Tampilkan postingan dengan label Cinta dan Hobi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cinta dan Hobi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 September 2014

Emotional Day


Tuhan, hari ini emosional buatku...
Tapi aku tahu, Tuhan, bahwa aku harus ikhlas dan senantiasa mengucap syukur...
 
Aku sudah merasakannya sejak awal, September adalah bulan yang mengaduk perasaan, sehingga sebelumnya kutuangkan dalam tulisan ”Seharusnya 13 Hari Lagi”.
Hari ini, seharusnya hari terpenting dalam hidupku, dimana aku akan memulai hidup baru...
Hari ini, seharusnya aku menikah dengannya, sesuai cita-cita kami sejak beberapa tahun lalu...
Hari ini, seharusnya aku dan dia saling berhadapan di depan altar, mengucapkan janji setia hingga maut memisahkan...
Malam ini, seharusnya kami berdua berbagi bahagia bersama sahabat dan kerabat dalam sebuah pesta sederhana...
Mulai malam ini, seharusnya kami sudah bersama-sama seterusnya...
But it's not "My Best Day Ever" anymore...

Aku tidak menyalahkan segala sesuatu yang membuat rencana ini urung terwujud. Satu hal yang paling kupercaya dalam hidup ini adalah waktu Tuhan. IA bekerja dengan caraNya sendiri. Seringkali hal yang aku rencanakan tidak berhasil karena belum sesuai dengan waktuNya. Tuhan merancang waktu yang tepat, tidak terlalu awal, tidak pula terlambat. Aku hanya butuh bersabar dan terus menaruh harapan kepada Tuhan, maka hasilnya akan kelihatan, segalanya akan menjadi indah pada akhirnya...

Memang masih terasa sayaaang sekali hari ini harus batal...
Tapi hanya dengan bersyukur, aku bisa melaluinya. Justru dibalik kegagalan sekarang, Tuhan bisa memberikan yang lebih baik lagi.
Tetap semangat dan tidak pernah menyerah untuk memperjuangkannya! ^___^
  

Minggu, 07 September 2014

Seharusnya 13 Hari Lagi



Hari ini, 7 September 2014, merupakan hari yang membahagiakan bagi sahabatku, Mahar Mardhana Putra. Seperti yang sudah pernah aku tulis di blog sebelumnya “It’s Our New Start”, akhirnya perjalanan cinta itu mendapatkan hasil yang indah. Telah diresmikan sebagai pasangan suami-istri pada tanggal 23 Agustus lalu di Gereja Katolik Sakramen Maha Kudus Surabaya, hari ini Mahar dan Elisa melangsungkan resepsi pernikahannya. Sebagai sahabatnya, aku turut bahagia, sekaligus berdoa semoga kisahku juga happy ending sebagaimana milik mereka yang begitu menginspirasiku.

Bulan September…
Sebagian orang mengidentikkannya dengan “September Ceria”, sebuah lagu lawas milik penyanyi Vina Panduwinata. Lagu yang manis. Ya, aku pun sangat menyukai bulan September, bulan yang mempunyai sejuta makna, khususnya bagi kehidupan cinta.

Aku dan Vian jadian di bulan September, beberapa tahun yang lalu. Proses pacaran kami mengalami jalan yang berliku karena tidak disetujui oleh keluargaku. Walaupun begitu, kami berdua sangat serius dan telah merenda impian untuk melangkah ke jenjang berikutnya. Tanggal 20 September 2014 kami pilih sebagai tanggal dimana kami akan mengucapkan janji suci pernikahan di depan altar. ”My Best Day Ever!” aku sudah memasang reminder itu di kalenderku.

Seharusnya 13 hari lagi...
Benar, tanggal 20 September 2014 tinggal 13 hari lagi. Seharusnya aku antusias menyambutnya, tapi ternyata tidak. Memasuki bulan September ini, hatiku bukannya ceria, malah pedih sekali kalau mengingatnya... Apa yang terjadi membuatku harus sedikit bersabar mencapai kebahagiaan itu.
Januari lalu, Papiku dipanggil oleh Tuhan (blog: ”In Memoriam Papiku Tersayang") Hatiku hancur. Papi adalah orang yang menyetujui hubunganku dengan Vian. Papi adalah harapanku, di saat Mami dan kebanyakan saudara menolak keberadaan Vian sebagai pasanganku. Aku dan Vian tau bahwa kami tidak boleh mengandalkan Papi saja untuk menjadi perantara restu dari mereka untuk kami. Akhirnya kami memang harus berjuang sendiri. Tapi aku yakin dan percaya, ada tujuan Tuhan di balik setiap peristiwa. Papi sudah tenang disana bersama-Nya, sementara itu, aku dan Vian harus mempersiapkan diri lebih baik lagi.

Masih teringat jelas ketika aku dan Vian merancang tanggal 20 September 2014 sebagai hari bahagia. Sejak saat itu, pikiran kami fokus bagaimana membuat harapan itu menjadi nyata. Tapi justru ketika awal tahun ini tiba, yaitu awal tahun yang membuatku semangat untuk melakukan berbagai persiapan, segalanya berubah. Rencana yang telah lama kami idamkan itu buyar, tapi bukan berarti batal. Tak apa kebahagiaan kami tertunda, demi kebahagiaan Papi di surga. Harus ikhlas.

Re-schedule, itulah yang kami lakukan setelah kepergian Papi. Tahun depan, tetap di tanggal yang sama. Tentu saja di tanggal yang sama, karena kami suka sekali tanggal itu. Dua puluh September jika ditulis menggunakan angka menjadi 20-09, bisa diartikan sebagai tahun dimana kami bertemu. Jadi, 2009-2015, maknanya adalah tahun-tahun dimana kami berdua bersama, mulai dari bertemu hingga akhirnya menikah.

Ya sudahlah, sekali lagi: harus ikhlas. Tuhan akan mengganti dengan yang lebih indah nantinya. Walaupun pedih karena batal di tahun ini, setidaknya kami masih punya waktu. Banyak hal yang bisa didapat dan dipersiapkan ulang selama satu tahun ini. Beberapa hari lalu, Mamiku sempat bilang, ”Kalau Vian memang jodohmu, nanti ya pasti jadi.” Tuhan, aku seneng banget dengernya! Sepertinya tangan Tuhan mulai bekerja dalam hati Mami. Mungkin belum terlalu kelihatan, tapi mending karena Mami sudah mulai mengakui kalau jodoh pasti jadi, daripada ditentukan siapa yang akan jadi jodohku. Segala sesuatu yang layak diperjuangkan, termasuk perjuanganku bersama pasangan, akan diperhitungkan nantinya.
  
Kasih...
Kau singkap tirai kabut di hatiku
Kau isi harapan baru untuk menyongsong
harapan bersama 
September ceria.. September ceria..
September ceria.. September ceria..
Milik kita bersama...


Seharusnya 13 + 365 hari lagi... 
Ya Tuhan, kumohon, tahun depan jangan batal lagi, ya!!!

Rabu, 11 Juni 2014

Hawa Tak Berjodoh Dengan Adamnya



"Aku ga menyangka bisa bertemu dengannya lagi..."
Hari itu, 6 (enam) tahun yang lalu.

Suatu malam yang cerah, aku dan Mama pergi keluar rumah untuk makan malam. Kami menuju ke depot soto yang terkenal enak di salah satu jalan daerah padat pertokoan. Baru masuk, mataku menangkap seseorang yang sedang duduk menyantap sotonya. Aku kenal cowok itu. Kebetulan, dia juga langsung mengenali keberadaanku dan kami saling melambaikan tangan. Karena duduk agak jauh, kami ga saling ngobrol sampai akhirnya dia beserta keluarganya berdiri dan pamitan kepada kami, ”Duluan, ya!”
Aku kenal satu keluarga itu, mulai dari kedua orang tuanya, kakaknya, juga adiknya. Mamaku juga berteman baik dengan Mamanya. Ya, karena aku dan cowok itu adalah teman semasa kecil...
Ketika aku dan Mama sudah selesai makan dan keluar dari depot, kami mendapati satu keluarga itu masih berdiri ga jauh dari sana. Sepertinya mereka sedang menunggu sesuatu, entah apa. Tiba-tiba temanku itu menghampiri aku, ”Hai, Hawa!”
”Hai, Adam!”
Hahaha, kami tertawa bersama.
”Kamu kuliah dimana?” tanyanya.
Lalu terjadilah percakapan singkat diantara kami yang berujung dengan tukar nomor HP sebelum pulang ke rumah masing-masing.

Malam itu pula, aku dan dia SMS-an. Seru sekali karena kami lama ga bertemu. Namanya bukan Adam, tapi Harry. Kenapa dia kupanggil Adam, karena sebelumnya dia memanggilku Hawa! Haha... Jadi ceritanya kami dulu satu sekolah TK. Pada waktu drama Natal, aku mendapatkan peran sebagai Hawa dan dia sebagai Adam. Sejak saat itu, entah kenapa guru-guru kami sangat senang mencocokkan kami sebagai pasangan Adam dan Hawa. Setiap kali drama, bahkan sampai SD, kami selalu mendapatkan peran itu lagi. Oleh sebab itu, image sebagai Adam dan Hawa selalu lekat pada kami. Makanya kami ga canggung menyapa dengan sebutan itu.

Beberapa tahun ga bertemu dan berkomunikasi, tiba-tiba kami bertemu di kampung halaman sendiri. Dia kuliah di Kanada, sedangkan aku di Surabaya. Kami ngobrolin banyak hal mulai dari kegiatan sehari-hari, hobi, sampai curhat masalah pribadi.
Aku ingat betul dia sempat nanya begini, ”Arzy, kamu sudah ada cowok di Surabaya?”
”Belum. Kamu sendiri? Pasti banyak cewekmu, ya?”
”Haha, aku juga ga ada cewek, ga ada yang mau sama aku.”
Hahaha... Sama seperti yang kukenal, dia orang yang ramah dan menyenangkan...
Sayangnya, beberapa hari di Kediri, kami berdua ga sempat keluar bareng karena ketidakcocokan jadwal. Lalu aku harus kembali ke Surabaya dan itu sempat disayangkannya.
”Kok cepet  balik ke Surabayanya?”
”Iya, kan aku harus kuliah. Kamu kapan balik ke Kanada? Kabari ya!”
Untungnya, masih ada waktu beberapa hari sebelum dia kembali ke Kanada. Jadi kami masih sempat SMS-an seperti biasa, aku di Surabaya dan dia masih di Kediri.

Akhirnya waktu itu tiba. Sebelum kembali ke Kanada, dia memberitahu aku nomor HP yang dipakainya disana. Seneng sekali karena berarti aku bisa keep contact dengan dia. Pada hari keberangkatannya, aku sempat menyusulnya ke Bandara Juanda, maksud hati ingin mengantarnya. Tapi aku sedikit terlambat dan dia sudah masuk untuk check in. Aku sempat melihat dia lewat kaca. Mau manggil juga percuma, dia ga bakal dengar. Setelah check in, dia langsung masuk ke dalam ruang tunggu dan ga keluar lagi. Ingin rasanya bisa lari masuk dan menemui dia seperti adegan Cinta dan Rangga di film AADC, hahaha...
Apa boleh buat, ga ada kesempatan itu. Aku belum mengucapkan selamat jalan padanya. Tapi rupanya Mamanya melihat aku disana, lalu ia berbaik hati menelepon si Adam supaya mau keluar lagi menemui aku. Sayangnya dia sudah ga bisa ditelepon dan aku pun hanya mengucapkan terima kasih pada mereka yang sudah membantu. Aku ga tau, apakah kemudian keluarganya memberi tahu dia kalau aku menemuinya di Juanda itu...

Berapa lama perjalanan dari Indonesia ke Kanada? Setauku hampir 24 jam. Lewat dari jam itu, ga ada kabar apa-apa dari dia. Jadi aku berinisiatif SMS dia dan menanyakan kabarnya.
”Sudah nyampe, aku capek banget, Hawa. Jadi tidur seharian...”
Syukurlah, aku senang mendengar kabarnya baik-baik saja.

Waktu berlalu begitu cepat. Kami disibukkan dengan kegiatan sehari-hari, masih sesekali SMS-an, tapi lama-lama ga sering ngobrol lagi. Apalagi waktu sudah lulus, bekerja, dan akhirnya aku punya pacar. Tentu aku ga melupakan dia sebagai temanku, tapi aku memang sudah ga tau kabar apa-apa tentang dia lagi. Lalu apa yang membuat aku menulis kenangan masa kecil dan peristiwa 6 tahun yang lalu ini?

Semuanya berawal dari beberapa bulan yang lalu, saat temanku menikah. Teman masa kecil juga. Aku memang masih sering berhubungan dengan teman-temanku semasa SD. Dia mengundang aku, katanya, ”Dateng ya, Zy... Anak-anak banyak yang aku undang,” lalu dia menyebutkan beberapa nama yang tentu saja sudah kukenal semua. ”Katanya Harry juga mau dateng sama tunangannya...” tambahnya.
Hmm, Harry??? Ingatanku langsung flashback ke kejadian itu. Tapi, tunangannya?
Oh, jadi dia sudah punya tunangan?
Sayangnya pada hari H aku ga bisa datang memenuhi undangan pernikahan temanku karena ada urusan kerjaan waktu itu. Dia sedih dan kecewa, tapi ga apa-apa katanya. Sebetulnya aku juga sedih, terutama karena aku ingin melihat dia lagi: Harry, bersama tunangannya yang katanya akan datang. Seperti apa ya tunangannya? Apa cewek Asia? Atau jangan-jangan cewek bule? Sumpah penasaran banget! Yah, entahlah akhirnya dia jadi datang atau ga, bersama tunangannya atau ga, aku juga ga bertanya ke yang punya acara. Sudah ga terlalu aku pikirkan lagi...

Sampai akhirnya aku menemukan jawabannya! Sabtu lalu aku pulang ke Kediri dan melihat sebuah undangan pernikahan yang ditujukan untuk Mamaku. Aku kenal nama mempelai pria yang tertulis disitu, itu si Harry! Ada fotonya juga. Ternyata dia sudah menikah dengan seorang wanita cantik berambut pirang, dan resepsinya akan digelar di Kediri tanggal 20 Juni nanti. Cukup mengejutkan.

Aku juga heran mengapa masih teringat kejadian tahun 2008 itu, saat bertemu dia di depot soto... Walaupun kami hanya sebentar bercakap-cakap, tapi sangat berkesan bagiku. Namun kini dia sudah bahagia bersama wanitanya. Apa lagi yang bisa kuharapkan? Patah hati?  Hmm, sedikit… :p
Well, rupanya untuk yang satu ini, Hawa tidak berjodoh dengan Adam-nya. Hahaha…#AkuRaPopo

Ya Tuhan, jujur aku tidak ingin Harry membaca tulisanku ini, karena aku malu sekali, hehehe…
Tapi tetap ada yang ingin kusampaikan padanya: 
~~~Congratulations for your wedding, Harry and Ashley! ~~~


...Friendship is made in the heart. A silent, unwritten, unbreakable by distance, unchangeable by time…

   

Senin, 02 September 2013

It's Our New Start

Minggu lalu merupakan masa penting dalam hubunganku dengan pacarku. Akhirnya kesempatan itu datang juga, dan aku sudah menantikannya...
Pada awalnya, kami sadar kalau hubungan kami ga akan mudah, seperti yang sudah pernah aku ceritakan di blog sebelumnya “Beda Tapi Cinta”. Sampai sekarang kami masih terus berjuang dan menunggu. Kami yakin Tuhan akan membuat semua indah pada waktunya.

Sudah lama dia memintaku untuk jadi istrinya. Aku sudah mengiyakan, tapi masih mempertimbangkan kendala di luar kekuatan kami untuk menyelesaikannya itu. Memang aku ga mau serta-merta mengabaikan nasehat orang tua. Bagaimanapun juga, orang tua kan sudah banyak berkorban merawat dan memberikan yang terbaik untuk kita, mulai dari kecil hingga sekarang, maka kini giliran kita memberikan kebahagiaan bagi mereka. Orang tua juga disebut sudah banyak makan asam-garam kehidupan, jadi bisa tau gimana kehidupan pernikahan itu ga semudah dan se-enak yang dibayangkan oleh anak muda. Namun bukan berarti kebahagiaan orang tua adalah kebahagiaan kita pula. Dalam hal ini, orang tuaku melarang hubunganku yang sudah bahagia bersama pasanganku. Demi mempertahankan tradisi keluarga, mereka memintaku memilih pasangan hidup dari ras dan budaya yang sama. “Ini demi kebahagiaanmu sendiri. Kita ga sederajat dengan mereka. Susah bersatunya, banyak perbedaan pikiran dan adat istiadatnya, nanti hidupmu ga bakal bahagia...” Hei, kok bisa situ menentukan kebahagiaanku?

Aku memang harus memilih: menuruti pilihan orang tua yang berarti mengorbankan kebahagiaan sendiri, atau bahagia menurut pilihanku sekarang. Percayalah, bukannya aku hanya membela “cinta” dan ga berpikir panjang tentang masa depan yang akan kujalani bersamanya, tapi ku juga memperhitungkan aspek lain seperti baik/buruk pribadinya, juga kondisi finansial yang harus dipersiapkan ga cuma untuk satu/dua tahun pertama, tapi untuk jangka waktu yang lama. Iya, memang benar kalau perbedaan pola pikir, aturan, serta adat istiadat itu ada, tapi hal itu ga harus dipaksakan supaya jadi sama, kan? Lebih tepatnya harus ditoleransi keberadaannya. Jadi aku sudah sadar dan sepenuhnya paham tentang resiko yang mungkin akan terjadi. Aku pun tau harus bertanggung jawab atas semuanya itu, dan aku akan melakukannya! Kami sudah sama-sama dewasa dan berpikiran panjang, bukan ABG lagi yang masih suka bersenang-senang aja. Itulah yang ga dipahami oleh orang tuaku...

Sekian lama galau dengan keadaan ini, aku butuh teman untuk berbagi. Di kantor, aku mempunyai sahabat baik. Kami sering ngobrol, bercanda, dan berbagi cerita, termasuk cerita tentang ini. Karena sama-sama beragama Katolik, kami juga berbagi info tentang gereja. Dia sudah kuanggap kakakku sendiri. Aku tau dia juga mempunyai masalah yang sama denganku, cintanya terhalang perbedaan. Bukan perbedaan ras dan budaya sepertiku, tapi perbedaan agama. Menurutku, itu lebih kompleks lagi!
Dia beragama Katolik, ceweknya seorang pemeluk Islam. Mulanya, hubungan mereka mendapat restu dari keluarga kedua belah pihak, dan mereka pun saling menghormati agama masing-masing. Mereka pacaran cukup lama (aku lupa berapa tahun pastinya), dan dia juga sempat curhat ke aku, betapa ia ingin ceweknya memeluk agama yang sama. Kalau aku sih –jujur aja– agak menyayangkan saat seorang murid Yesus memilih pasangan yang ga seiman. Tapi aku ga menghakimi, aku cuma memberi pendapat pribadi, “Jangan sampai cintamu kepada manusia mengalahkan cintamu pada Tuhan dan membuatmu berpaling...”

Hingga tibalah suatu masa, dimana ia mengungkapkan niatnya untuk menikahi ceweknya. Tapi reaksi dari pihak keluarga ceweknya sungguh mengejutkan. Mereka ga bersedia anak gadisnya dinikahi secara Katolik. Kata temanku, intinya begini, “Saya yang laki-laki, jadi sudah seharusnya Lisa (nama ceweknya) yang mengikuti saya. Kalau keberatan soal agama, kenapa dari dulu saya direstui bersama dengan Lisa?”
“Soalnya saya pikir Mas mau pindah ke Islam dan menikah secara Islam,” jawab ibunya si Lisa.
“Maaf, kalau soal itu saya tidak bisa. Kalau benar-benar tidak direstui untuk menikah secara Katolik, lebih baik hubungan saya dan Lisa sampai di sini saja,” temanku tegas memberikan pernyataan seperti itu. Salut!

Setelah kejadian itu, hubungan temanku dengan ceweknya merenggang, bahkan temanku berencana untuk menjauh pelan-pelan, ga mau langsung putus begitu aja. Aku sedih juga saat mendengar ceritanya. Tapi aku rasa temanku sudah mengambil keputusan yang terbaik. Apapun yang ia lakukan, aku hanya bisa memberikan dukungan semangat dan doa untuknya.
Memang, rasanya berat banget saat mengingkari perasaan bahwa masih sayang, tapi harus menjauhi, apalagi karena alasannya bukan berasal dari pribadi masing-masing, melainkan dari pihak luar! Tapi itulah yang temanku lakukan. Ceweknya pun juga belum bisa menerima kenyataan kalau hubungan mereka menjadi rumit...

Waktu berlalu, entah bagaimana kelanjutan hubungan temanku dengan ceweknya. Aku juga ga bertanya lagi. Sehari-hari, kami ngobrol hal-hal yang biasa aja. Tiba-tiba tanggal 24 Juli yang lalu, dia mengajukan cuti 1 hari untuk besoknya, tanggal 25 Juli. Tumben, soalnya Mas yang satu ini terbilang jarang banget cuti.
“Emang cuti mau kemana?” tanyaku lewat chating di YM waktu itu.
“Aku mau ke catatan sipil, Arzy,” tulisnya.
“Waaahh... Akhirnya happy ending nih sama si Lisa?” surprise aku membaca jawabannya.
“Iya, akhirnya... Puji Tuhan!” jawabnya diikuti smiley big grin.
“Syukur deh... Gimana ceritanya? Kok akhirnya bisa?” antusias aku ingin tau.
Lalu dia menceritakan kronologisnya.
“Awalnya, cewekkku tanya apa bedanya Kristen Protestan dengan Katolik. Ya aku jawab sepengetahuanku. Trus dia bilang pengen dibaptis dan nikah cara Katolik. Aku kaget, tapi juga bersyukur banget. Aku bilang, ‘Kalau beneran mau nikah Katolik, lebih baik kamu belajar aja dulu 1 tahun. Setelah itu baru dibaptis.’ Lagian kalau dari luar Katolik kan ga bisa langsung dibaptis. Akhirnya dia mau belajar agama dulu.”

Aku ga puas tau ceritanya sampai di situ. Bagaimana bisa si cewek akhirnya mau belajar menerima Tuhan Yesus? Lalu bagaimana dengan pihak keluarga yang sangat menentang jika pernikahan mereka dilangsungkan secara Katolik? Pertanyaan itu sangat menggelitik keingintahuanku. Temanku ga pelit bercerita saat ditanya, dan cerita berikutnya sangat menginspirasiku.
“Aku doa novena terus tiap malam jam 12. Aku mohon sama Tuhan, bilang mauku gini, maunya cewekku gini. Pernah ya, aku ngalami kejadian ajaib. Aku pulang dari kantor udah malem, abis lembur. Capek banget, jadi ketiduran. Eh, tau-tau aku merasa ada orang laki-laki di kamarku, dia banguni aku, ‘Hei, bangun! Kamu ga doa ta?’ Langsung aku bangun, lihat jam, ternyata jam 12 pas! Waktunya aku doa. Bener-bener mujizat.
Aku juga ga tau kenapa tiba-tiba cewekku ngomong mau dibaptis, mau belajar agama Katolik, padahal ya ga ada yg nyuruh, aku kan ga pernah maksa dia buat pindah Katolik. Tapi ya itulah mujizat Tuhan! Sekarang keadaannya udah jauh lebih baik. Orang tuanya cewekku akhirnya luluh juga, nyerahin semua keputusan sama Lisa dan aku. Kalau orang tuaku sih udah ga masalah. Sebulan lebih aku berdoa tiap hari, dan akhirnya doaku dijawab Tuhan...
Kamu coba doa Novena Kepada Hati Kudus Yesus sama Novena Tiga Salam Maria, biar masalahmu dapat jalan kayak masalahku sekarang. Sambil berdoa, bayangin orang-orang yang kamu kasihi kayak Mamamu, Papamu, semuanya, doain mereka. Di androidmu, kamu download aplikasi namanya ABADI. Di situ ada info tentang Katolik kayak doa-doa harian, doa novena, rumah doa, gereja, renungan, pokoknya lengkap. Kamu bisa berdoa pake bantuan itu.”
WOW, it’s trully inspiring me!

Berdasarkan cerita temanku, aku makin semangat untuk memperjuangkan hak-ku, hak mendapatkan kebahagiaan. Kalau dia bisa berhasil, kenapa aku ga bisa? Aku percaya satu hal: Tuhan bekerja dengan caraNya sendiri. Kalau benar dia yang Tuhan sediakan buat aku, pasti Tuhan bukakan jalan untuk kami. So, aku menuruti sarannya. Download aplikasi ABADI, lalu mulai berdoa novena tiap malam. Sebelumnya, aku memang berdoa untuk ini setiap hari, tapi doa biasa, bukan khusus meminta lewat doa novena. Kali ini aku benar-benar berserah kepadaNya, mendoakan keluargaku, juga hubunganku dengan pacarku. Sejak rutin berdoa novena, aku merasakan suatu perubahan. Bukan, doaku belum dikabulkan oleh Tuhan kok, tapi aku merasa jiwa ini tenang banget. Aku yang semula selalu khawatir, merasa diuji oleh Tuhan sedemikian beratnya, bingung gimana harus bersikap, hingga putus asa dan buru-buru ingin masalah ini berhasil dengan sukses sesuai harapanku; kini aku lebih sabar, lebih bisa tenang menghadapi situasi ini, dan pastinya lebih optimis.

Aku dan pacarku memang sudah pernah membicarakan soal pernikahan, rencananya di tahun 2014 nanti. Tapi kami belum berani jauh mempersiapkan ini-itu, tentu karena selain masih ada faktor hambatan, pengetahuan kami soal syarat pernikahan gereja Katolik masih minim, misalnya bagaimana jika ga ada restu dari orang tua dan bagaimana kalau orang tua ga hadir pada waktu pernikahan, apakah bisa tetap menikah. Semakin waktu berlalu, kami memang harus mengambil keputusan. Daripada bingung mau bertanya ke siapa, akhirnya kami konsultasi ke Romo.
Datang ke gereja, kami menemui Romo yang sudah kami kenal dan menceritakan masalahnya. Sebelum menjawab, Romo banyak bertanya tentang kesungguhan niat kami. Setelah itu, jawaban Romo, “Sebenarnya kalau pernikahan di gereja Katolik itu cuma perlu ada mempelainya, dua orang saksi, dan Romo. Itu saja sudah cukup sah. Saksi itu bisa siapa saja, orang yang kehidupan pernikahannya bisa kamu jadikan contoh. Jadi kalau orang tua ga bisa datang ya ga pa-pa. Soal pasangan kan sepenuhnya pilihanmu sendiri. Kehidupan pernikahan juga kalian sendiri yang menjalani, jadi seharusnya orang tua ga bisa ikut campur, ga bisa maksa dalam hal itu. Yang harus kalian hayati bener-bener adalah pernikahan Katolik itu satu untuk selamanya, tak terceraikan.” Ini bener jawaban seorang Romo lho, bukan aku sendiri yang mengarang demi mulusnya rencanaku. Hehehe... Jawaban itu seketika membuat optimisme kami meningkat.

Jujur dari dalam hati terdalam, aku ga mau menikah tanpa restu orang tua. Bayangan akan penolakan, takut kualat, dan takut ga didoakan sampai rumah-tanggaku nanti banyak batu sandungannya, sempat membuatku ragu. Tapi banyak pihak yang menguatkan aku, salah satunya Mas-ku itu, juga keluarga pacarku yang sepenuhnya bisa menerima aku dan mendoakan hubungan kami berlanjut sampai ke pernikahan. Jadi kalau kenyataannya orang tua menghalangi aku untuk bahagia, hanya karena masalah stereotype budaya di tengah zaman yang semakin modern dan terbuka, aku ga bisa pasrah gitu aja. Setiap manusia punya kehendak bebas! Itulah yang aku perjuangkan. Itulah yang kami berdua perjuangkan. Masa sih orang tua ga bahagia kalau anaknya bahagia? Kata pepatah, when you don’t care about other people feelings, no one will care about your feelings...
Jadi aku masih terus berdoa, pacarku juga, memohon jalan yang terbaik sesuai kehendakNya. Kami hendak mewujudkan mimpi bersama. Jika sebelumnya masih takut untuk melangkah, kini kami merasa yakin karena satu pintu dari gereja sudah terbuka. Welcome September, akhir-akhir ini kami semakin berani dan optimis menuju tahap krusial selanjutnya. It’s a new start for our future.

Jangan pernah kau merasa sendiri, jangan pernah kau berkecil hati
Hilangkan semua resah gelisah, tunjukkan pada dunia kau bisa!
Coba sejenak kau renungkan ini, langkahkan kaki dan mantapkan hati
Yakinlah semua kan baik saja, jadikan hidupmu lebih indah
Someday you’ll find out that you are brighter than a star
Just be strong
Just be brave
And be sure
Yes you can
Kaulah bintang hidupmu!
Lupakanlah semua yang lalu, kita sambut yang baru
Janganlah kau ragu ‘tuk maju, kejar semua impianmu
Hadapi semua rintangan, kuatkanlah tekadmu
Gapailah semua anganmu, yakinkanlah dirimu,
It’s a brand new day!
(Brand New Day ~~ Cherrybelle)

Kembali ke ceritanya temanku tadi. Aku berkomentar begini,
“Wah, kamu mesti kesaksian lho, kalau kamu udah berdoa dan doamu dikabulkan sama Tuhan.”
“Iya, aku cerita ke kamu ini kan juga kesaksianku. Tuhan sudah menjawab doaku dan aku harap Tuhan menjawab doamu juga. Aku doain kamu sukses dan diberkati Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Tetep semangat ya Arzy!”

Thanks to sahabatku, Mas Mahar Mardhana Putra, buat sharing dan inspirasinya yang boleh aku bagikan disini. Maaf kalau ada salah-salah kata, soalnya nulisnya ini berdasarkan ingatan aja sih, hehe... Aku tunggu undangannya ^o^/

Buat para pengejar mimpi dan harapan, jangan menyerah sebelum mencoba semua yang bisa dilakukan. Serahkan semua permasalahan dan kegelisahan hatimu pada Tuhan. Ketika kita angkat tangan, Tuhan akan turun tangan...        

Selasa, 12 Februari 2013

Beda Tapi Cinta



Itulah judul serial “Lolly Love” yang aku lihat di TransTV hari Minggu sore yang lalu. Dikisahkan sepasang sahabat bernama Lolly dan Aga yang sama-sama mempunyai hobi fotografi. Lolly mengajak Aga untuk hunting foto di kawasan yang terkenal kental akan budaya China. Aga langsung setuju dan antusias menyambut ajakan Lolly. Disana, Aga melihat seorang cewek Chinese berkulit putih, berambut panjang, dan manis sekali, sampai Aga dibuat terpesona olehnya. Beberapa hari, cewek itu menjadi objek foto Aga. Sampai akhirnya Lolly –yang ternyata kenal dengan cewek pujaan Aga itu– mengenalkan Aga pada Ling-Ling, anak dari pemilik komunitas barongsay di tempat tersebut.

Keinginan kuat Aga untuk dekat dengan Ling-Ling membuatnya mendaftar untuk ikut latihan barongsay. Pulang latihan, Aga mengajak Ling-Ling makan malam, dan mulai dari situlah kedekatan mereka menumbuhkan benih-benih cinta. Sang pelatih barongsay –seorang cowok muda yang tidak disebutkan namanya– rupanya cemburu melihat kedekatan Aga dan Ling-Ling. Saat latihan, beberapa kali ia menendang kaki Aga dengan dalih bahwa kuda-kuda yang dilakukan Aga salah dan kurang kuat. Aga tersungkur, tangan dan kakinya terluka. Ling-Ling segera menolong Aga mengobati luka-lukanya. Tidak suka melihat hal tersebut, sang pelatih menelepon orang tua Ling-Ling agar segera datang ke tempat latihan.

Aga makin terpesona oleh kebaikan hati Ling-Ling. Akhirnya ia mengutarakan perasaan cintanya. Alangkah bahagianya ia, karena ternyata Ling-Ling pun mengungkapkan rasa yang sama. Namun di tengah kebahagiaan tersebut, kedua orang tua Ling-Ling datang dan mereka sangat marah melihat anaknya bersama dengan seorang pemuda pribumi.
“Jangan dekati anak saya!” amuk Papanya Ling-Ling pada Aga.
“Tapi kenapa, Om?” tanya Aga kecewa.
“Karena kamu beda!” kemarahan Papa Ling-Ling tak terbendung dan segera mengajak Ling-Ling pulang.

Di rumahnya, kemarahan Papa Ling-Ling masih belum usai. Berulang kali ia menyampaikan ketidaksukaannya atas hubungan Ling-Ling dengan Aga yang berbeda latar belakang: RAS. Ling-Ling masih mempertahankan pendapatnya, “Perbedaan itu indah!” tegasnya.
Sang Papa begitu marah saat Ling-Ling membantah aturannya, sehingga ia menampar Ling-Ling. Hati Ling-Ling hancur, lalu ia berlari ke kamarnya.

Beberapa hari kemudian, kondisi kesehatan Ling-Ling menurun karena ia sangat sedih. Pandangan matanya kosong, dan ia tak mau makan sama sekali. Si Mama berulang kali membujuknya agar mau makan, begitu pula Lolly, ia datang menjenguk sahabatnya itu. Upaya mereka berdua tidak berhasil. Ling-Ling tetap seperti orang linglung. Pada Lolly, si Mama mengungkapkan kesedihannya atas kondisi Ling-Ling. Ia sangat stres dan terpukul, seolah-olah ikut merasakan kesedihan putrinya. Dari kejauhan, si Papa mendengar percakapan mereka berdua, lalu ia merenung. Akhirnya si Papa menelepon cowok muda pelatih barongsay itu dan memberikan sebuah perintah padanya.

Hari berikutnya, Lolly datang membujuk Ling-Ling agar mau ikut dengannya berjalan-jalan. Ling-Ling yang awalnya ogah-ogahan akhirnya mau ikut dengan Lolly. Mereka menyaksikan pertunjukan barongsay. Tiba-tiba salah satu barongsay mendekati Ling-Ling, lalu Aga muncul dari balik kostum itu. Ling-Ling sangat terkejut, sekaligus senang melihat Aga. Akhirnya Papa dan Mamanya juga muncul, lalu si Papa menyampaikan bahwa ia menyetujui hubungan Ling-Ling dengan Aga. Semua bahagia. Perbedaan itu tidak lagi menjadi masalah diantara mereka. Begitulah akhir cerita dari serial tersebut.

Tema itu dipilih oleh pihak televisi karena di hari Minggu lalu, semua warga keturunan Tionghoa merayakan Tahun Baru Cina atau Imlek. Sejak beberapa tahun lalu, waktu era pemerintahan almarhum Gus Dur, warga keturunan Tionghoa memperoleh kemerdekaan untuk berekspresi, merayakan tahun barunya, dan menampilkan seni kebudayaannya, bahkan tahun barunya ditetapkan sebagai hari libur nasional. Orang-orang keturunan Tionghoa sudah bukan warga yang dianggap ‘pendatang’ dan dikucilkan, mereka tidak perlu takut-takut atau diam-diam lagi saat melakukan ritual keagamaan atau budayanya. Semua warga negara Indonesia sama kedudukannya dan berhak memperoleh perlakuan yang sama pula.

Aku selalu suka cerita yang happy ending. Tapi lewat cerita “Lolly Love” kemarin, aku agak ganjil saat melihat mengapa begitu gampangnya keluarga Ling-Ling akhirnya menyetujui hubungan Ling-Ling dengan Aga? Padahal di dunia nyata, perbedaan itu sangat susah ditoleransi. Ya, karena aku merasakannya sendiri.
Tidak ada seorang pun yang bisa memilih keadaan seperti apa ia hendak dilahirkan. Misalnya aku minta orang tua si A karena mereka kaya, atau orang tua si B aja karena mereka orang terkenal, tentu ga mungkin seperti itu. Aku dilahirkan dari keluarga keturunan Tionghoa, bukan di negara China lho, tapi di Indonesia. Besar di Indonesia, bergaul dengan orang-orang Indonesia, aku warga negara Indonesia, dan aku sangat cinta Indonesia!
Memang sih, aku belum pernah merasakan peristiwa rasis yang sangat kentara, seperti yang dialami oleh orang-orang terdahulu. Tapi peristiwa rasis terjadi padaku persis seperti yang dialami oleh Ling-Ling dan Aga di serial televisi itu.

Tiba-tiba cinta datang kepadaku...
Saat ku mulai mencari cinta...

Aku ga menyangka kalau aku bisa suka kepadanya. Pasanganku yang sekarang bukan orang keturunan Tionghoa sepertiku. Tapi siapa yang bisa menolak datangnya cinta? Saat dia bilang suka dan memintaku jadi pacarnya, aku berpikir sangat keras, karena aku tahu perbedaan itu bukanlah hal yang mudah untuk dijembatani. Bayangan penolakan dari keluargaku pun udah jelas di pikiranku. Tapi akhirnya aku memilih jalan ini, aku ga mau membohongi perasaanku dan jadi tersiksa karenanya. Dari awal dia pun tahu, kalau hubungan kami yang berbeda ras ini akan sulit dilalui. Dia mengambil pilihan untuk mengungkapkan perasaannya padaku, walaupun “Aku tahu kemungkinannya lebih besar ditolak daripada diterima,” katanya mengenang tindakan beraninya waktu itu.

Hubungan ini bukan coba-coba. Awalnya memang sulit, kami mengalami banyak perbedaan prinsip. Tapi justru dari perbedaan itu, aku belajar banyak hal darinya. Kami saling memahami pola pikir masing-masing, juga perilaku dan kebiasaan, yang tentunya dibawa dari pengalaman masa lalu dan didikan dari keluarga. Lama-lama aku menyadari bahwa seperti kata Ling-Ling: perbedaan itu indah. Benar! Hubungan kami cocok-cocok aja, malah jadi lebih berwarna karena kami saling menyesuaikan diri untuk hidup secara lebih universal, tidak menonjolkan salah satu budaya tertentu.

Sudah diduga, hubungan pacaranku sangat ditentang oleh orang tuaku. Macam-macam alasan dikemukakan. Terutama menurut mereka, karena perbedaan ras tersebut adalah hal yang mendasar. Padahal menurutku, perbedaan mendasar itu adalah keyakinan atau agama. Kalau aku dan dia sudah seagama, apa masalahnya? Aku bukannya ga setuju dengan alasan-alasan yang mereka ungkapkan, tapi yang membuat aku ga setuju adalah kenapa perbedaan itu menimbulkan anggapan bahwa ras dan budayanya sendiri lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan ras dan budaya lain? Waktu sekolah dulu kan selalu diajari Bhinneka Tunggal Ika, tapi mengapa praktek rasis masih terjadi di tengah dunia yang terus menyerukan agar sesama manusia hidup berdampingan dengan rukun dan damai...

Tuhan memang satu, kita yang tak sama...
Haruskah aku lantas pergi meski cinta tak kan bisa pergi....
Bukankah cinta anugerah, berikan aku kesempatan....

Sudah lama aku memperjuangkan cinta kami agar mendapat restu dari keluargaku, tentunya ga cuma sehari-dua hari restu itu datang dengan mudah seperti kisah Ling-Ling dan Aga. Selama itu pula kami saling memberi dukungan dan banyak berdiskusi, langkah apa yang harus kami tempuh, apakah harus bertahan atau ga diteruskan. Mungkin banyak orang akan mundur, ketika hubungan cintanya mendapat tentangan dari orang tua. Alasannya karena ga mau menyakiti perasaan mereka, atau ga mau dicap sebagai anak durhaka yang ga berbakti dan ga tahu berterima kasih. Tapi kami belum mau menyerah untuk berjuang, walaupun harus melewati 99 rintangan dan 77 cobaan sekalipun. Cinta itu ga salah kok, yang “salah” menurut pandangan orang adalah karena stereotype yang diciptakan oleh manusia itu sendiri, yang masih membentuk sekat-sekat kaku sehingga membatasi pembauran dan percampuran antarkebudayaan.

Hei, ini Indonesia! Kita berbagi tanah, air, dan udara yang sama. Kita hidup di Indonesia, negara seribu satu pulau yang kaya budaya; bukan di negara China, negara Jawa, negara Sunda, atau negara-negara seperti itu! Perbedaan itu indah, dan buktinya sudah banyak kok pasangan berbeda ras yang menikah dan hidup bahagia. Perbedaan budaya itu bukanlah hal yang harus diubah, tidak harus dipaksakan supaya jadi cocok, tapi harus diterima dan ditoleransi keberadaannya.
Memang ga semua orang sudah berpikiran terbuka seperti ini dan masih memegang teguh tradisi keluarga yang menentang hubungan berbeda ras. Perasaan takut ga akan diterima lagi oleh keluarga, malu, ga dapat menyesuaikan diri dengan keluarga pasangan, atau bahkan bingung nantinya harus mengikuti budaya yang mana kerap dirasakan oleh pasangan tersebut. Tapi kalau aku dan pacarku sih sudah berpikiran terbuka: bukan Jawa, bukan China, tapi kami Indonesia!

Aku senang melihat cerita antara Ling-Ling dan Aga itu, berharap pula suatu saat nanti hubunganku berakhir happy ending direstui oleh keluarga. Tapi sekaligus aku sedih kenapa jalan yang harus kami tempuh ga semudah restu atas kisah kasih mereka. Huhuhu.....T_T Aku ga menyesal dengan pilihanku sekarang, tapi masa iya aku harus mogok makan dulu seperti Ling-Ling supaya bisa mendapat restu orang tua???

Walaupun cuma film, tapi tema cerita itu memotret keadaan Indonesia yang mulanya menganggap perbedaan merupakan masalah besar, kini berubah menjadi semakin terbuka dan menerima keberagaman. Berbagai kisah serupa juga diangkat ke layar lebar seperti film “? (Tanda Tanya)” yang menampilkan banyak tokoh dengan kompleksnya perbedaan di antara mereka, “CIN(T)A” dan “3 Hati 2 Dunia 1 Cinta” yang menceritakan cinta sepasang pria dan wanita yang bukan hanya berbeda ras, tapi juga berbeda agama.

Banyak pihak telah membuat film dan cerita tentang perbedaan –tertama perbedaan ras dan agama– yang mulanya merupakan isu sensitif menjadi media untuk mempersatukan. Pro dan kontra selalu menyertai dibuatnya kisah-kisah itu, seperti halnya di dunia nyata. Tapi aku yakin, berpegang pada prinsip “semua orang tua pasti ingin anaknya bahagia”, setiap pribadi tentu berhak memperjuangkan kebahagiaannya sendiri dan bertanggung jawab terhadap hal itu. Jadi aku akan terus berjuang dan berdoa untuk STOP RACISM! Karena semua manusia sama derajatnya di hadapan Tuhan. Tuhan tidak mengajari umatNya untuk menciptakan golongan-golongan sendiri, tapi Tuhan mengajarkan cinta kasih dan perdamaian untuk semua manusia.

Akhir kata, mengutip salah satu dialog dalam film CIN(T)A yang sangat aku suka:
Mengapa Tuhan menciptakan kita beda-beda, padahal Dia cuma ingin disembah dengan satu cara?
Makanya Tuhan menciptakan cinta, supaya yang beda-beda bisa nyatu....

Rabu, 31 Oktober 2012

Happy Birthday, Madridista!



Kemarin, tanggal 30 Oktober, salah satu Madridista —sebutan bagi fans klub sepakbola asal Spanyol yaitu Real Madrid— berulang tahun yang ke-26. Begitu senangnya ia, karena beberapa hari sebelumnya (Senin dini hari), Real Madrid menang 5-0 saat berhadapan dengan Mallorca di pertandingan La Liga. Peristiwa itu seperti kado indah baginya.
Ia menyebut dirinya Madridista sejati, yang selalu mendukung klub kesayangannya itu bagaimana pun keadaannya, menang atau kalah. Ga satupun pertandingan Madrid ia lewatkan. Cemerlangnya Cristiano Ronaldo selalu ia ceritakan dengan mata berbinar. Kecintaannya pada Real Madrid ibarat Tan 90° = ~ (tak terhingga sepanjang masa). Begitu bangganya ia meneriakkan “Hala Madrid!”, karena Real Madrid adalah jiwanya, semangatnya.

Apa artinya sebuah ulang tahun? Di usianya yang dewasa ini, tersimpan banyak harapan di dalam dirinya. Ia seorang yang suka merenda impian-impian, dan hal itu diikuti oleh pikirannya yang fokus tentang bagaimana mewujudkan impian tersebut menjadi nyata. Tujuan hidupnya jelas terpeta, oleh sebab itu setiap hari ia melangkah dengan optimis, bekerja giat dengan hati yang bersih, dan menjalankan rencana-rencana yang ia telah susun dengan begitu rapi. Alangkah bahagianya saat satu per satu impian tersebut telah terealisasi berkat usaha kerasnya. Cita-citanya ga pernah berhenti di satu hari. Setiap saat dimana pun berada, ia selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, selalu berupaya meraih indahnya berbagai elemen kehidupan. Coba tanyalah padanya, apa yang akan ia lakukan besok, atau satu tahun lagi, atau bahkan sepuluh tahun lagi. Ia pasti bisa menjawabnya, karena pola pikirnya panjang ke depan.

Ia seorang yang penyayang dan lembut. Betapa pasangannya merasa diperlakukan dengan sangat baik olehnya. Ia dapat menempatkan diri sebagai seorang pemimpin yang mengambil keputusan dan membimbing pasangannya. Saling menghormati dan toleransi selalu mengisi hari-hari saat berdua. Dua insan yang berbeda tapi selalu bisa jadi teman bertukar pikiran, rekan seru-seruan, sumber informasi, juga tempat curhat dan pendengar yang baik. Ga saling menuntut, tapi saling merendahkan hati untuk menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Komitmen yang terjalin berkembang menjadi target yang sudah dipasang. Doa-doa tak henti dipanjatkan, agar satu tahun lagi semua yang telah direncanakan menjadi indah pada waktunya.

Di dalam keluarga, ia dijadikan contoh yang baik bagi adik-adik dan saudara-saudaranya. Walaupun demikian, ia tetaplah seorang pria yang masih ingin menikmati masa muda (dan masa lajang). Ia gembira berkumpul dengan teman-teman, makan-makan, atau jalan-jalan ke luar kota. Kesukaannya selain sepakbola adalah baca komik, nonton film kartun, dan main game di komputer, PSP, maupun Ipod. Sense of humor-nya kuat, ekspresinya lepas, dan itulah salah satu daya tarik personalnya.

He is an amazing guy. He is my love. Apa yang aku cari dari sosok seorang pria, ada padanya. Nobody’s perfect, namun prinsip hidupnya yang tegas, ketegaran hatinya, daya juangnya, dan kesetiaannya membuatku percaya, bahwa ia akan menjadi orang hebat suatu saat nanti. Cukup lama mengenalnya, aku tahu benar bagaimana rekam karir serta pertumbuhan pribadinya. Ia sangat loyal pada sesuatu yang dicintainya, dikerjakannya, sama seperti loyalitasnya pada Real Madrid. Kami sudah merajut harapan bersama di masa depan, dan akan berjuang untuk mewujudkannya.

Sungguh masa depan itu memang ada, karena kamu telah berhasil melewati satu tahun lagi usiamu. Hal yang terkecil membentuk kesempurnaan, namun kesempurnaan bukanlah hal yang kecil.
Happy birthday, my beloved Madridista! This is dedicated for you, with my love and pray....
Hadiah ulang tahun dariku untuknya :)

Sabtu, 22 September 2012

Jika Cinta Itu Sebuah Kue

Setelah di blog sebelumnya aku cerita tentang suka-dukanya bisnis kuliner (blog: Serba-Serbi Jualan Makanan), kali ini aku mau praktek. Bukan praktek buka restoran, tapi praktek masak. Aku mau membuat kue namanya “Kue Cinta”.

Kue ini terambil dari buku kumpulan resep warisan leluhur. Jadi memang sudah lama ada. Mungkin namanya kurang komersil alias biasa banget, jadinya banyak yang menduga-duga seperti apa sih kue ini? Apa berbentuk hati, berwarna pink, sebagaimana lazimnya rupa "cinta"? Lalu, apa istimewanya?

Nah, setelah ini, diharapkan kue klasik ini disukai oleh masyarakat, khususnya kaum muda; selain semua varian kue yang ada modern ini, seperti Rainbow Cake, Red Velvet, atau Macaroons. Yuk, simak bahan-bahan dan cara membuat kue ini!

Bahan-bahan dasar:
  • 1 Pria sehat
  • 1 Wanita sehat
  • 1 bungkus penuh usaha
  • 100% komitmen
  • 2 pasang restu orang tua
  • 1 bungkus kasih sayang murni
Bumbu-bumbu dan bahan pelengkap:
  • Humor secukupnya
  • Rekreasi secukupnya
  • Doa secukupnya
  • Komunikasi secukupnya
Cara membuat:
  • Pria dan wanita dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni.
  • Aduk bahan-bahan dasar, bumbu, dan bahan pelengkap hingga tercampur rata dan mengembang, tunggu selama minimal satu tahun.
  • Siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu kedua pasang orang tua secara merata.
  • Masukkan semua bahan ke dalam Loyang Asmara dan panggang dengan Api Cinta yang merata selama kurang lebih satu jam di depan pemuka agama.
  • Kue siap dinikmati.
Tips:
  • Pilih pria dan wanita yang benar-benar matang dan seimbang.
  • Jangan yang satunya terlalu tua dan yang lainnya terlalu muda karena dapat memengaruhi kelezatan.
  • Sebaiknya beli bahan di toko yang bernama TEMPAT IBADAH, walaupun agak jual mahal tapi mutunya terjamin.
  • Jangan beli di tempat yang bernama DISKOTIK atau PARTY karena walaupun modelnya bagus dan harum baunya, tapi kadang menipu konsumen, dan bisa jadi menggunakan bahan-bahan kimia dan zat pewarna yang bisa merusak kesehatan.
  • Gunakan kasih sayang cap "IMAN, HARAPAN, & KASIH" yang telah mendapatkan standar mutu dari Departemen Kesehatan dan Departemen Agama.
Catatan: 
Kue ini dapat dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati selagi masih hangat. Tapi jika sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa potong doa, kemudian masukkan ke oven bernama "Tempat Ibadah" dan nyalakan api cinta untuk menghangatkannya. Setelah mulai hangat, jangan lupa tambahkan komunikasi secukupnya bila berjauhan.


Demikianlah resep Kue Cinta yang sudah ada dari zaman nenek moyang kita. Ternyata bukan kue dalam arti sesungguhnya :)
Petuah leluhur yang satu ini memang sudah terbukti kualitasnya. Jadi tunggu apa lagi?

Bagi yang belum menikah dan sedang merencanakan pernikahan, mari kita mempersiapkan diri untuk membuat Kue Cinta ini. Bagi yang masih sendiri dan merindukan datangnya belahan jiwa, seperti katanya Mario Teguh: indahkanlah dan pantaskanlah diri sendiri, berlakulah penuh hormat, lembutlah pada sesama, agar kita menjadi pribadi yang baik bagi keindahan jiwa yang telah Tuhan persiapkan untuk kita. Pria yang baik untuk wanita yang baik, dan sebaliknya.
Bagi yang sudah menikah, semoga Tuhan mengaruniakan rezeki yang baik, kesehatan jasmani dan rohani, keluarga yang bahagia, serta kesetiaan sampai akhir waktu, setelah membuat dan memakan Kue Cinta ini.

Yang setuju denganku dan mempunyai harapan sama, katakan: AMIN! 

Selasa, 14 Februari 2012

Mencintai

 Bila mata adalah cerminan jiwa, bukankah tak heran apabila mata dan pandangannya menjadi ungkapan cinta?
Orang yang mencinta memiliki pikiran yang penuh bunga mawar: kenangan akan masa-masa yang indah, mengesankan, dan menyentuh.
Orang yang jatuh cinta menyadari suatu keberadaan yang positif, dan memimpikan suatu masa depan yang cerah.
Cinta dapat menjadikan pikiran jernih, kreatif, dan penuh dengan fantasi yang indah dan menyenangkan, karena cinta membuat orang mengarungi lautan antara fantasi dan kenyataan.
Apa artinya waktu bagi hati yang sedang dilanda cinta, apabila satu detik terasa abadi dan satu tahun terasa sejam? Cinta memberi impian nyata kepada manusia. Impian yang dapat dicapai dan terus menerus diperjuangkan menjadi suatu kenyataan.
Cinta itu saling meneguhkan. Cinta adalah bentuk peneguhan yang paling indah.
Mencinta adalah suatu keberanian. Keberanian untuk semakin berkembang sehingga hidup tak terasa sia-sia.
Milikilah hidup yang bermakna ganda: hidup yang sedang mekar dan memekarkan hidup orang lain!

Mencintai...

Bukanlah bagaimana kita melupakan,
                melainkan bagaimana kita memaafkan...
Bukan bagaimana kita mendengarkan,
                melainkan bagaimana kita mengerti...
Bukan apa yang kita lihat,
                melainkan apa yang kita rasakan...
Bukan bagaimana kita melepaskan,
                melainkan bagaimana kita berjuang...
Memang seringkali orang yang paling kita cintai justru adalah orang yang paling menyakiti hati kita...

Belajar untuk mencintai dan menikmati dicintai, tapi jangan pernah mengharapkan orang lain mencintai diri kita dengan cara dan sebanyak yang sudah kita berikan kepadanya...

Berikanlah cinta tanpa mengharapkan balasan, maka kita akan menemukan hidup yang terasa lebih indah.

Happy Valentine Day! Selamat mencinta dan hidup dalam cinta...


~~diambil dari berbagai sumber~~

Sabtu, 11 Februari 2012

Ada Apa Antara Pria dan Sepakbola?


Suatu hari, pacarku mengeluarkan statement yang cukup menarik. ”Di dunia ini, ada 3 hal yang aku prioritaskan.”
”Apa itu?” tanyaku.
Dia jawab, ”Satu, Tuhan. Dua, kamu. Tiga, Real Madrid.”
Spontan aku tertawa mendengarnya. ”Haaah? Real Madrid juga?”
”Iya donk!” Dia tersenyum bangga.
Aku tau pacarku sangat maniak dengan sepakbola, khususnya Real Madrid, tim kesayangannya. Sebenarnya dari SMP aku juga suka sepakbola, sampai sekarang pun masih sering nonton. Tapi ya aku ga semaniak dia kalau nonton atau mengikuti berita tentang sepakbola.
Sebagian besar wanita mungkin bertanya-tanya mengapa pria sangat menggilai sepak bola. Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apa sih serunya menyaksikan 22 pria berlarian di lapangan mengejar 1 bola?” atau “Mengapa wajib begadang semalam suntuk untuk menyaksikan tim itu bertanding?”. Apalagi kalau sampai tim kesayangannya gagal menang, pria bisa uring-uringan seharian, termasuk pacarku juga gitu. Awalnya aku juga berpikir gitu, tapi setelah mencoba nonton, ternyata sepakbola itu seru, lho! Hehehe...
Eh, ternyata aku menemukan artikel dari Kompas.com yang dapat menjawab pertanyaanku, juga mungkin pertanyaan sebagian wanita tentang hubungan antara pria dan sepakbola. Begini katanya:

Pria ingin jadi yang terbaik
Bahkan sejak masih kecil pun laki-laki sudah memiliki sifat kompetitif. Baik saat bertanding di lapangan olahraga atau saat bermain dengan teman-temannya. Mengapa? Karena mereka menyukai perasaan menjadi seorang pemenang dan tak ada yang bisa menyamai dirinya. Nah, begitu pula ketika menyangkut pasangan Anda. Ia merasa menjadi pemain ke-12 di lapangan ketika tim kesayangannya sedang bertanding. Adalah hal yang umum jika tiba-tiba ia mengenakan kostum tim kebanggaannya itu (bahkan saat ia menonton sendiri di rumah). Jika pasangan Anda adalah termasuk fans berat, tak ada salahnya untuk mendampingi si dia saat timnya bertanding. Atau setidaknya selalu mendengar hasil akhirnya. Karena, untuk sebagian fans, adalah hal yang sangat menyakitkan ketika timnya gagal (entah itu kalah bertanding, pemain terbaiknya kena kartu merah, atau pelatihnya dipecat). Ia akan membutuhkan dukungan dan teman untuk berbagi, sama seperti kita, para wanita yang butuh penghiburan saat sepatu incaran kita yang hanya ada 1 ternyata sudah dibeli orang lain.

Semacam bentuk terapi
Ketika pria melihat pria lain beradu kepala dan tubuh hingga terjatuh-jatuh, ia melihat suatu hal yang berbeda. Mungkin bagi wanita tindakan tersebut sangat menyakitkan dan tidak menyenangkan untuk dilihat. Namun bagi pria, ia mengasosiasikannya dengan keadaan yang sedang ia hadapi di kantor, dengan teman, dengan keluarga, bahkan dengan Anda. Ketika pemain kesayangannya bisa menghadapi “tantangan” untuk beradu badan dengan pria bertubuh kekar di hadapannya, ia pun pasti bisa menghadapi tantangan yang ia miliki di kehidupannya. Jadi, anggap saja menonton sepak bola menjadi semacam terapi untuknya menghadapi hidup, sama seperti Anda saat membaca buku pengayaan diri (self improvement).

Ia ingin didengar
Pernah melihat si dia berlagak bak pelatih saat menonton sepak bola? Misal, “Ayo, Owen, kamu pasti bisa!” atau “Astaga, Ronaldo, kenapa lewat situ?” dan sebagainya. Alasannya sederhana, karena ia ingin didengar. Tugas pelatih adalah untuk “mendesain” langkah permainan dan para pemain mengikuti petunjuknya. Siapa yang lari ke arah mana, siapa yang melempar ke siapa, dan sebagainya. Secara turun-temurun, pelatih dikenal sebagai orang yang sangat berwibawa dan hebat dalam berbicara. Sosok pelatih seringkali diasosiasikan sebagai pribadi yang amat hebat, karena profesi ini harus bisa menjadi motivator, ayah, sahabat, diktator, dan sebagainya dalam waktu bersamaan.
Ketika menyaksikan pertandingan, ia akan menduga-duga apa yang akan dilakukan para pemain, dan mempertanyakan apa yang salah jika timnya kalah. Jika Anda ingin mendorong semangat dan membuatnya merasa hebat, cobalah bertanya padanya (tentu pada saat jeda iklan). Coba tanyakan arti istilah-istilah dalam persepakbolaan, atau tentang seputar pertandingan yang berlangsung. Ia akan merasa senang untuk bisa menjelaskan tentang hal ini kepada orang lain, karena ternyata ada orang yang mau mendengarnya.

Ia suka aksi seru
Seorang rekan Kompas.com mengatakan, “Sepak bola itu lebih menyenangkan kalau kita punya tim yang kita jagokan.” Anda tentu akan menjadi sangat fokus menyaksikan pertandingan ketika Anda menginginkan tim Anda memenangkan pertandingan. Saking fokusnya, Anda akan merasakan bahwa pertandingan berlangsung cepat dan menegangkan. Setiap pemain memiliki peran spesifik dan penting, tujuannya satu; menang! Sepak bola adalah olahraga tim. Para penggemar sepak bola tahu, bahwa dalam setiap pertandingan diperlukan persiapan yang sangat rumit, tak heran jika ia tak bisa melepaskan pandangannya dari layar kaca. Daripada bosan menunggunya tegang saat menyaksikan timnya bertanding, cobalah ikut mendukung tim kesayangannya. Atau cobalah untuk kreatif bikin suasana seru dengan memanfaatkan keadaan yang ada.

Sepak bola mendukung persahabatan
Ya, tentu Anda pernah mendengar acara “nonton bareng sepak bola”. Kegiatan ini banyak digelar pada musim pertandingan piala dunia atau piala Champions (kejuaraan sepak bola antarklub di Eropa). Dalam acara-acara semacam ini para fans bisa bersatu dan membicarakan hal yang sama, tim kebanggaan mereka. Hal semacam ini bisa membuat seorang penggemar sangat bahagia, tak heran jika si dia betah nongkrong di sana berjam-jam, bahkan saat pertandingan sudah berakhir lama. Acara nonton bareng semacam ini memberikan kesempatan untuk si dia dan teman-temannya menyoraki atau mendukung sosok pemain yang jauh lebih cepat, lebih berotot, lebih kaya, dan lebih beruntung darinya. Pada saat-saat seperti ini, wajar jika Anda merasa tersisihkan dan tak diperhatikan.


Kalau menurut aku sih, analisanya boleh juga...
Jadi ya biarlah para pria dengan kesukaan sepakbolanya. Apalagi pacarku punya impian, "Suatu hari nanti, kalau ke luar negeri, negara pertama yang akan aku datangi adalah Spanyol, dan aku akan menginjakkan kaki ke Santiago Bernabeu..."
"Sama siapa?" aku menggodanya.
"Sama kamu donk.. Ayo bulan madu disana."
Selama impiannya masih positif, aku pasti bilang "Amiiiiinnn...."