Aga melihat seorang cewek Chinese berkulit putih, berambut panjang, dan manis sekali, sampai Aga dibuat terpesona olehnya. Beberapa hari, cewek itu menjadi objek foto Aga. Sampai akhirnya Lolly –yang ternyata kenal dengan cewek pujaan Aga itu– mengenalkan Aga pada Ling-Ling, anak dari pemilik komunitas barongsay di tempat tersebut.

Keinginan kuat Aga untuk dekat dengan Ling-Ling membuatnya mendaftar untuk ikut latihan barongsay. Pulang latihan, Aga mengajak Ling-Ling makan malam, dan mulai dari situlah kedekatan mereka menumbuhkan benih-benih cinta. Sang pelatih barongsay –seorang cowok muda yang tidak disebutkan namanya– rupanya cemburu melihat kedekatan Aga dan Ling-Ling. Saat latihan, beberapa kali ia menendang kaki Aga dengan dalih bahwa kuda-kuda yang dilakukan Aga salah dan kurang kuat. Aga tersungkur, tangan dan kakinya terluka. Ling-Ling segera menolong Aga mengobati luka-lukanya. Tidak suka melihat hal tersebut, sang pelatih menelepon orang tua Ling-Ling agar segera datang ke tempat latihan.

Aga makin terpesona oleh kebaikan hati Ling-Ling. Akhirnya ia mengutarakan perasaan cintanya. Alangkah bahagianya ia, karena ternyata Ling-Ling pun mengungkapkan rasa yang sama. Namun di tengah kebahagiaan tersebut, kedua orang tua Ling-Ling datang dan mereka sangat marah melihat anaknya bersama dengan seorang pemuda pribumi.
“Jangan dekati anak saya!” amuk Papanya Ling-Ling pada Aga.
“Tapi kenapa, Om?” tanya Aga kecewa.
“Karena kamu beda!” kemarahan Papa Ling-Ling tak terbendung dan segera mengajak Ling-Ling pulang.

Di rumahnya, kemarahan Papa Ling-Ling masih belum usai. Berulang kali ia menyampaikan ketidaksukaannya atas hubungan Ling-Ling dengan Aga yang berbeda latar belakang: RAS. Ling-Ling masih mempertahankan pendapatnya, “Perbedaan itu indah!” tegasnya.
Sang Papa begitu marah saat Ling-Ling membantah aturannya, sehingga ia menampar Ling-Ling. Hati Ling-Ling hancur, lalu ia berlari ke kamarnya.

Beberapa hari kemudian, kondisi kesehatan Ling-Ling menurun karena ia sangat sedih. Pandangan matanya kosong, dan ia tak mau makan sama sekali. Si Mama berulang kali membujuknya agar mau makan, begitu pula Lolly, ia datang menjenguk sahabatnya itu. Upaya mereka berdua tidak berhasil. Ling-Ling tetap seperti orang linglung. Pada Lolly, si Mama mengungkapkan kesedihannya atas kondisi Ling-Ling. Ia sangat stres dan terpukul, seolah-olah ikut merasakan kesedihan putrinya. Dari kejauhan, si Papa mendengar percakapan mereka berdua, lalu ia merenung. Akhirnya si Papa menelepon cowok muda pelatih barongsay itu dan memberikan sebuah perintah padanya.

Hari berikutnya, Lolly datang membujuk Ling-Ling agar mau ikut dengannya berjalan-jalan. Ling-Ling yang awalnya ogah-ogahan akhirnya mau ikut dengan Lolly. Mereka menyaksikan pertunjukan barongsay. Tiba-tiba salah satu barongsay mendekati Ling-Ling, lalu Aga muncul dari balik kostum itu. Ling-Ling sangat terkejut, sekaligus senang melihat Aga. Akhirnya Papa dan Mamanya juga muncul, lalu si Papa menyampaikan bahwa ia menyetujui hubungan Ling-Ling dengan Aga. Semua bahagia. Perbedaan itu tidak lagi menjadi masalah diantara mereka. Begitulah akhir cerita dari serial tersebut.

Tema itu dipilih oleh pihak televisi karena di hari Minggu lalu, semua warga keturunan Tionghoa merayakan Tahun Baru Cina atau Imlek. Sejak beberapa tahun lalu, waktu era pemerintahan almarhum Gus Dur, warga keturunan Tionghoa memperoleh kemerdekaan untuk berekspresi, merayakan tahun barunya, dan menampilkan seni kebudayaannya, bahkan tahun barunya ditetapkan sebagai hari libur nasional. Orang-orang keturunan Tionghoa sudah bukan warga yang dianggap ‘pendatang’ dan dikucilkan, mereka tidak perlu takut-takut atau diam-diam lagi saat melakukan ritual keagamaan atau budayanya. Semua warga negara Indonesia sama kedudukannya dan berhak memperoleh perlakuan yang sama pula.

Aku selalu suka cerita yang happy ending. Tapi lewat cerita “Lolly Love” kemarin, aku agak ganjil saat melihat mengapa begitu gampangnya keluarga Ling-Ling akhirnya menyetujui hubungan Ling-Ling dengan Aga? Padahal di dunia nyata, perbedaan itu sangat susah ditoleransi. Ya, karena aku merasakannya sendiri.
Tidak ada seorang pun yang bisa memilih keadaan seperti apa ia hendak dilahirkan. Misalnya aku minta orang tua si A karena mereka kaya, atau orang tua si B aja karena mereka orang terkenal, tentu ga mungkin seperti itu. Aku dilahirkan dari keluarga keturunan Tionghoa, bukan di negara China lho, tapi di Indonesia. Besar di Indonesia, bergaul dengan orang-orang Indonesia, aku warga negara Indonesia, dan aku sangat cinta Indonesia!
Memang sih, aku belum pernah merasakan peristiwa rasis yang sangat kentara, seperti yang dialami oleh orang-orang terdahulu. Tapi peristiwa rasis terjadi padaku persis seperti yang dialami oleh Ling-Ling dan Aga di serial televisi itu.

Tiba-tiba cinta datang kepadaku...
Saat ku mulai mencari cinta...

Aku ga menyangka kalau aku bisa suka kepadanya. Pasanganku yang sekarang bukan orang keturunan Tionghoa sepertiku. Tapi siapa yang bisa menolak datangnya cinta? Saat dia bilang suka dan memintaku jadi pacarnya, aku berpikir sangat keras, karena aku tahu perbedaan itu bukanlah hal yang mudah untuk dijembatani. Bayangan penolakan dari keluargaku pun udah jelas di pikiranku. Tapi akhirnya aku memilih jalan ini, aku ga mau membohongi perasaanku dan jadi tersiksa karenanya. Dari awal dia pun tahu, kalau hubungan kami yang berbeda ras ini akan sulit dilalui. Dia mengambil pilihan untuk mengungkapkan perasaannya padaku, walaupun “Aku tahu kemungkinannya lebih besar ditolak daripada diterima,” katanya mengenang tindakan beraninya waktu itu.

Hubungan ini bukan coba-coba. Awalnya memang sulit, kami mengalami banyak perbedaan prinsip. Tapi justru dari perbedaan itu, aku belajar banyak hal darinya. Kami saling memahami pola pikir masing-masing, juga perilaku dan kebiasaan, yang tentunya dibawa dari pengalaman masa lalu dan didikan dari keluarga. Lama-lama aku menyadari bahwa seperti kata Ling-Ling: perbedaan itu indah. Benar! Hubungan kami cocok-cocok aja, malah jadi lebih berwarna karena kami saling menyesuaikan diri untuk hidup secara lebih universal, tidak menonjolkan salah satu budaya tertentu.

Sudah diduga, hubungan pacaranku sangat ditentang oleh orang tuaku. Macam-macam alasan dikemukakan. Terutama menurut mereka, karena perbedaan ras tersebut adalah hal yang mendasar. Padahal menurutku, perbedaan mendasar itu adalah keyakinan atau agama. Kalau aku dan dia sudah seagama, apa masalahnya? Aku bukannya ga setuju dengan alasan-alasan yang mereka ungkapkan, tapi yang membuat aku ga setuju adalah kenapa perbedaan itu menimbulkan anggapan bahwa ras dan budayanya sendiri lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan ras dan budaya lain? Waktu sekolah dulu kan selalu diajari Bhinneka Tunggal Ika, tapi mengapa praktek rasis masih terjadi di tengah dunia yang terus menyerukan agar sesama manusia hidup berdampingan dengan rukun dan damai...

Tuhan memang satu, kita yang tak sama...
Haruskah aku lantas pergi meski cinta tak kan bisa pergi....
Bukankah cinta anugerah, berikan aku kesempatan....

Sudah lama aku memperjuangkan cinta kami agar mendapat restu dari keluargaku, tentunya ga cuma sehari-dua hari restu itu datang dengan mudah seperti kisah Ling-Ling dan Aga. Selama itu pula kami saling memberi dukungan dan banyak berdiskusi, langkah apa yang harus kami tempuh, apakah harus bertahan atau ga diteruskan. Mungkin banyak orang akan mundur, ketika hubungan cintanya mendapat tentangan dari orang tua. Alasannya karena ga mau menyakiti perasaan mereka, atau ga mau dicap sebagai anak durhaka yang ga berbakti dan ga tahu berterima kasih. Tapi kami belum mau menyerah untuk berjuang, walaupun harus melewati 99 rintangan dan 77 cobaan sekalipun. Cinta itu ga salah kok, yang “salah” menurut pandangan orang adalah karena stereotype yang diciptakan oleh manusia itu sendiri, yang masih membentuk sekat-sekat kaku sehingga membatasi pembauran dan percampuran antarkebudayaan.

Hei, ini Indonesia! Kita berbagi tanah, air, dan udara yang sama. Kita hidup di Indonesia, negara seribu satu pulau yang kaya budaya; bukan di negara China, negara Jawa, negara Sunda, atau negara-negara seperti itu! Perbedaan itu indah, dan buktinya sudah banyak kok pasangan berbeda ras yang menikah dan hidup bahagia. Perbedaan budaya itu bukanlah hal yang harus diubah, tidak harus dipaksakan supaya jadi cocok, tapi harus diterima dan ditoleransi keberadaannya.
Memang ga semua orang sudah berpikiran terbuka seperti ini dan masih memegang teguh tradisi keluarga yang menentang hubungan berbeda ras. Perasaan takut ga akan diterima lagi oleh keluarga, malu, ga dapat menyesuaikan diri dengan keluarga pasangan, atau bahkan bingung nantinya harus mengikuti budaya yang mana kerap dirasakan oleh pasangan tersebut. Tapi kalau aku dan pacarku sih sudah berpikiran terbuka: bukan Jawa, bukan China, tapi kami Indonesia!

Aku senang melihat cerita antara Ling-Ling dan Aga itu, berharap pula suatu saat nanti hubunganku berakhir happy ending direstui oleh keluarga. Tapi sekaligus aku sedih kenapa jalan yang harus kami tempuh ga semudah restu atas kisah kasih mereka. Huhuhu.....T_T Aku ga menyesal dengan pilihanku sekarang, tapi masa iya aku harus mogok makan dulu seperti Ling-Ling supaya bisa mendapat restu orang tua???

Walaupun cuma film, tapi tema cerita itu memotret keadaan Indonesia yang mulanya menganggap perbedaan merupakan masalah besar, kini berubah menjadi semakin terbuka dan menerima keberagaman. Berbagai kisah serupa juga diangkat ke layar lebar seperti film “? (Tanda Tanya)” yang menampilkan banyak tokoh dengan kompleksnya perbedaan di antara mereka, “CIN(T)A” dan “3 Hati 2 Dunia 1 Cinta” yang menceritakan cinta sepasang pria dan wanita yang bukan hanya berbeda ras, tapi juga berbeda agama.

Banyak pihak telah membuat film dan cerita tentang perbedaan –tertama perbedaan ras dan agama– yang mulanya merupakan isu sensitif menjadi media untuk mempersatukan. Pro dan kontra selalu menyertai dibuatnya kisah-kisah itu, seperti halnya di dunia nyata. Tapi aku yakin, berpegang pada prinsip “semua orang tua pasti ingin anaknya bahagia”, setiap pribadi tentu berhak memperjuangkan kebahagiaannya sendiri dan bertanggung jawab terhadap hal itu. Jadi aku akan terus berjuang dan berdoa untuk STOP RACISM! Karena semua manusia sama derajatnya di hadapan Tuhan. Tuhan tidak mengajari umatNya untuk menciptakan golongan-golongan sendiri, tapi Tuhan mengajarkan cinta kasih dan perdamaian untuk semua manusia.

Akhir kata, mengutip salah satu dialog dalam film CIN(T)A yang sangat aku suka:
Mengapa Tuhan menciptakan kita beda-beda, padahal Dia cuma ingin disembah dengan satu cara?
Makanya Tuhan menciptakan cinta, supaya yang beda-beda bisa nyatu....

Senin, 28 Januari 2013

Persiapan Menghadapi Anak Kritis: Menulis



Seorang wanita- khususnya seorang ibu- dituntut untuk bisa cakap dalam urusan rumah tangga. Semua cinta, perhatian, dan fokus utama ada pada keluarga. Demikian besarnya peran seorang wanita di rumah sehingga seringkali wanita harus mampu melakukan berbagai hal sekaligus (multitasking) dalam mengurus suami dan anaknya.

Kadangkala, ketakutan terbesar seorang ibu adalah tidak bisa mendidik anak dengan baik. Di tengah gempuran modernisasi dan arus perubahan zaman yang sangat cepat saat ini, banyak ibu yang mengeluhkan kelakuan anak-anak sekarang yang beda banget dengan waktu seumurannya dulu.Ya jelas lah, anak-anak yang lahir setelah tahun 2001  disebut ”Generasi Z” atau Generasi Digital atau Generasi Millenium, yang tentu kita tahu lingkungannya sudah berbeda dengan zaman kita yang disebut Generasi Y atau X. Jadi, pastinya anak-anak sekarang memerlukan penanganan berbeda dan ibu tidak bisa serta merta menerapkan hal yang dahulu diajarkan orang tua kepada anak, misalnya ”Nenek dulu mengajari Mama seperti ini, jadi kamu juga harus nurut apa kata Mama”. Oh, bisa-bisa nanti anak jadi membangkang karena melakukan hal yang tidak disukai atau tidak pas di hatinya.

Tapi ibu ga perlu khawatir lagi bagaimana menanangani anak sekarang, khususnya dalam hal rasa ingin tahunya yang sangat tinggi (kritis). Ternyata aku menemukan artikel menarik yang menjelaskan salah satu cara cerdas menangani mereka, yaitu dengan aktif menulis dan membaca. Begini liputannya:

Ibu yang suka menulis merupakan salah satu tanda ibu yang suka membaca. Meski ada juga kemungkinan ibu yang suka menulis namun jarang membaca. Ibu yang suka membaca menjadi gudang ilmu bagi anaknya. Ibarat sekolah sebagai pusat belajar bagi anak mengenai banyak hal, maka ibu adalah guru yang mengajarkan banyak ilmu. Karena itu, ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya di mana seharusnya anak mendapatkan lebih banyak ilmu di awal mereka belajar.

Ibu yang suka menulis sekaligus hobi membaca dapat menjadi tempat menumpahkan dahaga anak yang serba ingin tahu. Bayangkan bila di tengah dahaganya, anak yang sedang kritis, mereka tidak mendapatkan pencerahan atau tidak mendapatkan apa yang ingin diketahuinya. Apa yang akan terjadi? Ada dua hal:

Pertama, anak akan bosan bertanya pada sang Bunda karena selalu mendapatkan jawaban, "Eeeeeeemmmm" dengan kening mengerut atau "Bunda tidak tahu". Ketika pertanyaan anak tak terjawab, maka keingintahuannya melemah. Anak akan malas bertanya lagi pada ibunya. Akhirnya mengubah haluan bertanya pada dirinya sendiri, bukan lagi pada ibu.

Kedua, anak mulai mencari tahu dengan caranya sendiri. Ini bisa dilakukannya dengan membaca atau paling cepat bertanya pada temannya. Nah, bagaimana bila temannya sama-sama tidak tahu? Tentu anak akan bingung. Lalu bagaimana jika temannya sok tahu dan memberikan jawaban salah? Anak akan menjadi salah mengartikan. Mereka mendapatkan jawaban yang salah sehingga akhirnya menghasilkan persepsi yang juga salah. Hal inilah yang kerap terjadi di dunia anak.
Anak Mau Tahu dan Ibu Serba Tahu
Kebiasaan menulis dan membaca seorang ibu akan membuat anak terbiasa dengan pemandangan keseharian ibu yang positif. Apa yang ibu baca akan memunculkan keingintahuan anak, "Ibu sedang baca apa?" Lantas ibu akan menerangkan dengan cara yang menarik.
Jadi, aktivitas ibu suka menulis bukan hanya menumpahkan ilmu dan keingintahuan ibu sendiri akan sesuatu. Hal ini juga berdampak pada anak yang semakin kritis bertanya. Karena anak ibaratnya memeroleh gizi dari setiap jawaban yang diberikan ibu.

Semakin anak ingin tahu dan mulai bertanya ini-itu, ibu pun tak kalah serunya menjawab pertanyaan anak dengan cara yang menarik. Hubungan antara ibu dan anak menjadi interaktif dan terjadilah simbiosis mutualisme. Anak akan bertanya apa saja dan ibu juga akan menjawabnya dengan cara yang berkelas. Anak menjadi kritis! Anak yang kritis ini merupakan cerminan dari kritisnya sang ibu.

Meski ibu gudangnya ilmu, namun tak semua ilmu ibu ketahui. Pada ibu-ibu yang doyan nulis, ketika ada pertanyaan anak yang tidak diketahui jawabannya, ibu tidak mudah panik atau grogi, misalnya saat anak bertanya tentang seks. Ibu yang berwawasan akan menjawabnya lebih cerdas, misalnya, "Baiklah, kita cari sama-sama, yuk, jawabannya di buku atau di Google." Akhirnya, ibu dan anak pun akan belajar bersama mencari jawabannya.
Pola ini lebih baik dibandingkan ibu yang sok tahu dengan menjawab semua pertanyaan anak meski jawabannya salah. Hal ini tentu akan menyesatkan.

Ibu Kritis, Anak pun Kritis
Ibu yang tidak menulis bukan berarti anaknya menjadi tidak kritis. Anak tetap bisa menjadi kritis karena memang di usianya rasa ingin tahunya sangat melangit. Ibu yang tidak suka menulis tetap dapat membuat anaknya kritis jika ibu mampu menjawab apa pun pertanyaan anak.

Sekalipun pertanyaan-pertanyaan anak kelihatannya sepele atau terlalu sulit dijawab dan seringkali membuat ibu merasa jengkel. Misalnya, "Kenapa kalau siang itu terang?" atau "Darimana asalku?" Hal ini sebetulnya sesuai dengan teori psikologi perkembangan anak. Bisa dilihat dari se-kritis apa anak menyampaikan isi pikirannya melalui kata apa dan mengapa. Mereka sedang melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka bayangkan.

Adakalanya ketika anak mengajukan pertanyaan kritis, kerap kali kondisinya tak matching dengan orangtua. Misalnya, anak memberikan pertanyaan dengan kata mengapa, sementara kondisi ibu sedang lelah atau bosan sehabis mengurus rumah, sehingga bisa jadi ibu tidak tahu harus menjawabnya. Akibatnya, bukan jawaban yang diperoleh anak, melainkan anak mendapatkan luapan emosi sang ibu. Akhirnya, sikap kritis anak berubah haluan menjadi "pertanyaan yang menumpuk di kepala".

Jadi, dalam hal ini, untuk kritis harus ada dua orang, yaitu ibu dan anak, bukan hanya salah satu pihak saja. Anak harus memiliki tempat nyaman untuk bertanya dan ibu juga bisa nyaman berbagi ilmu yang ada dalam pikirannya. Anak yang kritis akhirnya akan bertemu ibu yang kritis. Inilah yang membuat anak akan terus terangsang mengembangkan sikap kritisnya didampingi sang ibu. Luar biasa, bukan?

(Tabloid Nakita/Indari Mastuti, penulis buku Mompreneur dan pendiri Komunitas Ibu Doyan Nulis)
 Sumber: Kompas.com

Nah, artikel ini sangat pas buatku yang juga senang nulis dan sedang bersiap menjadi seorang ibu, kira-kira dua tahun lagi, hehehe...
Menulis dan membaca memang memberi banyak manfaat. Senang rasanya kalau dari membaca dan menulis bisa tambah pengetahuan, sharing pengalaman, terlebih kalau tulisanku bisa menginspirasi dan disukai banyak orang. I love writing and reading very much!

Rabu, 23 Januari 2013

When You Stressed

Next time you’re stressed: take a step back, inhale, and laugh. Remember who you are and why you’re here. You’re never given anything in this world that you can’t handle. Be strong, be flexible, love yourself, and love others. Always remember, just keep moving forward.

There are so many things that you can do right now to make yourself better. From meditation, to spending time with family, to going and doing hobby that you really enjoy, almost anything that you do actively beside mope around, will help to change how you are feeling in this moment.

When we focus on stress, we empower failure and defeat in our lives. While if we focus on the good in each situation, and moving forward from the place we are emotionally, physically, or financially, we will eventually burst through the obstacles that inhibit us from progress in our lives.

Change the way you think when things start to go wrong in your life!
While some people continue to believe what they have believed their whole lives and never progress in life, some people are able to consciously decide what they really believe and keep looking for better, so that their lives may become better simultaneously.

You are a good soul, and God loves you.


~~My Life, My Attitude, My Rules~~