Sabtu, 15 Februari 2014

In Memoriam Papiku Tersayang



Aku tidak akan pernah lupa hari itu, Sabtu tanggal 18 Januari 2014.
Hari masih pagi, jam setengah 8. Aku sedang bersiap berangkat ke kantor, ketika HP-ku berdering, dari Mami. Apa yang dikatakan Mami membuatku jantungku berdetak kencang, terpaku. “Mami dapet telepon dari Pak Dartok, temennya Papi. Katanya Papi lagi ada di Garut, pagi ini tadi tau-tau jatuh trus meninggal. Mami udah telepon HP-nya Papi tapi ga aktif. Udah, kamu jangan terlalu percaya dulu, Mami cari-cari info ntar kamu ta’kabari lagi.” Aku diam tak tahu harus berbuat apa…

Dengan perasaan tidak karuan, aku berangkat ke kantor. Seperti biasa, setiap hari Sabtu pagi sebelum memulai aktivitas, di kantorku ada persekutuan doa (PD). Saudara-saudara seiman duduk bersekutu, menyanyi, memuji Tuhan, dan mendengarkan firman yang dibawakan oleh salah satu dari kami. Air mataku menetes, padahal selama ini aku tidak pernah sampai menangis saat PD. Tenanglah jiwaku, dalam naungan sayapMu…Menembus awan kelabu, pandang kemuliaanMu…

Aku harus tetap bekerja, entah apa yang kukerjakan, aku sudah benar-benar kalut. Sekitar jam 09.30, telepon dari Mami menyampaikan kabar itu. Papiku benar meninggal. Kabar yang sangat mengejutkan itu membuatku berpikir untuk cepat pulang. Harusnya, setiap tanggal 20, aku harus laporan kepada General Manager perihal presensi karyawan (rekap personalia). Langsung kukerjakan laporan itu, karena aku tidak mungkin kembali ke kantor pada hari Senin hanya untuk mengerjakannya. Setelah selesai, aku segera mengajukan izin kepada Manager untuk pulang lebih awal, tapi aku tidak mengatakan alasan yang sebenarnya kalau Papiku meninggal. Sejujurnya, aku masih menyangkal kabar itu, sebelum aku melihat dengan jelas bahwa Papiku memang sudah tidak ada lagi di dunia ini. Manager sempat mengajukan ‘protes’, “Kemana lagi kamu, Arzy?” karena beberapa hari sebelumnya aku sudah izin tidak masuk guna mengurus perpanjangan masa berlaku SIM-ku.
“Ada urusan keluarga, Bu…” kataku.
“Kamu nanti dicari Bu Elva, lho,” lanjutnya. Bu Elva, General Managerku.
“Saya usahakan Senin sudah masuk, Bu,” kataku. Maaf Bu, aku terpaksa mengatakan itu –padahal kalau kabar itu benar, aku pasti tidak masuk– untuk membuat keadaan terkendali, karena aku tidak mau bilang kalau Papiku meninggal. Aku menyangkalnya.
Akhirnya aku memperoleh izin dari Manager. Segera aku pulang ke kost, lalu packing. Sebelumnya aku sudah memesan travel yang biasa kuandalkan untuk pulang ke Kediri.

Dalam perjalanan pulang ke Kediri, aku menangis. Untung tempat duduk di sebelahku kosong. Hal yang sangat mengusik pikiranku adalah kenapa Papiku sampai ada di Garut? Seminggu sebelumnya, Papiku pamit hendak pergi ke Bogor dan Jakarta untuk mengantar atlet-atlet tenis meja. Papiku memang salah satu pengurus PTMSI (Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia) yang sangat aktif. Di Kediri, pembinaan atlet tenis meja bernama PTM Sanjaya, dibawah grup PT Gudang Garam, dan Papiku menjabat sebagai ketua bagian pembibitan dan pembinaan. Beliau pun tercatat sebagai Wakil Ketua PTM Jawa Timur. Jadi Papiku memang sering keluar kota untuk mendampingi anak didiknya mengikuti turnamen. Tidak hanya menjadi pengurus, dari muda pun Papiku aktif bermain tenis meja. Jadi, kalau pamitnya cuma akan ke Bogor dan Jakarta, kenapa bisa sampai ke Garut?

Jam 7 malam, aku tiba di rumah. Sudah ada beberapa orang kerabat berkumpul disana. Aku sudah cemas sekali, aku terus berdoa semoga berita itu hoax belaka. Mamiku beberapa kali meng-update info dari rekan Papiku yang memberi kabar itu, karena mereka berangkat dari Garut sekitar jam 11 siang. Perjalanan Garut-Kediri dengan naik ambulance memakan waktu 15 jam! Sembari menunggu, aku dan Mamiku mempersiapkan barang-barang Papiku yang akan disertakan ke dalam peti jenazahnya- kalau itu benar. Sekali lagi aku merasa tak percaya, karena masih sangat berharap Papiku pulang dalam keadaan sehat.

Minggu dini hari, hampir jam 00.30, kakakku datang dari Singapura. Begitu mendengar kabar itu, dia pun bergegas mencari tiket dan berangkat pada pukul 8 malam. Tiba di bandara Juanda, ia segera pulang ke Kediri. Sambil terus berbenah dan berjaga-jaga, aku berdoa, benar-benar berpasrah pada Tuhan… Akhirnya yang kami tunggu datang juga. Ambulance dari Garut sudah sampai di “Giki”, nama rumah duka yang ada di Kediri (kalau di Surabaya bernama “Adijasa”), pada pukul 3 pagi. Harap-harap cemas, aku, kakakku, Mamiku, dan pembantuku berangkat kesana.

Sesampainya disana, kami masuk ke ruangan dimana di dalamnya sudah ada “seseorang” yang dibaringkan dengan ditutupi kain putih. Aku berkata pada diriku sendiri: harus kuat. Ketika kain putih itu disingkapkan, ternyata benar, itu Papiku, terbujur kaku, tidak bergerak. Tumpahlah tangis kami…

Berikutnya, kami mengorek keterangan dari Pak Dartok, rekan Papiku yang mengantar itu. Dia dan Papiku memang sudah satu minggu di Bogor dan Jakarta, namun ketika Pak Dartok hendak ke Garut (rumah mertuanya), Papiku mau ikut. “Saya ikut Pak Dartok aja, mau refreshing,” begitu kata Pak Dartok menirukan ucapan Papiku waktu itu. Sabtu sekitar jam 6 pagi, Papiku bangun dan menuju meja makan, hendak minum kopi, waktu itu semua belum bangun. Tiba-tiba terdengar suara keras, ‘gubrak!’ Ketika dilihat, Papiku sudah jatuh tersungkur di bawah meja. Orang-orang di rumahnya langsung menolong dengan menekan dadanya (bantuan CPR), dan pada waktu itu masih teraba denyut nadinya. Lalu Papiku segera dilarikan ke rumah sakit, namun Tuhan berkehendak lain. Jam 06.35, Papiku telah tiada…

Papiku memang tidak menderita sakit apapun. Sebelumnya ia sangat sehat, tidak pernah mengeluh bagian dadanya nyeri, ataupun sakit berat lainnya. Tapi beliau memang perokok, dan –setahuku– tidak pernah check-up kesehatan. Serangan jantung, the silent killer itu menyebabkannya pulang ke rumah Tuhan. Tidak ada firasat, tidak ada pesan-pesan terakhir, tidak ada hal-hal aneh menandai akan perginya beliau. Sangat mendadak, memang. Kita tahu, banyak hal yang mempengaruhi terjadinya serangan jantung. Gaya hidup, stress, pola makan, bahkan olahraga berlebihan. Sering olahraga –bisa dibilang olahragawan– mungkin itu juga salah satu yang membuat Papiku merasa selalu sehat, sehingga tidak merasakan ada perubahan sekecil apapun pada kesehatannya. Ingat almarhum Adjie Massaid dan Ricky Johannes?

Kami pulang pada pukul 4 pagi, setelah memercayakan jenazah Papiku pada pihak rumah duka. Baru bisa tidur jam 04.30, tapi aku sudah bangun jam 05.30 dan segera kembali ke rumah duka guna mengurus segala persiapan persemayaman. Setelah dimandikan, jenazah dibaringkan dalam peti. Kata petugas yang memandikan jenazah Papiku, tidak ada luka di sekujur tubuhnya, namun kuku-kuku jari tangannya terlihat membiru. “Biasanya begitu kalau meninggalnya karena serangan jantung.” jelasnya.

Di beberapa bagian tubuh juga tampak lebam, namun itu merupakan efek formalin yang disuntikkan –karena perjalanan jauh selama 15 jam akan membuat jenazah rusak jika tidak diberi formalin– selebihnya tampak wajar. Kami memang tidak tahu bagaimana kejadian yang sebenarnya, kami percaya pada penjelasan Pak Dartok. Kami tidak melakukan otopsi pada jenazahnya, karena pada waktu itu benar-benar tidak terlintas di benak kami bahwa mungkin saja Papiku menjadi korban kejahatan orang lain. Dari rumah sakit di Garut itu ada surat keterangan meninggal. Setelah kami tanyakan ke salah satu dokter, ia mengatakan, “Kalau rumah sakit sudah mengeluarkan surat keterangan meninggal, berarti dokter yang memeriksanya tahu bahwa meninggalnya secara wajar. Karena kalau dokter mencurigai ada yang tidak wajar pada kematian seseorang, ia pasti tidak mau mengeluarkan surat kematian, tapi meminta dilakukan visum lebih dulu. Visum itu prosesnya lebih lama, tidak bisa keluar surat keterangan dengan cepat.”

Berdasarkan keterangan dokter itu, satu hal yang membuat aku terus berdoa di samping jenazahnya, “Kalau Papi meninggalnya wajar, aku ikhlas. Tapi kalau Papi meninggalnya tidak wajar, mohon Papi beri petunjuk, kepada siapapun, entah bagaimana caranya, tentang kejadian yang sebenarnya, tentang siapa yang menjahati Papi…” Ya, aku percaya siapapun yang menjahati Papiku sampai membuatnya seperti itu –kalau memang benar demikian– akan diberikan ganjaran oleh Tuhan sendiri.

Minggu siang, sebelum peti ditutup, diadakan misa requiem (misa arwah). Itulah saat terakhir aku melihatnya. Wajah Papiku terlihat tenang, seperti orang tidur. Jenazahnya disemayamkan di rumah duka Giki selama 4 hari, 19-22 Januari 2014, dan rencananya dikremasi pada tanggal 23 Januari. Aku mengajukan izin satu minggu tidak masuk kantor. Managerku sampai kaget waktu kuberitahu alasannya. Iya, semua orang kaget dengan kepergiannya yang begitu mendadak. Tidak ada yang menyangka, bahkan sempat tak percaya.

Selama disemayamkan, tamu yang melayat datang silih berganti, juga berbagai karangan bunga dari banyak pihak. Sanak keluarga dan beberapa teman sukarela membantu. Beberapa kali, orang dari lingkungan gereja dan Romo datang mengadakan doa bersama. Aku paling suka saat menemani teman-teman Papiku yang datang, baik dari Gudang Garam, PTM Sanjaya, PTMSI, maupun KONI Jatim, karena mereka suka bercerita. Aku ingat betul kesan-kesan mereka tentang Papiku.

“Pak Simon sangat membanggakan putri-putrinya. Yang satu di Singapore, dulunya di Belanda, satunya psikolog. Pinter-pinter, ya…” kata salah satu ibu dari Gudang Garam.

“Pak Simon itu suka ndagel, guyon, pokoknya kalau ada dia, suasana jadi rame. Diminta jadi MC dadakan langsung sanggup, diminta dekorasi bisa juga. Fleksibel. Seni-nya kuat, link-nya banyak kemana-mana. Perhatian juga sama orang lain. Kalau pas Lebaran sama tahun baru, saya selalu di-SMS ucapan selamat,” kenang seorang Bapak dari Gudang Garam juga.

“Pak Simon itu ibarat pahlawan di tenis meja Jawa Timur. Atlet-atletnya bisa seperti ini berkat beliau. Di Jawa Timur, andalan atlet pingpong kan dari Sanjaya, anak binaannya Pak Simon itu. Di PTM juga jadi Wakil Ketua. Sekarang kami harus mencari pengganti beliau, minimal ya harus yang sama dedikasinya seperti beliau, ga tau ada atau ga…” seorang pengurus dari KONI Jatim menyampaikan testimoninya.

“Ya, begitu itu, kalau orang baik, meninggalnya pun ga menyusahkan orang lain…” ucapan seorang Bapak yang langsung membuatku sangat terharu…

“Pak Simon dan teman-teman dari Gudang Garam sering baksos ke tempat kami. Pak Simon kan koordinatornya. Saya kenal baik betul, ga pernah kelihatan capek, suka menghibur...” kata seorang ibu perwakilan dari sebuah rumah sakit di Pare. Selama bercerita, dia banyak memandang peti jenazah Papiku sambil menghela nafas panjang. 

“Papamu meninggal dengan cara yang banyak diinginkan oleh orang: ga sakit apapun, ga menderita. Kamu harus kuat, Tuhan menyayangi Papamu…” ucap seorang Bapak yang mengaku satu ruangan kerja dengan Papiku semasa masih di Gudang Garam.

“Kamu pasti putrinya Pak Simon,” kata seorang ibu yang datang berombongan dengan teman-temannya kepadaku. Dari seragam yang dikenakannya aku tahu, mereka pasti dari bagian produksi di Gudang Garam. “Iya, Bu,” jawabku. “Wuih, persis banget sama Pak Simon!” katanya yang langsung diamini oleh teman-temannya, “Iya, jan fotokopi plek!” Kemudian setelah beberapa saat berbincang denganku, “Wah, kayak ngomong sama Pak Simon, ya…” katanya. “Beneran lho, ga cuma wajah, tapi cara ngomongnya juga, kamu mirip banget sama Papamu. Jadi inget Pak Simon lagi, nih…” timpal yang lain.

Aku sangat bersyukur. Papi, banyak yang sayang sama Papi…

Sampai tibalah hari Kamis, 23 Januari 2014. Rasanya berat sekali melepasnya diberangkatkan ke krematorium. Banyak pihak mengikutinya kesana. Di krematorium itu, untuk terakhir kali sebelum peti jenazahnya dimasukkan ke tempat kremasi, diadakan doa bersama. Lagu-lagu yang dinyanyikan oleh orang lingkungan gereja menambah keharuan suasana. Aku tidak tahu (dan tidak peduli) bagaimana mukaku karena terus menangis. Hujan deras dan angin kencang terjadi saat peti jenazahnya dimasukkan ke pembakaran, namun tak lama kemudian, langit kembali cerah. Di halaman, kami melepaskan seekor burung merpati, sebagai tanda bahwa ia akan terbang tinggi mengangkasa, menemui Sang Pencipta…

Kremasi memakan waktu yang cukup lama. Esok harinya, kami kembali ke krematorium untuk mengambil abu jenazahnya. Abu jenazah dimasukkan dalam sebuah kendil kemudian diselimuti dengan kain merah, sementara abu dari petinya dimasukkan dalam sebuah kotak kardus. Umumnya, setelah dikremasi, abu jenazah dilarung di pantai atau laut, tetapi sekarang di Pohsarang ada tempat yang bisa digunakan untuk ‘menitipkan’ abu jenazah, bentuknya lemari kecil seperti loker begitu. Untuk mendapatkannya, harus menghubungi Keuskupan Surabaya dan membayar sejumlah harga. Aku adalah orang yang sangat menentang abu jenazah Papiku dilarung. Masa dilarung? Rasanya seperti 'membuang' begitu. Kalau dimakamkan, masih ada tempat untuk mengenang dan mengunjunginya. Tapi kalau dilarung, kemana aku kalau mau mengunjunginya? Bisa jadi Papiku sudah terombang-ambing di lautan dan jauh dari tempat awal melarung.

Tanggal 31 Januari adalah Imlek. Kata tradisi, menjelang Imlek tidak boleh melarung abu jenazah. Maka dari itu, oleh para ‘tetua’ dicarikan ‘hari baik’ yang disesuaikan pula dengan tanggal meninggalnya. Akhirnya terpilih tanggal 3 Februari. Jadi masih ada waktu sekitar 1 minggu sebelum memutuskan apakah abunya mau dilarung atau disimpan di Pohsarang. Sementara menunggu, abu tersebut disimpan di rumah duka Giki. Banyak pihak sudah memberi penjelasan kepadaku, intinya, “Dilarung itu bukan membuang, tapi dikembalikan ke alam, dalam hal ini ke laut, sama dengan dimakamkan ke dalam tanah. Itu kan cuma raganya yang tersisa, sudah jadi abu pula, tapi jiwanya sudah tidak ada. Kalau disimpan di Pohsarang, masa mau dibiarkan ‘terkurung’ gitu? Nanti setelah dilarung, kita bisa mengunjunginya di pantai atau laut mana saja, lalu nabur bunga disitu, sebagai simbolisasi, jadi tidak harus khusus datang ke Pohsarang. Pastinya kita bisa mengenang lewat doa, kita doakan terus…”

Tak henti aku berdoa tentang itu. Banyak hal kupikirkan. Aku ingin memberikan yang terbaik untuk Papiku. Apakah keinginanku untuk ‘menyimpan’nya di Pohsarang baik baginya? Atau lebih baik membiarkannya bebas di alam? Tapi suatu hari tiba-tiba aku mengalami keikhlasan yang luar biasa, rasanya ada yang berkata di pikiranku: tidak apa-apa dilarung, karena tidak akan merepotkan siapa pun. Tuhan, apakah ini tanda dariMu? Papi, apakah ini kehendakmu?
Perlahan-lahan, aku mulai mengikhlaskan abu Papiku dilarung. Baiklah, mungkin ini memang tanda dari Tuhan dan yang terbaik bagi Papiku.

Segala persiapan dilakukan untuk mengiringi acara pelarungan tersebut. Akhirnya tanggal 3 Februari jam 8 pagi, kami pergi ke Pantai Popoh, pantai yang terletak sekitar 30 kilometer sebelah selatan Kabupaten Tulungagung. Beberapa saudara, kerabat, serta orang dari lingkungan gereja turut mengantar kami kesana. Puji Tuhan, perjalanan lancar. Sesampainya disana, tak lupa kami berdoa bersama dengan dipimpin oleh seorang asisten imam. Kami mau menyerahkan Papiku kembali ke alam ciptaan Yang Kuasa. Menghadap ke lautan lepas, dengan ombak tinggi yang berdebur-debur, perasaanku seperti diaduk-aduk. Aku (akan) membiarkan Papiku berada di tempat seperti ini?

Berdoa, berdoa, dan terus berdoa. Aku terus menguatkan diriku. Ketika tiba waktunya pelarungan, mendung tebal menggelayut lalu hujan lebat disertai angin kencang tercurah dari langit. Kendil berisi abu jenazah Papiku sudah berada di laut, begitu pula satu kardus hasil pembakaran petinya. Bunga yang kami taburkan terlihat mengambang di permukaan air. Aku menatapnya lama. Tuhan, aku ikhlaskan Papiku kembali ke pelukanMu…Terimalah ia dalam kerajaanMu… 
Tepat ketika upacara pelarungan selesai, seketika hujan lebat tersebut reda. Kejadian yang sama ketika waktu dikremasi dulu!

Kini, Papiku tinggal kenangan. Terakhir kali aku kontak dengannya lewat SMS tanggal 15 Januari. Beliau berkata, “Nanti kalau pulang dari sini (Bogor dan Jakarta), Papi mampir ke Surabaya, ya…” Janji yang tak akan pernah ditepatinya. Ah, sudahlah, aku mengikhlaskan janji tersebut, daripada membuat Papiku tidak tenang karena aku terus memikirkannya…

Teringat masa kecilku, kau peluk dan kau manja
Indahnya saat itu buatku melambung
Di sisimu terngiang hangat nafas segar harum tubuhmu
Kau tuturkan segala mimpi-mimpi serta harapanmu
Kau ingin ku menjadi yang terbaik bagimu
Patuhi perintahmu, jauhkan godaan
Yang mungkin kulakukan dalam waktuku beranjak dewasa
Jangan sampai membuatku terbelenggu jatuh dan terinjak
Tuhan tolonglah, sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan, ku mampu penuhi maumu...
Andaikan detik itu kan bergulir kembali
Kurindukan suasana basuh jiwaku
Membahagiakan aku yang haus akan kasih dan sayangmu
Tuk wujudkan segala sesuatu yang pernah terlewati…
Tuhan tolonglah, sampaikan sejuta sayangku untuknya
Ku terus berjanji tak kan khianati pintanya
Ayah dengarlah betapa sesungguhnya ku mencintaimu
Kan ku buktikan, ku mampu penuhi maumu...
(Yang Terbaik Bagimu ~~ Ada Band feat Gita Gutawa)

“Tidak ada yang perlu ditabahkan dari sebuah kematian, apalagi didukakan. Mati itu mulia, karena kembali ke keabadian yang sejati”

Selamat jalan, Papiku tersayang…
Augustinus Simon Sujono (24 Mei 1955 - 18 Januari 2014)
Papi akan selalu hidup dalam hatiku,
Beristirahatlah dalam damai,
Berbahagialah dalam kerajaan Allah,
Doaku selalu menyertaimu…


Minggu, 22 Desember 2013

Cinta yang Berhikmat

Haha… Akhirnya momen yang kupertanyakan itu benar-benar terjadi…

Berkaitan dengan blogku sebelumnya, “KetikaNepotisme dan Like or Dislike Berbicara”, kali ini aku akan melanjutkan kisah yang terjadi pada dua manusia berinisial Mr.F dan Ms.R itu.

Sejak Ms.R dinyatakan tidak diperpanjang kontraknya, terjadi dilema antara mereka berdua. Profile picture dan status BBM yang dipasang oleh Mr.F menunjukkan kekecewaan, walaupun ga secara spesifik menyebutkan kenapa dan siapa yang dimaksud, tapi teman-teman disini yang membaca itu pasti udah tau maksudnya. Selama bulan November lalu, mereka terlihat masih bekerja seperti biasa. Ya, perlahan-lahan dalam hati sudah pasrah dan lebih bisa menerima keadaan.

Rupanya, keadaan yang terlihat baik-baik saja itu ga bertahan lama. Pertengahan bulan November, Mr.F menjadi pergunjingan di kalangan departemen BC karena kerjanya mulai ga fokus. Ia yang biasanya semangat dan loyal pada pekerjaannya, jadi mulai sering izin ga masuk karena sakit atau karena hal pribadi lain, jauh lebih santai, dan memantau operasional F&B seadanya aja. Akibatnya, beberapa kali sang OM memanggil dia secara pribadi. Ngajak diskusi, tanya-tanya apa ada masalah yang membuat dia jadi kehilangan semangat kayak gitu. Tapi Mr.F selalu menjawab ga ada masalah apa-apa. Lalu, ketika si OM ga berhasil membuka tabir tersembunyi Mr.F, akhirnya “yang lebih berkuasa” turun tangan. Mr.F pun menghadap Ibu GM. Aku ga tau persis apa yang mereka bicarakan, tapi pastinya ya membahas tentang hal itu.

Hari demi hari berlalu, hingga masuklah bulan Desember. Semakin diperhatikan, fisik Mr.F memang ada di sini, tapi hati dan konsentrasinya entah ada dimana. Suatu hari, beredar kabar yang mengatakan bahwa Mr.F akan resign! Aha! Dugaanku benar terjadi. Aku cukup surprise saat tau hal itu, apalagi para petinggi seperti OM dan GM. Apa sebenarnya yang sedang direncanakan oleh Mr.F? Motivasi apa yang melatar belakangi ia mengambil keputusan itu? Apakah semata-mata karena faktor ga ada Ms.R di kantor ini lagi?

Setelah sekian lama menyimpan ‘rahasia’, akhirnya Mr.F buka suara. Ia mengambil keputusan untuk resign karena melamar kerja di tempat lain, yaitu di sebuah hotel bintang 5 yang terkenal. Memang belum fix diterima, tapi udah hampir pasti. Jadi rencananya dia resign per tanggal 31 Desember. Keputusan yang  cukup berani, soalnya dia masih berada pada masa kontrak. Perjanjian Kerja Waktu Tertentu untuknya baru akan berakhir tanggal 28 Februari 2014. Dengan ia mengajukan resign per 31 Desember, berarti ia harus membayar kepada perusahaan sisa masa kontraknya, yaitu sebesar 2 kali gajinya. Hmmm… Cukup besar lho! Mungkin baginya ga masalah, karena sebentar lagi dia kerja di hotel bintang 5, tentunya gajinya bakal lebih besar daripada disini.

Kami senang kalau ada teman yang punya niat untuk maju, tentunya kami ga akan menghalangi teman yang mau keluar karena memilih karir di tempat yang lebih baik.  Mr.F masih muda, punya potensi, dan kami yakin kalau ia akan terus berkembang di tempat barunya. Apalagi bagi setiap lulusan perhotelan, bekerja di hotel bintang 5 tersebut adalah “impian”. Beruntunglah Mr.F karena mampu menggapai impian tersebut.

Segera setelah Mr.F mengajukan resign, yang kelabakan adalah OM dan HRD. Ya iyalah, soalnya kami harus memilih orang yang menggantikan posisi F&B Manager. Maunya mengangkat supervisor disini, supaya ada jenjang karir, tapi juga pasang iklan lowongan agar ga menutup kemungkinan terjaring orang luar yang mumpuni. Mr.F pun laris “ditanggap” banyak orang untuk dimintai cerita: kenapa resign, bagaimana prosedur seleksi di sana, kapan mulai masuk disana, dan sebagainya

Kalau aku, tetep pada keingintahuanku dari awal: apakah Mr.F resign ini semata-mata mengejar karir di hotel bintang 5 itu atau karena terpengaruh oleh keluarnya Ms.R? Kalaupun memang betul ingin mengejar karir, kenapa harus buru-buru? Kan bisa menunggu sampai kontraknya selesai di akhir Februari, daripada harus membayar ke perusahaan sebesar sisa kontrak itu? Yang paling kecewa dengan keluarnya Mr.F adalah sang GM, karena beliau yang “membawa” Mr.F ke hotel ini. Pastinya beliau berharap agar Mr.F turut andil memajukan hotel ini. Beberapa kali Ibu OM dan GM menanyakan keseriusan Mr.F untuk resign itu. Ya semacam “menahan supaya ga resign” gitu lah… Tapi Mr.F tetep pada keputusannya. Akhirnya manajemen bisa menerima dan menghormatinya.

Seharusnya, ketika seseorang memutuskan untuk resign, dia harus tetap konsentrasi dan melakukan pekerjaannya sampai tuntas. Tapi Mr.F agaknya udah bener-bener ga fokus disini. Melihat hal itu, marahlah sang GM, “Buat apa dipertahankan di sini kalau sudah ga efektif begitu?”, sehingga beliau menyuruh Mr.F segera resign aja, per tanggal 15 Desember. Beliau udah ga mempermasalahkan hitungan “setengah bulan” Desember yang ditinggalkan Mr.F, padahal mestinya masih menjadi tanggung jawabnya. Semua file F&B, juga rincian tugas dan tanggung jawab sebagai FB Manager diserah terimakan kepada OM (sementara, karena belum dapat penggantinya). Jadi, Mr.F beneran resign per tanggal 15 Desember lalu... Ya, mendadak sekali.

Pasca Mr.F resign, keadaan operasional F&B tetap berjalan seperti biasa, karena baik di “Service” maupun “Kitchen” sudah ada supervisornya. Cuma si OM nih yang sedikit ada tambahan kerjaan lagi.

Suatu sore, sudah lewat jam pulang kantor tapi aku masih mengerjakan beberapa tugas yang belum selesai. Kantor sudah sepi, cuma tinggal aku dan si OM. Tiba-tiba si Ibu GM keluar dari ruangannya dan duduk di depan meja OM yang bersebelahan dengan mejaku. Setelah ngobrol ngalor-ngidul, ternyata Ibu GM membahas tentang Mr.F (lagi). Begini katanya,
“Aku tanya sama F, ‘Sekarang umurmu berapa?’ Katanya 23. ’Kamu mau nikah umur berapa? Satu tahun lagi? Dua tahun lagi?’ ‘Ya enggak, Bu, paling umur 29 / 30-an,’ katanya. ‘Kamu sekarang umur 23, mau nikah umur 30. Sekarang kamu rela resign demi cewek itu. Tujuh tahun lamanya, cewek itu mau nungguin kamu terus ta?’ Aku ga habis pikir sama anak itu...” Eh, ternyata Ibu GM membahas hubungan Mr.F dengan Ms.R. “Kalau mau nikah setahun-dua tahun lagi ga masalah sekarang belain cewek itu, lha orang masih panjang jalannya. Gitu ngambil keputusan kok ga mikir panjang… Ya itu yang dibilang cinta itu buta, cinta tai kucing rasa coklat...” curhatnya.
“Yah, namanya anak muda, Bu…” kata si OM menanggapi.

Tiba-tiba Ibu GM beralih ke aku. “Makanya Arzy, kamu kalau masih pacaran, jangan lupa berdoa...”
“Oh, iya, Bu,” kaget juga aku, tau-tau dibilangi kayak gitu.
“Selama belum nikah, doa minta hikmat sama Tuhan, supaya motivasi mencintai itu ga salah. Bilang sama Tuhan, berikan aku hikmat supaya aku bisa mencintai orang lain seperti Engkau mencintai aku. Aku tau cewek itu (Ms.R –red) nangis-nangis katanya ga mau pisah sama F. Lha kalau gitu apa udah bener motivasi cintanya? Mestinya kan ya mendukung, kalau F mau berkarir di sini, bukan malah bikin kerjanya jadi ga fokus begitu… Si F juga gitu, malah mbelain yang cewek sampai kayak gitu kelakuannya. Kalau cinta yang berhikmat itu datangnya dari Tuhan, pasti nanti mencintai pasangan itu berlandaskan takut akan Tuhan, saling mencintai dengan jujur, untuk kebaikan, sama kayak cintanya Tuhan ke kita gitu… ”
Hmmm… sore-sore, dapat “wejangan” dari Ibu GM.

Cinta yang berhikmat. Memang aku belum pernah dengar istilah itu, tapi oke juga kok, dapat masukan baru untuk memperkaya pengetahuan dan iman.
Tuhan memang dapat menggunakan siapa saja, kapan saja, dimana saja, dalam keadaan apapun juga, untuk memberitakan kasihNya kepada umatNya. Contohnya ini, lewat kejadian Mr.F dan Ms.R dan lewat Ibu GM, aku jadi diingatkan untuk terus berdoa. Apalagi di masa-masa sebelum menikah ini, aku harus terus memantapkan diri untuk mencintai pasangan dengan motivasi dan tujuan yang benar, supaya aku ga salah langkah dan menyesal di kemudian hari. Pastinya aku juga menambahkan satu pokok doa lagi, yaitu supaya aku dapat cinta yang berhikmat…

“Tuhan, berikan aku hikmat supaya aku bisa mencintai orang lain seperti Engkau mencintai aku. Amin.”


Kamis, 07 November 2013

Ketika Nepotisme dan "Like or Dislike" Berbicara



Tersebutlah sebuah kisah nyata tentang anak manusia. Peristiwa ini terjadi dekat denganku, di lingkungan kerjaku. Sekarang aku kerja di sebuah hotel bintang 3 di Surabaya. Dengan jabatan yang lebih tinggi, gaji yang lebih baik, dan fasilitas yang memadai. Well, I think it’s good for my career. Menjabat sebagai HRD Supervisor, kerjaanku memang lebih banyak, dan otomatis dituntut jiwa kepemimpinan. Tapi itu sembari berjalan lah, karena aku juga masih baru kerja di dunia perhotelan, masih harus banyak belajar, karena sistem kerjanya beda dengan kantor pada umumnya.

Pembagian kerjanya ada beberapa departemen. Pertama, departemen Bussiness Centre (BC), tempat para staf berkumpul, seperti Marketing, Purchasing (bagian belanja/pembelian), Receiving (bagian penerima barang-barang), Inventory (bagian stok dan mencatat barang keluar-masuk), Operation Manager, General Manager, Accounting, Legal, Administrasi, juga HRD. Lalu ada departemen operasional yang terdiri dari Food and Beverage Product (FBP), Food and Beverage Service (FBS), House Keeping (HK), Front Office (FO), Maintenance Engineering (ME), dan Maintenance Building (MB). Hotel beroperasi 24 jam, sehingga ada sistem kerja shift, kecuali departemen BC. Jadwal kerja diatur oleh masing-masing kepala departemen, jadi HRD tinggal mencocokkan antara jadwal dengan “real presensi”-nya karyawan, soalnya pasti banyak yang tukar shift atau off.

Selain karyawan tetap dan kontrak, ada yang namanya karyawan Cassual, yaitu mereka digaji per hari. Ada pula Trainee. Nah, para Trainee ini diambil dari sekolah-sekolah kejuruan (SMK), diutamakan yang jurusan perhotelan. Anak-anak Trainee ini mengikuti On The Job Training (OJT) yang direncanakan oleh sekolah mereka, biasanya selama periode 6 bulan. Jadi mereka ga digaji karena bekerja sebagai bagian dari program pendidikannya, cuma diberi makan siang. Itulah yang aku rasakan, enak kerja di hotel, karena dapat makan siang di kantor. Makanannya bukan nasi bungkus, tapi prasmanan, ambil sendiri sepuasnya. Kenyataannya, anak-anak BC tempatku berada ini makannya banyak-banyak! Mereka ga malu untuk nambah. Ga cowok, ga cewek, makannya kalap semua! Awalnya aku masih malu-malu, tapi lama-lama ngikut juga, hahaha…

HRD disini lebih ribet. Total karyawan tetap dan kontraknya sih cuma 39 orang, tapi ditambah Cassual dan Trainee yang selalu berubah-ubah, belum lagi yang outsourcing juga banyak. Karyawan yang outsourcing itu driver, security, ME, gardener, dan pest control. Jumlah karyawannya jadi sekitar 100 orang.

Apa yang diutamakan oleh sebuah hotel? Tentu saja kepuasan tamu. Gimana tamu bisa puas dengan segala pelayanan dan fasilitas hotel lalu bisa kembali lagi dengan membawa kenalan serta sanak keluarganya, atau merekomendasikan hotel ke orang lain. Hotel tempatku bekerja tergabung dalam PHRI (Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia), dimana setiap 3 tahun sekali akan diadakan “klasifikasi” untuk menentukan kelayakan bintang 3 yang kami miliki. Kebetulan tanggal 27 Oktober lalu, klasifikasi itu dilakukan. Lima orang dari PHRI datang, dan yang mengikuti “sidang klasifikasi” adalah seluruh supervisor dan manager, termasuk aku, padahal aku baru masuk kerja 1 minggu! Wow, itu pengalaman yang sangat berharga. Tentunya sebelum itu aku diajari dulu apa aja yang harus HRD persiapkan untuk menghadapinya. Jadi aku bisa tau apa aja yang orang-orang PHRI itu lakukan di hotel. Puji Tuhan, hasilnya positif, PHRI memutuskan hotel kami masih layak menyandang bintang 3.

Itulah sekilas tentang kerjaan baruku. Berikutnya, aku ga cerita tentang bagaimana kerjaanku disini, tapi aku pengen sharing tentang yang aku kemukakan di awal: kisah nyata tentang dua orang manusia yang terjadi di lingkunganku ini…

Sebut saja namanya F. dia seorang Manager Food and Beverage. September 2012, dia masuk kesini dengan jabatan Supervisor. Tapi 6 bulan kemudian, ia naik pangkat menjadi Manager. Ternyata, menurut kesaksian HRD lama (yang posisinya aku gantikan ini), Mr.F ini masih punya hubungan kerabat dengan sang General Manager, yaitu keponakannya. Bukannya berpikiran negatif, tapi praktek nepotisme semacam ini memang jamak terjadi di perusahaan. Setelah aku lihat, ternyata Mr.F ini ga serta-merta naik pangkat hanya karena dia keponakannya GM, tapi dia memang layak dan punya kemampuan untuk itu. Evaluasi kinerjanya bagus, dia cerdas, pengetahuannya tentang food and beverage bagus, pintar masak, juga pintar mengatur anak buah. Wajar aja, soalnya dia lulusan S1 perhotelan di Malaysia, dan guess what: umurnya masih 23 tahun! Wow, anak muda yang energik, pokoknya oke lah!

Ceritanya, Mr.F yang charming ini menjalin hubungan dekat dengan seorang karyawati bagian Inventory, sebut saja namanya R. Aku ga tau sedekat apa hubungan mereka, tapi katanya jalinan asmara itu sudah berlangsung semenjak Ms.R masuk kerja di sini, yaitu 6 bulan yang lalu. Aku cuma pernah lihat beberapa kali mereka berdua ngobrol dengan serunya, si Mr.F juga sering mampir ke tempat kerjanya Ms.R. Lama-lama, hubungan mereka berdua sampai ke telinga si Ibu GM.

Sepertinya, Ibu GM ga suka terjadinya kisah kasih dua orang itu. Entah apa sebabnya. Apa mungkin karena perbedaan jabatan diantara keduanya? Ah, masa gitu aja dipermasalahkan? Entahlah. Padahal Ms.R itu ga jelek, lumayan manis kok. Seumuran dengan Mr.F dan masih single juga. Aku taunya waktu beberapa hari lalu, si Ibu GM bisik-bisik dengan Operation Manager (OM) yang duduknya di sebelahku, “Kok mereka mepet-mepet terus sih?” Si OM juga menanggapi dengan seru, “Iyo, pancet ae. Padahal wes ditegur…” Aku ga terlalu dengar mereka ngomongin apa lagi, yang pasti aku jadi tau, oh ternyata dia ga suka.

Hingga terjadilah peristiwa itu: evaluasi karyawan. Setiap 6 bulan sekali, karyawan akan dievaluasi kinerjanya. Bagi yang masih kontrak, hasil evaluasi menentukan apakah diperpanjang kontraknya (untuk 6 bulan berikutnya), diangkat menjadi karyawan tetap, atau diberhentikan (tidak diperpanjang kontraknya). Miss R masuk pada tanggal 1 Juni 2013, jadi kontraknya akan berakhir tanggal 30 November nanti. Akhir bulan Oktober lalu, ia dievaluasi. Aku yang merekap hasil evaluasi itu, dan terlihat memang evaluasinya kurang bagus. Si OM bilang ke aku, “Sebenernya R itu kerjanya bagus banget ya enggak, tapi juga ga jelek, jadi biasa aja. Tapi memang dia belum bisa memenuhi target untuk merekap semua inventory di hotel. Selama ini dia fokusnya cuma inventory bahan makanan punyanya kitchen aja, padahal yang namanya inventory itu semua bagian, termasuk apa aja yang ada di kamar, stok-nya house keeping, dan sebagainya. Lagian, staf di bagian itu terlalu banyak, padahal mestinya bisa ditangani oleh jumlah yang kurang dari sekarang. Pilihannya, memang harus ada 1 orang yang kita keluarkan. Yang lain, masa kerjanya sudah lebih dari 1 tahun. R itu yang paling baru, jadi keputusan manajemen, sepengetahuan dan persetujuan GM, kontraknya R ga akan kita perpanjang.”

Hmmm, oke kalau itu keputusannya. Sesuai peraturan, 1 bulan sebelum jangka waktu kontrak berakhir, perusahaan harus menyampaikan pada karyawannya. Tanggal 1 November yang lalu, si OM memanggil Ms.R dan menyampaikan hasil evaluasi. Plus, keputusan untuk “memberhentikan” nya per 30 November nanti dengan alasan utama “kinerjanya kurang bagus”. Tapi, dibalik keputusan dan semua alasan yang dikemukakan oleh manajemen atas itu, aku masih bertanya-tanya, mungkinkah alasannya hanya murni karena itu? Apakah ada faktor-faktor lain yang turut mempengaruhinya?

Analisaku, mungkinkah faktor “like or dislike” terjadi di sini? Faktanya jelas, Ibu GM ga suka keponakannya (Mr.F) dekat dengan Ms.R. Sebagai seorang yang mempunyai kedudukan di perusahaan, tentu Ibu GM berhak untuk mempekerjakan seseorang dan/atau memberhentikan karyawannya. Terlepas dari apapun alasan yang dikemukakan, semua menjadi mungkin sebab untuk “menutupi” maksud sebenarnya, yaitu ‘memisahkan’ mereka berdua. Aku ga tau mengapa, benar atau ga, ini hanya opiniku aja…

Nepotisme dan “like or dislike” di dunia kerja memang ga objektif. Aku juga pernah merasakannya. Aku pernah bekerja di perusahaan milik kakak sepupuku. Masuk ga pakai tes dan interview. Tapi aku ga langsung menduduki jabatan atas, waktu itu aku hanya staf biasa, staf editor. Awalnya memang terasa ga nyaman, dengan hubungan “adik sepupunya bos”, aku sempat takut dimusuhi dan dianggap sebagai mata-mata. Tapi syukurlah aku membuktikan bahwa aku layak untuk menduduki posisi itu. Aku memang masuk berdasarkan nepotisme, tapi aku bukanlah orang yang ga berkemampuan. Aku punya kapabilitas untuk bekerja dan mampu berkontribusi positif ke perusahaan. Tapi dibalik itu, ada ga enaknya juga kerja di tempat saudara. Walaupun teman-temannya baik, jadi ga bebas gitu rasanya.

Selain nepotisme, banyak sekali contoh “like or dislike” di kantor. Setiap pindah kerja, aku selalu nemu kasus seperti itu. Misalnya yang disukai atau dekat dengan bos akan cepat naik pangkat dan/atau naik gaji, sedangkan yang ga disukai atau dianggap mengancam otoritas bos akan ‘disingkirkan’ baik dengan cara halus, misalnya dipindah ke divisi/cabang lain, atau dengan cara seperti yang dialami Ms.R, yaitu diberhentikan. Melihat semua aspek yang terjadi di kasus Mr.F dan Ms.R, aku berkesimpulan pasti ada unsur “like or dislike” itu, walaupun mungkin sedikit sekali.

Gimanapun juga, keputusan manajemen ga akan berubah. Ms.R tetap diberhentikan dan entah apa yang akan terjadi pada Mr.F beserta hubungan mereka berdua. Memang ga ada yang bisa memungkiri terjadi peristiwa “jatuh cinta” dengan rekan kerja. Toh selama keduanya masih single, ga masalah kan? Lain lagi ceritanya kalau kedua insan yang terjerat “cinta lokasi” itu memutuskan untuk menikah. Kebanyakan perusahaan ga memperbolehkan sesama karyawan menikah, jadi akhirnya salah satu harus keluar. Kalau sudah gitu, penyelesaiannya ya tergantung keputusan kedua belah pihak.

Lokasi hanya akan memisahkan kedekatan raga, tapi siapa yang dapat menduga kedalaman hati seseorang? Mungkin aja Mr.F dan Ms.R tetap memutuskan untuk bersama walaupun salah satunya ga di kantor ini lagi. Masih banyak tempat di luar sana yang bisa menjadi ajang mereka bertemu. Malah enak kan, kalau biasanya ‘pacaran’ di kantor serba canggung karena batasan rekan kerja, di luar sana justru lebih bisa bebas. Hehehe…  Jadi, untuk sementara, ini yang bisa aku laporkan dari TKP tentang hal ini. To be continued…
Kalau mungkin ada kejadian apa lagi, akan aku tuliskan selanjutnya.