Senin, 21 Oktober 2013

Farewell SAF!


Sabtu, 19 Oktober 2013, adalah saat aku harus bilang selamat tinggal pada rekan-rekanku di kantor, Sasana Artha Finance. Selama dua tahun 7 bulan bekerja di SAF, aku sudah mengalami banyak proses, pembelajaran, kebersamaan, dan segala suka-duka.

Flashback, Maret 2011
Aku diterima bekerja di SAF dengan jabatan HRD. Surprise juga saat dibawa kenalan keliling kantor oleh partnerku, Mbak Dwi, waktu itu. First impression: wow, orangnya banyak banget! Kok banyak cowoknya? Kok mukanya tua-tua? Hehe... Secara umum sih cukup terkesan dengan fisik kantornya, fasilitasnya oke, juga keberagaman manusia yang ada disini.

Beda dari kerjaanku sebelumnya sebagai editor dan penulis di media penerbitan buku, HRD merupakan suatu hal baru. Aku belajar mulai dari hal sederhana seperti meng-update dan mengelola data-data karyawan, merekap presensi dan izin, menghitung cuti, hingga yang agak ribet seperti memeriksa dan memproses klaim medical, klaim rumah sakit, klaim perjalanan dinas; memproses lembur; kontrak kerja karyawan (buat baru, perpanjangan, jatuh temponya); berbagai hal yang berhubungan dengan pihak luar seperti psikotes, tes kesehatan, dan asuransi; serta tugas-tugas lainnya. Aku juga belajar mengoperasikan program yang dimiliki kantor yaitu PGA (Personal and General Affairs) dan EMF (E-Multi Finance). Segala laporan yang berkaitan dengan ketenaga kerjaan diproses dari program itu. Aku rasa PGA memang membantu meringankan kerjaan, tapi bisa juga membuat sebel luar biasa kalau pas muncul lemotnya, bahkan eror!

Satu bulan bekerja, aku masih adaptasi, ternyata Mbak Dwi resign. Otomatis aku mengambil alih kerjaannya. Sebenernya Mbak Dwi menangani HRD dan GA, tapi mungkin karena aku masih baru, sementara kerjaan HRD dan GA cukup banyak, akhirnya si bos memilihkan rekan kerja buatku, yaitu Mbak Tri (jangan-jangan ntar kalau Mbak Tri resign, penggantinya Mbak Catur, lalu Mbak Panca, dan seterusnya. Hahaa...) Jadi aku fokus ke penanganan SDM dan hubungannya di dalam kantor, sedangkan Mbak Tri sebagai GA menangani hal yang berhubungan dengan SDM bersama pihak luar, seperti pajak, barang cetakan, akomodasi dan transportasi kalau ada training, dan sebagainya.

Sepeninggalan Mbak Dwi, bagai anak ayam kehilangan induk, aku sempat bingung karena kalau ga ngerti, nanya ke siapa? Masa dikit-dikit ngetok pintu ruangan si Bapak buat nanya? Tapi, di kantor juga ada personalia namanya Mbak Dina. Kalau aku dan Mbak Tri mengurusi karyawan SAF seluruh cabang di Indonesia, Mbak Dina ini khusus personalia kantor cabang Surabaya. Thanks God, masih ada Mbak Dina, jadi masih bisa tanya-tanya kalau ada yang ga dimengerti.

Hari demi hari berlalu di SAF, ternyata HRD ga se-ribet yang kubayangkan sebelumnya. Mungkin karena kerjaanku lebih ke arah administrasinya, filing dokumen, rekap-rekap, dan semacamnya. Aku punya banyak temen HRD (awalnya temen waktu kuliah), lalu sering sharing pengalaman kerja. Ada temenku yang tanya, “Kamu bisa ngitung Jamsostek? Prosesnya gimana gitu?”
“Ga bisa. Cuma daftarin awal aja.”
“Bisa payroll?”
“Ga bisa. Itu ditangani sama bos di Jakarta.”
“Interview? Psikotes?”
“Ga juga.”
“Wow, lha terus kerjaanmu apa?”

Hahaha... Aku tau temenku cuma bercanda. Tapi berdasarkan itu, aku jadi mikir, ternyata banyak hal ketenaga kerjaan yang belum aku pahami. Bayangan awalku, HRD itu dijadikan tumpuan penyelesaian setiap persoalan karyawan, seperti kalau ada pelanggaran kedisiplinan, rendahnya kinerja, ada yang mengundurkan diri, kekacauan perhitungan lembur, persetujuan gaji, serta keputusan-keputusan lain yang menyangkut kepegawaian. Akibatnya, HRD terkesan seperti “polisi”-nya karyawan, yang tugasnya mengawasi aduan/pelanggaran/tuntutan, lalu menertibkannya. Padahal sebenarnya, HRD harus jadi penengah antara kepentingan karyawan dengan perusahaan, harus punya tanggung jawab moral untuk mengatakan “yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah”, baik untuk perusahaan maupun karyawan. Atau HRD juga bisa menjadi seperti “Santa Claus”, yang disanjung karena memberikan anugerah berupa bonus atau kenaikan gaji? Sebaliknya, bila ga ada bonus atau kenaikan gaji, berarti juga “dosa” HRD? HRD pun bisa menjadi sasaran umpatan atau -parahnya- menjadi “musuh bersama”, bila ada kebijakan perusahaan yang merugikan karyawan. Hmmm, kayaknya selama di SAF aku ga pernah ngrasain itu semua deh, haha! Adem ayem aja nih kerjaan... Bukannya minta ada masalah, tapi nothing more challenging...

Kadang yang membuat agak repot adalah waktu ditelepon pihak bank, seperti ini:
“Halo, ini HRD, ya? Bisa minta alamatnya si X? Nomer telepon terbarunya? Soalnya dia ga bayar tagihannya. Di rumahnya ga ada, ditelepon ga aktif, bla.. bla.. bla..”
“Karyawan X sudah resign, Pak. Saya tidak tau ada update info terbaru dari dia.”
“Masa ga ada nomer teleponnya? Anda jangan bersekongkol menyembunyikan orang ini lho ya!”
Buseett, sapa yang mau menyembunyikan orang?? Lebay deh ni orang...
Atau pernah juga begini:
“Halo, ini HRD, ya?” Bilang sama karyawan Anda si Q, maling itu. Dia sudah ga bayar utang 3 kartu kreditnya, totalnya ada (xxx) juta! Gimana Anda sebagai HRD kalau karyawan Anda seperti itu? Bilangin ya, suruh transfer hari ini juga! Kalau ga, bla..bla..bla...”
Hadeh... “Iya, saya sampaikan,” kataku sama si orang bank itu.
Jadi itulah HRD yang ga cuma bisa direpoti sama karyawan (rekan kerja) sendiri, tapi juga ikut diomeli orang lain, padahal ga tau-menau masalahnya. Bukan repot mengurusi penyelesaian masalah antara si karyawan dengan pihak bank, tapi karena harus mendengarkan orang bank yang ngomel-ngomel di telepon, kadang masih aja ngotot ga percaya walau udah dibilangi.

Berkutat dengan hal yang sama setiap hari, pasti semua orang pernah merasa bosan sama kerjaannya. Ketika bosan melanda, aku mulai galau dan mempertanyakan "Aku: Editor atau HRD?" Untungnya kawan-kawan di sini baik, lucu-lucu, jadi masih ada hiburan dengan cara ngobrol lewat chating di YM, hehe... Lalu aku bersyukur karena diberi kesempatan untuk dinas ke Jakarta. Setidaknya udah membantu mengatasi rasa bosan karena tinggal di lingkungan yang baru. Tanggal 10-31 Desember 2012, aku bertugas di kantor Jakarta. Seru juga! Kenalan sama orang-orang di kantor sana, janji ketemuan sama temen lama yang kerja di Jakarta, jalan-jalan, mencoba makanan-makanan baru, asik deh pokoknya! Malah sebelum pulang, salah satu bos disana bilang, “Lho, pulang? Bukannya mutasi dari Surabaya kesini?”
“Ooo... Siap, Pak. Asal ada penyesuaian jadi berapa (gajinya)?” hehehe...

Januari 2013, mengapa hal ini terjadi: Mbak Dina resign! Waduuh... Tiada lagi tumpuan pertanyaanku. Setelah Mbak Dina resign, kerjaan personalia Surabaya jadi melimpah ke aku. Susyahnya, kenapa kantor ga cari pengganti? Aku jadi dobel-dobel kerjaan. Bukannya ga mau, bukannya mengeluh, tapi aku minta naik gaji 2x lipat dong! Hehehe... Syukurlah badai segera berlalu. Mulai April, salah satu karyawan dirotasi menjadi personalia, Mbak Maria. Aku udah cukup menguasai sistem kerja personalia, jadi bisa mengajari sekaligus mengembalikan kerjaannya Mbak Dina dulu ke dia.

Sampai terjadilah peristiwa "Kecelakaan Menjadi Pengubah Semangat" itu. Lebih dari dua bulan absen dari kerjaan, begitu masuk aku kaget oleh perubahan dari EMF ke program baru, Confins. Sistem kerja HRD juga berubah. Aku yang dulunya laporan cuma 1 bulan sekali di awal, sekarang bisa 3x: awal, tengah, dan akhir bulan. Form laporan berubah, sistem pembayaran klaim (medical, rumah sakit, perjalanan dinas) berubah, pokoknya sangat banyak perubahan. Butuh kesabaran ekstra saat menghadapinya, soalnya selain lebih ribet, aku kan juga belum fit 100%, jadi ga boleh terlalu capek. Bener aja, pasca perubahan sistem, kerjaanku jadi tambah banyak. Alurnya lebih panjang, menuntut follow up yang kontinyu. Ditambah sistem recruitment swadaya dimulai, berupa psikotes. Jadi mulai banyak ngetes calon karyawan. Belum lagi kalau dikomplain sama yang ngeklaim karena klaimnya ga dibayar. “Waduh, Pak/Bu, saya tuh udah laporan soal klaimnya. Lha yang transfer kan bukan saya, tapi pihak Jakarta. Jadi saya ga tau kalau belum dibayar sampai sekarang...”
Frustasi juga lama-lama... (=___=”!)

Alhasil, setelah 3 bulan menghadapi rutinitas yang lebih sibuk dan complicated, kesehatanku drop lagi. Dokter menyarankan aku untuk lebih banyak istirahat. Memikirkan dampak jangka panjang untuk kesehatan, akhirnya aku mengambil keputusan ini...
Sama seperti waktu memutuskan untuk resign dari kantor yang lama, keluar dari zona nyaman yang telah membesarkan semangatku selama ini sangatlah amat sulit! Ada ketakutan tersendiri. Tapi aku kan masih muda dan single (:but not available), jadi HARUS BERANI mengepakkan sayap dan menyongsong kehidupan baru di luar sana yang lebih menantang. SAF udah memberikan banyak ilmu dan pengalaman, dari aku yang ga tau apa-apa, belajar semua sistem HRD dari nol, sekarang udah tau gimana HRD itu, dengan segala kompleksitas yang ada.

Terima kasih buat kalian semua, baik yang di Surabaya maupun di cabang lain, atas kerjasama dan persahabatan yang kita jalin selama ini. Maafin ya kalau ada salah-salah kata dan perbuatan, karena kita ini ga sempurna (Sempurna itu hanya milik Gita Gutawa dan Andra & The Backbone).

Terakhir, aku mau sharing salah satu lagu favoritku. Aku tau keadaannya memang lagi ga mudah. Lagu ini selalu berhasil menyemangati aku, di kala aku jatuh dan merasa hopeless...

There’s a hero, if you look inside your heart
You don’t have to be afraid, of what you are...
There’s an answer, if you reach into your soul
And the sorrow that you know will melt away...
And then a hero comes along, with the strength to carry on
And you cast your fears aside, ‘cause you know you can survive!
So when you feel like hope is gone, look inside you and be strong!
And you’ll finally see the truth, that a hero lies in you!
Lord knows, dreams are hard to follow,
But don’t let anyone tear them away...
Hold on, there will be tomorrow,
In time, you’ll find the way!
(Hero ~~ Mariah Carey)
  
Tetep semangat yaa, teman-teman! ^_____^
Goodbye, SAF. You’ll always be in my heart...

Ini akan menjadi kenangan :)

Kamis, 10 Oktober 2013

Kejutan Dari Teman Baru

PERHATIAN! Demi melindungi privasi, tulisan ini merahasiakan beberapa info dan data dari para pelaku di dalamnya. Jika ada ketidakjelasan hari, tanggal, tempat, tujuan, dan hal-hal lain, ini merupakan kesengajaan.


Minggu lalu, aku punya teman baru. Berawal dari tujuan melengkapi beberapa syarat administratif, aku menuju sebuah kantor di Jalan Manyar itu. Kebetulan aku ditemui oleh seorang pria muda yang rapi, dan... well, aku akui dia good looking. Sebut aja namanya Sendy. Setelah ngobrol menanyakan hal-hal yang harus aku lengkapi, dia berjanji, ”Nanti saya hubungi kalau jadi, ya...” Lalu kami bertukar nomor HP agar lebih mudah berkomunikasi.

Beberapa hari berlalu tanpa kabar, aku follow up perkembangan administrasiku ke Sendy lewat SMS. Satu kali, ga dibales. Besoknya, aku kirim SMS lagi. Ga dibales lagi! Akhirnya setelah hampir ngirim SMS ketiga, dia menghubungi aku. Katanya, administrasi yang aku urus sudah selesai. Oke, lega, case closed.

Setelah itu, aku ga pernah nyangka kalau obrolan dengan Sendy bakal berlanjut. Perkiraanku sih, mungkin karena aku keukeuh banget nanya, dia jadi terkesan: gigih banget ini orang, haha... (aku nulis begini karena belum konfirmasi ke dia bener atau ga. Peace, Sen! Y^_^Y)
Dia memang baik dan sebab utama obrolan kami bisa nyambung adalah karena kami lulusan fakultas yang sama dan berprofesi sama. Awalnya aku manggil dia ”Pak” untuk menunjukkan penghormatan, padahal sebenernya dia ga pantes dipanggil ”Pak”. Mungkin dia cuma lebih tua 1-2 tahun dari aku. Suasana mulai cair saat dia bilang, ”Jangan panggil Pak ah, panggil aja Sendy”. Jadi kami biasa ngobrol lewat Whatsapp, bertukar info tentang kerjaan. Gimana kerjaanmu disana? Ngapain aja? Kalau aku di sini seperti ini, bla.. bla.. bla... Oh, kamu disana kayak gitu?
Yah, begitulah. Seru aja, karena pada dasarnya aku memang suka menambah teman, suka belajar dan memperluas pengetahuan, apalagi dari orang baru.

Lama-lama, obrolan kami ga cuma soal kerjaan lagi. Mulai seru-seruan, saling mengorek informasi pribadi. Suatu hari, dia bilang kalau bisa ilmu grafologi (membaca tulisan tangan dan tanda tangan untuk menentukan kepribadian seseorang). Wah, aku juga pernah baca tentang grafologi, jadi tau sedikit-sedikit. Bisa grafologi memang menunjang profesi kami yang banyak berhubungan dengan orang. Ilmu grafologi itu sangat menarik dan aku memang sudah lama mau belajar lebih lanjut, mau menekuni, juga karena profesi sebagai seorang Grafolog masih jarang ada di Indonesia. Tapi pertimbangannya, kursus grafologi itu mahal banget! Jadi selama ini aku cuma belajar dari internet. Nah, mumpung punya temen yang (ngakunya) bisa grafologi, apa salahnya belajar dari dia? Aji mumpung. Hehe...
Untunglah, dia juga punya pikiran yang sama dengan aku. Jadi kami mau belajar bareng. Dari situ nanti bisa sharing pengetahuan, karena yang aku tau belum tentu dia tau, dan sebaliknya, sekaligus meyakinkan: bener ga sih grafologi yang aku pelajari dari internet itu?

Pada hari dan jam yang telah disepakati bersama, kami ketemuan di suatu tempat. Ini bukan kencan, lho! Ini adalah ”belajar bersama”, hahaa... (kayak anak sekolah aja)
Minta kertas dan pinjam pulpen dari waiter-nya, aku tanda tangan, lalu minta dianalisa. Hasilnya:
Katanya aku punya ”sense of  art” yang tinggi >> Betul.
Katanya aku mempunyai kekaguman pada orang tua >> Betul.
Katanya aku punya emosi yang besar (bisa positif ataupun negatif), tapi masih bisa menyalurkan dengan baik dan dikontrol oleh rasio (misalnya apa yang aku lakukan untuk emosi ini) >> Betul.
Katanya aku masih sering mengingat masa lalu, dan walaupun masa lalu itu berakhir dengan baik, masih menyisakan ’sesal’ atau ’tanda tanya’ yang ga pernah bisa tuntas. Kalau berakhir dengan ga menyenangkan, bisa menimbulkan kekecewaan dan ’dendam’ yang harus dipenuhi >> Bisa jadi.
Katanya dalam hal menyelesaikan masalah, aku cenderung kurang mantap dan kurang stabil >> Kadang-kadang.
Katanya aku punya kebutuhan yang tinggi untuk dilindungi >> Betul.

Hmm, interesting! Dia ungkapkan lebih banyak dari itu, memang ga semua betul 100%, malah ada yang salah (ga aku cantumkan soalnya lupa). Aku kagum sama pengetahuannya. Waktu gantian aku coba analisa tanda tangannya, syukurlah ternyata info yang aku dapat dari internet itu cukup akurat. Walaupun aku ga bisa menjelaskan sebanyak dia, tapi dia mengakui kalau cocok dengan kepribadiannya. Seneng banget, soalnya belum terlalu kenal, jadi belum tau pribadinya seperti apa, tapi lewat tanda tangan bisa dianalisa dan lumayan sesuai. Keren! ^_^

Didorong oleh keinginan yang kuat untuk bisa, aku jadi minta diajari, bagian-bagian mana yang bisa membuat dia menganalisa pribadiku seperti itu. Sambil guyon, dia bilang, ”Belajar ini biayanya mahal, lho! Kamu bisa bayar ga?” haha...

Ternyata sama kayak aku, dia ga belajar grafologi secara khusus yang membutuhkan biaya mahal itu. Dia belajar grafologi dengan cara menggabungkan berbagai interpretasi dari tes grafis psikologi. Kalau kalian dipsikotes, pasti diminta menggambar sesuatu. Bisa orang, pohon, atau orang-rumah-pohon, bisa juga melengkapi gambar dari bagian yang sudah ada, kan? Nah, secara psikologi, semua gambar itu bisa diinterpretasikan sebagai kepribadian seseorang. Setiap tarikan garis, lengkungan, titik, arsiran, coretan, proporsi gambar, penekanan, bahkan bekas yang tertinggal akibat hapusan pensil pun bisa dianalisa. Wow, kalau dia bisa belajar sendiri dengan menggabungkan interpretasi dari tes grafis, itu mengagumkan, soalnya pasti ga gampang. Analisa tes grafis ga boleh sembarangan, harus hati-hati banget, teori harus kuat, dan pastinya grafologi juga gitu. Bahkan, para Grafolog yang aku tau, sampai pakai kaca pembesar dan penggaris waktu menganalisa tanda tangan atau tulisan seseorang. Keren! ^_^

Setelah Sendy menjabarkan bagian-bagian dari tanda tanganku berikut penjelasannya, aku masih penasaran pengen belajar. ”Ayo sekarang yang tulisan tangan. Kamu analisa tulisanku, ya...”
”Aku ga bisa kalau tulisan tangan. Aku bisanya cuma tanda tangan.”
Hah? Aku kaget waktu dia bilang gitu. Heran jadinya, bukannya itu satu kesatuan, ya? Mungkin karena dia belajarnya dari tes grafis aja, jadi cuma bisa menerjemahkan yang tanda tangan.
Kalau gitu, gantian aku yang beraksi, haha... Setelah dia nulis beberapa kalimat, aku coba menganalisanya. Yeah, akurat juga! Yaa, tetep ada yang salah, tapi sekali lagi, aku cukup bangga akan hasilnya. Hehehe...

”Kamu kok ga mau tau sih, dari bagian mana aku bisa analisa kayak gitu?” tanyaku saat melihat dia ga bereaksi antusias pengen tau.
”Ga, aku memang ga mau tau kok,” katanya tapi dengan tampang cengengesan.
”Oooh, curang. Ga mau bayar, ya?”
”Hahahaa...” dia ketawa.
Apa jangan-jangan emang dia udah bisa jadi ga perlu dikasih tau...

Terakhir, aku unjuk kemampuan lain: membaca garis tangan. Aku juga belajar otodidak, dari buku. Ketika telapak tangannya terentang di hadapanku, dari garis-garisnya aku melihat bahwa, "Wah, kamu orangnya tenang banget!”
”Iya, bener,” balasnya ngangguk-angguk.
Mencoba analisa yang lain lagi, ternyata kecenderungannya masih sesuai. Wah, lama-lama aku bisa jadi dukun beneran ini. Amiinn *eh?

Dua jam nongkrong, ngobrol, makan, dan belajar grafologi. Nice experience with new friend.
Aku bersyukur karena Tuhan merancangkan ini semua. Saat lagi antusias dengan grafologi, eh kenalan dengan orang baru yang ternyata bisa grafologi. Sendy orangnya asyik, seru, ramah, mbanyol, dan ga pelit berbagi ilmu. Walaupun dia lebih pinter grafologinya daripada aku (tapi dia ga mengakui kalau dia pinter), dia menerima masukan saat aku berpendapat, misalnya ”Setauku di tanda tangan itu ga boleh ada lingkaran, soalnya menunjukkan  sifat posesif atau over protektif...”
”Oya? Bisa jadi referensi tuh... Coba ntar aku cari tau juga.”

Jadi memang bener, jika diibaratkan diri kita adalah gelas yang penuh berisi air, ketika kita ga membiarkan air itu dituang ke tempat lain, kita ga akan pernah diisi dengan air baru. Lewat teman baruku, aku  menyemangati diri sendiri untuk menjadi manusia baik yang bermanfaat bagi orang lain.
Keep moving, keep challenging, keep improving!
    

Senin, 02 September 2013

It's Our New Start

Minggu lalu merupakan masa penting dalam hubunganku dengan pacarku. Akhirnya kesempatan itu datang juga, dan aku sudah menantikannya...
Pada awalnya, kami sadar kalau hubungan kami ga akan mudah, seperti yang sudah pernah aku ceritakan di blog sebelumnya “Beda Tapi Cinta”. Sampai sekarang kami masih terus berjuang dan menunggu. Kami yakin Tuhan akan membuat semua indah pada waktunya.

Sudah lama dia memintaku untuk jadi istrinya. Aku sudah mengiyakan, tapi masih mempertimbangkan kendala di luar kekuatan kami untuk menyelesaikannya itu. Memang aku ga mau serta-merta mengabaikan nasehat orang tua. Bagaimanapun juga, orang tua kan sudah banyak berkorban merawat dan memberikan yang terbaik untuk kita, mulai dari kecil hingga sekarang, maka kini giliran kita memberikan kebahagiaan bagi mereka. Orang tua juga disebut sudah banyak makan asam-garam kehidupan, jadi bisa tau gimana kehidupan pernikahan itu ga semudah dan se-enak yang dibayangkan oleh anak muda. Namun bukan berarti kebahagiaan orang tua adalah kebahagiaan kita pula. Dalam hal ini, orang tuaku melarang hubunganku yang sudah bahagia bersama pasanganku. Demi mempertahankan tradisi keluarga, mereka memintaku memilih pasangan hidup dari ras dan budaya yang sama. “Ini demi kebahagiaanmu sendiri. Kita ga sederajat dengan mereka. Susah bersatunya, banyak perbedaan pikiran dan adat istiadatnya, nanti hidupmu ga bakal bahagia...” Hei, kok bisa situ menentukan kebahagiaanku?

Aku memang harus memilih: menuruti pilihan orang tua yang berarti mengorbankan kebahagiaan sendiri, atau bahagia menurut pilihanku sekarang. Percayalah, bukannya aku hanya membela “cinta” dan ga berpikir panjang tentang masa depan yang akan kujalani bersamanya, tapi ku juga memperhitungkan aspek lain seperti baik/buruk pribadinya, juga kondisi finansial yang harus dipersiapkan ga cuma untuk satu/dua tahun pertama, tapi untuk jangka waktu yang lama. Iya, memang benar kalau perbedaan pola pikir, aturan, serta adat istiadat itu ada, tapi hal itu ga harus dipaksakan supaya jadi sama, kan? Lebih tepatnya harus ditoleransi keberadaannya. Jadi aku sudah sadar dan sepenuhnya paham tentang resiko yang mungkin akan terjadi. Aku pun tau harus bertanggung jawab atas semuanya itu, dan aku akan melakukannya! Kami sudah sama-sama dewasa dan berpikiran panjang, bukan ABG lagi yang masih suka bersenang-senang aja. Itulah yang ga dipahami oleh orang tuaku...

Sekian lama galau dengan keadaan ini, aku butuh teman untuk berbagi. Di kantor, aku mempunyai sahabat baik. Kami sering ngobrol, bercanda, dan berbagi cerita, termasuk cerita tentang ini. Karena sama-sama beragama Katolik, kami juga berbagi info tentang gereja. Dia sudah kuanggap kakakku sendiri. Aku tau dia juga mempunyai masalah yang sama denganku, cintanya terhalang perbedaan. Bukan perbedaan ras dan budaya sepertiku, tapi perbedaan agama. Menurutku, itu lebih kompleks lagi!
Dia beragama Katolik, ceweknya seorang pemeluk Islam. Mulanya, hubungan mereka mendapat restu dari keluarga kedua belah pihak, dan mereka pun saling menghormati agama masing-masing. Mereka pacaran cukup lama (aku lupa berapa tahun pastinya), dan dia juga sempat curhat ke aku, betapa ia ingin ceweknya memeluk agama yang sama. Kalau aku sih –jujur aja– agak menyayangkan saat seorang murid Yesus memilih pasangan yang ga seiman. Tapi aku ga menghakimi, aku cuma memberi pendapat pribadi, “Jangan sampai cintamu kepada manusia mengalahkan cintamu pada Tuhan dan membuatmu berpaling...”

Hingga tibalah suatu masa, dimana ia mengungkapkan niatnya untuk menikahi ceweknya. Tapi reaksi dari pihak keluarga ceweknya sungguh mengejutkan. Mereka ga bersedia anak gadisnya dinikahi secara Katolik. Kata temanku, intinya begini, “Saya yang laki-laki, jadi sudah seharusnya Lisa (nama ceweknya) yang mengikuti saya. Kalau keberatan soal agama, kenapa dari dulu saya direstui bersama dengan Lisa?”
“Soalnya saya pikir Mas mau pindah ke Islam dan menikah secara Islam,” jawab ibunya si Lisa.
“Maaf, kalau soal itu saya tidak bisa. Kalau benar-benar tidak direstui untuk menikah secara Katolik, lebih baik hubungan saya dan Lisa sampai di sini saja,” temanku tegas memberikan pernyataan seperti itu. Salut!

Setelah kejadian itu, hubungan temanku dengan ceweknya merenggang, bahkan temanku berencana untuk menjauh pelan-pelan, ga mau langsung putus begitu aja. Aku sedih juga saat mendengar ceritanya. Tapi aku rasa temanku sudah mengambil keputusan yang terbaik. Apapun yang ia lakukan, aku hanya bisa memberikan dukungan semangat dan doa untuknya.
Memang, rasanya berat banget saat mengingkari perasaan bahwa masih sayang, tapi harus menjauhi, apalagi karena alasannya bukan berasal dari pribadi masing-masing, melainkan dari pihak luar! Tapi itulah yang temanku lakukan. Ceweknya pun juga belum bisa menerima kenyataan kalau hubungan mereka menjadi rumit...

Waktu berlalu, entah bagaimana kelanjutan hubungan temanku dengan ceweknya. Aku juga ga bertanya lagi. Sehari-hari, kami ngobrol hal-hal yang biasa aja. Tiba-tiba tanggal 24 Juli yang lalu, dia mengajukan cuti 1 hari untuk besoknya, tanggal 25 Juli. Tumben, soalnya Mas yang satu ini terbilang jarang banget cuti.
“Emang cuti mau kemana?” tanyaku lewat chating di YM waktu itu.
“Aku mau ke catatan sipil, Arzy,” tulisnya.
“Waaahh... Akhirnya happy ending nih sama si Lisa?” surprise aku membaca jawabannya.
“Iya, akhirnya... Puji Tuhan!” jawabnya diikuti smiley big grin.
“Syukur deh... Gimana ceritanya? Kok akhirnya bisa?” antusias aku ingin tau.
Lalu dia menceritakan kronologisnya.
“Awalnya, cewekkku tanya apa bedanya Kristen Protestan dengan Katolik. Ya aku jawab sepengetahuanku. Trus dia bilang pengen dibaptis dan nikah cara Katolik. Aku kaget, tapi juga bersyukur banget. Aku bilang, ‘Kalau beneran mau nikah Katolik, lebih baik kamu belajar aja dulu 1 tahun. Setelah itu baru dibaptis.’ Lagian kalau dari luar Katolik kan ga bisa langsung dibaptis. Akhirnya dia mau belajar agama dulu.”

Aku ga puas tau ceritanya sampai di situ. Bagaimana bisa si cewek akhirnya mau belajar menerima Tuhan Yesus? Lalu bagaimana dengan pihak keluarga yang sangat menentang jika pernikahan mereka dilangsungkan secara Katolik? Pertanyaan itu sangat menggelitik keingintahuanku. Temanku ga pelit bercerita saat ditanya, dan cerita berikutnya sangat menginspirasiku.
“Aku doa novena terus tiap malam jam 12. Aku mohon sama Tuhan, bilang mauku gini, maunya cewekku gini. Pernah ya, aku ngalami kejadian ajaib. Aku pulang dari kantor udah malem, abis lembur. Capek banget, jadi ketiduran. Eh, tau-tau aku merasa ada orang laki-laki di kamarku, dia banguni aku, ‘Hei, bangun! Kamu ga doa ta?’ Langsung aku bangun, lihat jam, ternyata jam 12 pas! Waktunya aku doa. Bener-bener mujizat.
Aku juga ga tau kenapa tiba-tiba cewekku ngomong mau dibaptis, mau belajar agama Katolik, padahal ya ga ada yg nyuruh, aku kan ga pernah maksa dia buat pindah Katolik. Tapi ya itulah mujizat Tuhan! Sekarang keadaannya udah jauh lebih baik. Orang tuanya cewekku akhirnya luluh juga, nyerahin semua keputusan sama Lisa dan aku. Kalau orang tuaku sih udah ga masalah. Sebulan lebih aku berdoa tiap hari, dan akhirnya doaku dijawab Tuhan...
Kamu coba doa Novena Kepada Hati Kudus Yesus sama Novena Tiga Salam Maria, biar masalahmu dapat jalan kayak masalahku sekarang. Sambil berdoa, bayangin orang-orang yang kamu kasihi kayak Mamamu, Papamu, semuanya, doain mereka. Di androidmu, kamu download aplikasi namanya ABADI. Di situ ada info tentang Katolik kayak doa-doa harian, doa novena, rumah doa, gereja, renungan, pokoknya lengkap. Kamu bisa berdoa pake bantuan itu.”
WOW, it’s trully inspiring me!

Berdasarkan cerita temanku, aku makin semangat untuk memperjuangkan hak-ku, hak mendapatkan kebahagiaan. Kalau dia bisa berhasil, kenapa aku ga bisa? Aku percaya satu hal: Tuhan bekerja dengan caraNya sendiri. Kalau benar dia yang Tuhan sediakan buat aku, pasti Tuhan bukakan jalan untuk kami. So, aku menuruti sarannya. Download aplikasi ABADI, lalu mulai berdoa novena tiap malam. Sebelumnya, aku memang berdoa untuk ini setiap hari, tapi doa biasa, bukan khusus meminta lewat doa novena. Kali ini aku benar-benar berserah kepadaNya, mendoakan keluargaku, juga hubunganku dengan pacarku. Sejak rutin berdoa novena, aku merasakan suatu perubahan. Bukan, doaku belum dikabulkan oleh Tuhan kok, tapi aku merasa jiwa ini tenang banget. Aku yang semula selalu khawatir, merasa diuji oleh Tuhan sedemikian beratnya, bingung gimana harus bersikap, hingga putus asa dan buru-buru ingin masalah ini berhasil dengan sukses sesuai harapanku; kini aku lebih sabar, lebih bisa tenang menghadapi situasi ini, dan pastinya lebih optimis.

Aku dan pacarku memang sudah pernah membicarakan soal pernikahan, rencananya di tahun 2014 nanti. Tapi kami belum berani jauh mempersiapkan ini-itu, tentu karena selain masih ada faktor hambatan, pengetahuan kami soal syarat pernikahan gereja Katolik masih minim, misalnya bagaimana jika ga ada restu dari orang tua dan bagaimana kalau orang tua ga hadir pada waktu pernikahan, apakah bisa tetap menikah. Semakin waktu berlalu, kami memang harus mengambil keputusan. Daripada bingung mau bertanya ke siapa, akhirnya kami konsultasi ke Romo.
Datang ke gereja, kami menemui Romo yang sudah kami kenal dan menceritakan masalahnya. Sebelum menjawab, Romo banyak bertanya tentang kesungguhan niat kami. Setelah itu, jawaban Romo, “Sebenarnya kalau pernikahan di gereja Katolik itu cuma perlu ada mempelainya, dua orang saksi, dan Romo. Itu saja sudah cukup sah. Saksi itu bisa siapa saja, orang yang kehidupan pernikahannya bisa kamu jadikan contoh. Jadi kalau orang tua ga bisa datang ya ga pa-pa. Soal pasangan kan sepenuhnya pilihanmu sendiri. Kehidupan pernikahan juga kalian sendiri yang menjalani, jadi seharusnya orang tua ga bisa ikut campur, ga bisa maksa dalam hal itu. Yang harus kalian hayati bener-bener adalah pernikahan Katolik itu satu untuk selamanya, tak terceraikan.” Ini bener jawaban seorang Romo lho, bukan aku sendiri yang mengarang demi mulusnya rencanaku. Hehehe... Jawaban itu seketika membuat optimisme kami meningkat.

Jujur dari dalam hati terdalam, aku ga mau menikah tanpa restu orang tua. Bayangan akan penolakan, takut kualat, dan takut ga didoakan sampai rumah-tanggaku nanti banyak batu sandungannya, sempat membuatku ragu. Tapi banyak pihak yang menguatkan aku, salah satunya Mas-ku itu, juga keluarga pacarku yang sepenuhnya bisa menerima aku dan mendoakan hubungan kami berlanjut sampai ke pernikahan. Jadi kalau kenyataannya orang tua menghalangi aku untuk bahagia, hanya karena masalah stereotype budaya di tengah zaman yang semakin modern dan terbuka, aku ga bisa pasrah gitu aja. Setiap manusia punya kehendak bebas! Itulah yang aku perjuangkan. Itulah yang kami berdua perjuangkan. Masa sih orang tua ga bahagia kalau anaknya bahagia? Kata pepatah, when you don’t care about other people feelings, no one will care about your feelings...
Jadi aku masih terus berdoa, pacarku juga, memohon jalan yang terbaik sesuai kehendakNya. Kami hendak mewujudkan mimpi bersama. Jika sebelumnya masih takut untuk melangkah, kini kami merasa yakin karena satu pintu dari gereja sudah terbuka. Welcome September, akhir-akhir ini kami semakin berani dan optimis menuju tahap krusial selanjutnya. It’s a new start for our future.

Jangan pernah kau merasa sendiri, jangan pernah kau berkecil hati
Hilangkan semua resah gelisah, tunjukkan pada dunia kau bisa!
Coba sejenak kau renungkan ini, langkahkan kaki dan mantapkan hati
Yakinlah semua kan baik saja, jadikan hidupmu lebih indah
Someday you’ll find out that you are brighter than a star
Just be strong
Just be brave
And be sure
Yes you can
Kaulah bintang hidupmu!
Lupakanlah semua yang lalu, kita sambut yang baru
Janganlah kau ragu ‘tuk maju, kejar semua impianmu
Hadapi semua rintangan, kuatkanlah tekadmu
Gapailah semua anganmu, yakinkanlah dirimu,
It’s a brand new day!
(Brand New Day ~~ Cherrybelle)

Kembali ke ceritanya temanku tadi. Aku berkomentar begini,
“Wah, kamu mesti kesaksian lho, kalau kamu udah berdoa dan doamu dikabulkan sama Tuhan.”
“Iya, aku cerita ke kamu ini kan juga kesaksianku. Tuhan sudah menjawab doaku dan aku harap Tuhan menjawab doamu juga. Aku doain kamu sukses dan diberkati Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Tetep semangat ya Arzy!”

Thanks to sahabatku, Mas Mahar Mardhana Putra, buat sharing dan inspirasinya yang boleh aku bagikan disini. Maaf kalau ada salah-salah kata, soalnya nulisnya ini berdasarkan ingatan aja sih, hehe... Aku tunggu undangannya ^o^/

Buat para pengejar mimpi dan harapan, jangan menyerah sebelum mencoba semua yang bisa dilakukan. Serahkan semua permasalahan dan kegelisahan hatimu pada Tuhan. Ketika kita angkat tangan, Tuhan akan turun tangan...        

Selasa, 27 Agustus 2013

Apakah Tuhan Selalu Menjawab "Tidak"?

Seringkali, setelah berdoa memohon kepada Tuhan, kita harus menunggu sampai terkabulnya permohonan itu. Berapa lama? Tidak ada yang tahu, semua ada dalam rencana-Nya. Jawaban Tuhan pun tidak semuanya ”Iya” alias sesuai dengan kehendak kita. Tentu kita harus bersyukur kalau semuanya dijadikan indah oleh-Nya, tapi bisa juga yang terjadi malah membuat kita sedih karena seolah-olah Tuhan berdiam diri, lalu muncullah pertanyaan, ”Apakah Tuhan tidak mendengar doaku?” Bahkan, lama-lama kita bisa membuat kesimpulan kalau Tuhan tidak berkenan mengabulkan permohonan kita. Jadi, apakah benar Tuhan menjawab ”Tidak”? Mengapa?
Contohnya seperti ini:

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyingkirkan masalah-masalahku. Tuhan menjawab: TIDAK. Itu bukan untuk KU-singkirkan, tapi agar kau MENGALAHKANNYA.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyembuhkan kecacatanku. Tuhan menjawab: TIDAK. Jiwa adalah yang sempurna, badan hanyalah sementara.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menghadiahiku KESABARAN. Tuhan menjawab: TIDAK. Kesabaran adalah HASIL DARI KESULITAN. Itu tidak dihadiahkan, tapi harus dipelajari.

Aku meminta Tuhan untuk memberiku BERKAT. Tuhan menjawab: TIDAK. Aku memberimu RASA SYUKUR, agar hidupmu tak  pernah kekurangan.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menjauhkan PENDERITAAN. Tuhan menjawab: TIDAK. Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian dari duniawi dan membawamu mendekat kepadaKU.

Aku meminta kepada Tuhan untuk MENUMBUHKAN IMANKU. Tuhan menjawab TIDAK. Engkau harus menumbuhkannya sendiri, tapi Aku akan memangkas untuk membuatmu berbuah lebih cepat.

Aku meminta kepada Tuhan SEGALA HAL agar aku dapat menikmati HIDUP. Tuhan menjawab: TIDAK. Aku memberimu hidup supaya kau dapat menikmati segala hal.

Aku meminta Tuhan membantuku agar dapat mengasihi orang lain seperti IA mengasihiku. Tuhan tersenyum dan menjawab: Aaahh... Akhirnya kau mengerti juga...


Sesungguhnya, ada alasan dibalik setiap rencana yang dibuat Tuhan dalam kehidupan kita.
All we have to do is just believe in HIM...
Jadi, jangan ragu memercayakan masa depan kita yang tak pasti, hanya kepada Tuhan yang pasti.
Thank you Lord, YOU are so amazing!


~dikutip dari berbagai sumber~

Jumat, 23 Agustus 2013

Kecelakaan Menjadi Pengubah Semangat

Wolaa... Senang rasanya bisa nulis lagi. Setelah ada kejadian luar biasa dalam hidupku, yang membuatku vakum nulis selama lebih dari 3 bulan ini.
Semuanya berawal dari siang itu, hari Senin tanggal 29 April 2013. Jam 12-an, seperti biasa aku keluar kantor mau makan siang. Lagi santai-santainya mengendarai si motor, baru sekitar 5 menit jalan, tiba-tiba aku ga sadarkan diri. Ternyata, aku kecelakaan, ditabrak dari belakang oleh pengendara motor lain!

Saking kerasnya tabrakan, aku jatuh dan langsung pingsan di tempat. Menurut cerita orang-orang, aku segera ditolong lalu dilarikan ke rumah sakit terdekat, RSI Jemursari. Dahi benjol, telinga dan hidung keluar darah, serta ketidaksadaran itu membuat pihak rumah sakit memutuskan untuk CT-Scan.
Orang baik hati yang menolong aku segera menelpon Mamaku, pakai HP-ku. Karena Mamaku ada di Kediri, otomatis ga bisa langsung menemui aku. Jadi, Mamaku menelepon atasanku, Pak Henri. Begitu mendengar kabar itu, Pak Henri segera memberitahu rekanku, Mbak Tri, untuk mengurus semua keperluan di rumah sakit. Dengan bantuan beberapa teman juga, Pak Henri dan Mbak Tri mengunjungi aku di rumah sakit. Untungnya, hari itu pacarku sedang cuti, dan siang itu memang kami janjian untuk makan siang bareng. Begitu nelpon HP-ku dan yang menjawab orang lain, tahulah pacarku kalau aku kecelakaan dan dibawa ke rumah sakit. Ia segera menuju rumah sakit.
                                    
Entah apa sebabnya, dari RSI Jemursari aku dirujuk ke RS St.Vincentius a Paulo (RKZ), dan langsung masuk ruang ICU. Kata orang-orang sih, aku sadar waktu dibawa ke RKZ dan bisa menjawab dengan benar waktu di-“tes” dengan pertanyaan: aku siapa? Ini siapa? Itu siapa?
Takutnya aku amnesia soalnya luka di kepala parah banget. Tapi kalau sekarang aku ditanya, “Kamu inget ga kejadian di RS waktu ditanya: ini siapa, itu siapa?” Jujur aku jawab: ga. Walaupun –katanya– aku melek, tapi kenyataannya aku antara sadar dan ga sadar.

Lima hari aku dirawat di ICU, dengan kondisi antara sadar dan ga sadar itu. Kadang kalau melek aku berpikir, ini dimana? Kenapa aku disini? Lalu aku pikir itu hanya mimpi. Tidur lagi. Tapi pas bangun lagi, kok aku masih disini? Ini dimana sih?
Aku juga bisa melihat siapa saja yang ada disana: pacarku, Mamaku, Papaku, bosku, beberapa temanku... Tapi aku heran, kenapa mereka ada di sini?
Lama-lama aku tahu  kalau aku di rumah sakit.

Setelah melalui serangkaian pemeriksaan di RSI Jemursari dan RKZ, kata dokter aku mengalami pendarahan otak, gegar otak ringan, dan patah tulang selangka bagian kiri. Padahal waktu itu aku pakai helm SNI, di-klik, dan waktu jatuh –kata saksi mata– posisi helm masih melekat di kepala. Tapi bisa jadi pendarahan parah di otak gitu.
Sementara si penabrak? Cuma luka-luka ringan di kaki-tangannya.
Hadeh....
Aku baru benar-benar sadar kalau lagi di rumah sakit pada hari keenam, setelah dipindahkan dari ICU ke kamar rawat biasa. Saat itu pula aku diberi tahu kalau aku kecelakaan dengan kronologis begini:

Di jalan raya Jemursari, tepatnya di depan ruko yang ada Bank Ganesha (ruko apa sih itu namanya?) ada jembatan kecil yang menghubungkan antara 2 jalur jalan (karena 2 jalur jalan dipisahkan oleh sungai kecil). Dari arah kantorku, aku harus menyeberang jembatan itu untuk menuju ruas jalan sebaliknya. Setelah sukses menyeberang jembatan, aku harus menunggu kendaraan dari arah sebaliknya sedikit lengang, baru aku melaju, karena aku harus segera mengambil jalur kiri.
Nah, setelah arus kendaraan ga terlalu ramai, aku segera melaju dan mengambil jalur kiri. Aku sudah merasa benar ada di kiri. Pada saat itulah, motor CBR yang dikendarai orang itu menabrak aku dari belakang. Honda Beat vs Honda CBR, terpental-lah aku.
Menurut keterangan si penabrak, aku memotong jalannya dan ga menyalakan lampu sign kiri. Padahal aku yakin betul kalau aku sudah berada di jalur kiri, jadi buat apa menyalakan lampu sign kiri lagi?? Tapi si penabrak juga mengakui kalau dia lagi ngebut. Menurut beberapa saksi mata, kedua pihak sama-sama salahnya, aku terlalu cepat pindah jalur ke kiri, sedangkan si penabrak ngebut saat berada di jalur kiri.

Berada di rumah sakit merupakan masa dimana terbatasnya segala gerak tubuhku. Kepalaku pusing banget tiada henti, badanku sakit semua. Kondisiku benar-benar dipantau oleh dokter dan perawat. Tapi aku bersyukur ada simpati datang silih berganti, dari keluarga, teman-temanku, juga teman-teman Papa-Mamaku. Mereka menjenguk dan memberi kekuatan tersendiri buatku.

Untuk merawat tulangku yang patah, dokter memberikan 2 alternatif: pertama, dioperasi, yaitu dipasang plat dengan resiko nantinya harus operasi lagi untuk mengambil plat itu, atau yang kedua: ga dioperasi, tapi dipasang ransel ban untuk menyokong posisi tulang dan otomatis penyembuhannya jadi lebih lama. Opsi kedua muncul karena usia yang masih muda, jadi tubuh bisa membentuk jaringan  seperti “lem”-nya dan lama-lama tulang bisa nyambung sendiri. Setelah diskusi, Mamaku mengambil kesimpulan ga usah dioperasi. Pertimbangannya, kepalaku masih pusing-pusing terus, kalau operasi nanti menambah rasa sakitnya.
Setelah itu, barulah dokter tulang itu mengambil tindakan dengan memasangkan ransel ban di bahuku.

Sepuluh hari aku dirawat di rumah sakit. Selama itu pula aku ga merasakan hasrat untuk buang air, karena dipasang kateter. Hari kedelapan, aku diberi obat pencahar supaya bisa BAB. Bayangkan, 8 hari ga BAB blas! Hahaha...
Akhirnya, tanggal 8 Mei 2013 jam 3 sore, aku diperbolehkan keluar dari rumah sakit, lalu langsung menuju ke rumah di Kediri. Perawatan dilanjutkan di rumah. Aku harus totally bed rest! Rasanya luar biasa. Kepala masih pusing-pusing, tangan ga bisa gerak, makan-minum harus disuapi, mandi dimandiin, minum obat terus...

Dalam sehari, aku harus minum sekitar 6 macam obat, mulai dari obat saraf, obat tulang, obat sakit kepala, dsb. Ada yg minumnya 1x sehari, 2x sehari, atau 3x sehari. Totalnya sekitar 12 butir obat yang kutelan! Belum lagi ada obat tetes telinga dari dokter THT untuk menyembuhkan infeksi di telinga (karena sebelumnya sempat berdarah), juga obat Cina yang sudah terkenal sebagai obatnya saraf dan otak: Ankung. Asupan makanan juga harus dijaga. Pantangannya sih cuma makanan-minuman yang dingin-dingin, soalnya kan membuat tulang ngilu. Setiap hari aku minum susu high calcium, lalu sering diberi makan sup ceker ayam atau sup sumsum. Padahal aku ga suka ceker ayam! Tapi katanya ceker ayam dan sumsum itu mengandung kalsium yang cepat menyembuhkan dan memperkuat tulangku. Yaudah dimakan aja... Semuanya dilakukan demi cepat sembuh...

Selain minum obat, untuk membantu penyembuhan, aku juga mencoba pengobatan alternatif: sangkal putung. Terapisnya bisa dipanggil ke rumah. Seminggu 2-3 kali, aku diterapi dan lama-lama mulai merasakan perubahan berarti. Tangan yang semula kaku sudah bisa digerakkan sedikit-sedikit. Walaupun gitu, aku tetap pakai ransel ban dari dokter untuk mencegah tangan banyak bergerak yang bisa mempengaruhi posisi tulang.
  
Aku juga rutin kontrol ke dokter. Karena penyakitnya kompleks, aku sampai punya kartu member dari banyak dokter, seperti dokter tulang, dokter saraf, dokter THT, dsb, hehehe... Sebulan sekali, aku juga ke RKZ Surabaya untuk kontrol ke Dokter Joni (dokter bedah saraf) dan Dokter Stephanus (dokter tulang) yang menangani aku dulu.
Terapi sangkal putung terus dilanjutkan, minum obat secara teratur, ditambah dengan doa dan keyakinan akan sembuh, puji Tuhan keadaanku berangsur-angsur pulih. Kepala sudah ga sering pusing-pusing, badan yang terasa sakit mulai membaik, tangan yang kaku mulai bisa digerakkan lebih fleksibel.

Hampir satu bulan penuh bed rest, aku mulai bosan di rumah terus. Rasanya kangen kerja lagi, apalagi berat badan mulai bertambah. Iya lah, soalnya makan-tidur terus ga melakukan apa-apa. Baru kali ini sakit tapi tambah gemuk. Hehehe...
Menurut pemeriksaan dokter, yang dibuktikan dengan foto ronsen tanggal 20 Mei, kondisi tulangku sudah mulai terlihat nyambung, cuma belum kuat. Jadi tetap harus rutin minum obat, istirahat, ga boleh capek-capek dan mengangkat benda yang berat. Tapi dibalik sembuhnya pusing-pusing dan membaiknya kondisi tulang, ternyata penyakit lain muncul!

Mata.
Akhir bulan Mei, aku merasakan kondisi aneh terjadi di mataku. Waktu melihat, seolah muncul bayangan di samping objek aslinya. Mataku jadi ga fokus, semuanya terlihat kabur, bayang-bayang itu sangat mengganggu! Waduh, kenapa lagi ini?
Akhirnya tambah lagi satu kartu member dokter, yaitu dokter mata. Setelah diperiksa dan diberi tahu kalau baru kecelakaan, dokter mata yang sudah bergelar Profesor itu mengambil kesimpulan kalau gangguan pengelihatanku itu muncul karena adanya kerusakan saraf di kepala, yang berdampak bagi saraf mata pula. Jadi sarannya, sembuhkan dulu saraf yang ada di kepala. “Kalau dokter saraf menyatakan sarafnya sudah sembuh tapi matamu masih belum normal, baru saya bisa memberi tindakan pada mata,” begitu katanya.
Si dokter menyarankan latihan gerak bola mata ke kiri-kanan berulang-ulang, seperti penari Bali gitu. Haha... Dia juga meresepkan vitamin yang harus diteteskan di mata.

Atas saran dokter mata, aku kembali ke Dokter Joni di RKZ Surabaya. Diperiksa olehnya, Dokter Joni menjelaskan kalau saraf memang lama sembuhnya. Ibaratnya, sarafku ini lagi memar, soalnya baru terbentur. Tapi lama-lama bisa sembuh sendiri, dan mataku juga akan normal  kembali. Kemudian Dokter Joni meresepkan obat lagi.
Dua minggu berlalu, aku kembali ke dokter mata karena masih belum merasa perubahan berarti. Jawaban si dokter masih sama, “Dokter saraf bilang sarafnya sudah sembuh belum?”
“Belum, Dok. Katanya memang agak lama.”
“Yaudah, kamu tunggu aja sampai sembuh. Kamu latihan terus lirik kiri-kanan gitu. Ini lama-lama bisa sembuh sendiri kok. Saya sih bisa aja operasi kamu, membetulkan supaya ga muncul bayang-bayangnya lagi, tapi nanti kalau sarafnya sudah sembuh, trus malah matamu jadi ga fokus lagi, gimana?”
Oooh... Begitu ya... Aku manggut-manggut.
Berbekal keyakinan akan sembuh, aku teruskan pengobatan di dokter saraf.

Kondisi mata kabur itu aku alami selama lebih dari 2 minggu. Ternyata memang benar, mata adalah jendela dunia (eh, itu mata atau buku ya?)
Ga nyaman, ga bisa melihat dengan jelas. Ga boleh kelamaan nonton TV, ga boleh kelamaan lihat HP, karena fokus mataku ga boleh di satu tempat. Makanya mataku dilatih jadi kayak penari Bali.
Suatu hari aku menemukan satu pola, bahwa kalau mata ditutup satu, bayangannya berkurang dan lebih bisa fokus. Akhirnya supaya bisa melihat dengan lebih nyaman, aku dibuatkan tutup mata satu seperti bajak laut gitu! Hehehe... Tiap hari gantian, kadang mata kiri yang ditutup, besoknya mata kanan, begitu seterusnya.

Tuhan memang baik. Eh, suatu hari tiba-tiba mataku jadi bisa melihat dengan jelas lagi! *cling-cling-cling, mata berbinar-binar*
Pengelihatanku sudah kembali normal, bayang-bayangnya sudah ga ada. Semuanya jadi terlihat indah lagi. Terima kasih, Tuhan! Betul kata si dokter. Ga rugi Anda bergelar Profesor, hehehe ^_^Y
Mata sudah sembuh, saatnya kembali ke dokter saraf. Dokter Joni cuma mengajukan pertanyaan sederhana, “Masih pusing-pusing ga?”
“Udah ga, Dok.”
“Ada keluhan apa lagi?”
“Hmmm... Ga ada sih, Dok. Cuma tangannya ini yang masih sakit, tapi sudah bisa digerakin sedikit.”
“Yaudah, berarti sarafnya sudah sembuh. Kalau tulangnya memang perlu waktu  penyembuhan lebih lama. Obatnya masih ada?”
“Udah tinggal sedikit.”
“Ga usah diresepkan obat lagi, ya. Tinggal kontrol ke Dokter Stephanus. Kalau Dokter Stephanus sudah mbolehin masuk kerja, ya masuk kerja aja.”
“Oke, Dok.”
Karena Dokter Joni sudah menyatakan sarafnya sembuh, aku periksa ke Dokter Stephanus. Jawaban Dokter Stephanus juga sederhana, “Supaya tulangnya nyambung dengan kuat memang perlu waktu lama. Sementara 3 bulan ini jangan nyetir motor atau mobil dulu. Tunggu sampai bener-bener sembuh. Tangannya ini dilatih lurus ke atas, tapi jangan tinggi-tinggi ngangkatnya. Stop sampai 90 derajat sikunya gini. Nanti bertahap, latihan ngangkat tangan lurus ke atas. Trus jangan ngangkat yang berat-berat juga. Jangan makan-minum yang dingin-dingin.”
“Sudah boleh masuk kerja lagi belum, Dok?”
“Ya kalau kamu sudah merasa fit, ga pa-pa masuk. Asal tetep dijaga tangannya...”

Hore! Para dokter sudah menyatakan sembuh, walaupun belum 100%. Aku pun bersiap untuk masuk kerja lagi. Karena aku belum boleh nyetir motor sendiri, sementara kostku jaraknya 4 kilometer dari kantor dan ga dilewati kendaraan umum, mau ga mau aku harus pindah kost yang lebih dekat, supaya bisa jalan kaki atau naik angkutan umum.
Proses pindah kost memakan waktu yang cukup lama, juga penuh dengan emosi.
Dengan dibantu Mama dan Tanteku, kami mencari kost yang dekat dengan kantor. Pertimbangan lokasi, kelayakan dan kenyamanan kondisi kost, juga harganya, membuatku berpikir sangat keras untuk mengambil satu diantara beberapa tempat yang lolos seleksi. Setelah diputuskan salah satu kost, mulailah proses pindahan dari kost lama. Sedih banget rasanya... Aku udah menghuni kost di Jalan Kutisari itu selama lebih dari 4 tahun. Teman-temannya baik, kondisi dan lingkungan kostnya juga lumayan, lagipula harganya murah, karena masih ikut harga tahun 2009 dan baru naik 1x, selama 4 tahun cuma naik 100 ribu! Kost baru di Jalan Jemur Andayani ini juga ada plus-minusnya. Jadi ya dinikmati aja tempat baru ini.

Aku masuk kerja lagi tanggal 19 Juni, setelah 51 hari istirahat. Wow, rasanya gimanaaa getu! Seperti anak baru lagi. Puji Tuhan, kondisi sudah lumayan fit, teman-teman di kantor menyambut dengan kepedulian. Reaksi pertama dari teman-teman adalah, “Mbak Arzy! Sudah sembuh? Kok tambah ndut, tambah chubby pipinya!”
Hadeh, terima kasih ya teman-teman... :P
Sampai sekarang, puji Tuhan aku sudah bisa bekerja seperti dulu. Pipi sudah ga se-chubby dulu, berat badan yang sempat kelebihan 2 kilo sekarang sudah normal. Hehehe...
Tulang yang patah memang belum benar-benar sembuh, satu bulan sekali aku masih harus kontrol ke Dokter Stephanus untuk ronsen, masih terasa sedikit sakit kalau diangkat lurus ke atas, jadi masih minum obat / vitamin untuk tulang itu.

Dari peristiwa kecelakaan sampai sakit itu, aku mensyukuri satu hal: harta paling berharga di dunia ini adalah kesehatan. Kalau sudah sakit gitu, penyembuhannya lama, mengeluarkan banyak biaya (walaupun ditanggung oleh kantor), ga bisa ngapa-ngapain, dan yang paling berpengaruh: amat sangat bosan. Ditambah lagi, waktu bed rest itu aku melewatkan banyak film keren di bioskop, seperti Iron Man dan Too Fast Too Furious 6... Hiks.. (beli DVD-nya aja)

Yah, selalu ada hikmah dibalik setiap kejadian. Kadang aku berpikir, kenapa aku harus kecelakaan? Apa Tuhan ga menjaga aku? Kalau ga kecelakaan, pasti aku ga harus pindah kost, pasti aku bisa ini-itu... Tapi akhirnya aku tahu,

Apa yang kau alami kini, mungkin tak dapat engkau mengerti
Cobaan yang engkau alami tak melebihi kekuatanmu...
Tuhanmu tak akan memberi ular beracun pada yang minta roti
Satu hal, tanamkan di hati: indah semua yang Tuhan beri...
Tangan Tuhan sedang merenda suatu karya yang agung mulia
Saatnya kan tiba nanti, kau lihat pelangi kasihNya!
(Pelangi Kasih ~~ Maria Shandi)

Jadi disyukuri aja. Harus tetap semangat! Orang yang bahagia itu bukanlah orang yang mempunyai segala hal, tapi adalah orang yang mampu bersyukur akan segala hal...




Kamis, 04 April 2013

Berburu Vintage Fashion

Tren mode dunia selalu eksis setiap hari. Munculnya para desainer muda berbakat membuat dunia fashion tak pernah berhenti menampilkan karya-karya baru yang menjadi referensi untuk tampil gaya. Bahkan, negara-negara kiblat mode seringkali mengeluarkan kreasinya sesuai 4 musim: semi, panas, gugur, dan dingin. Di Asia, saat ini Korea menjadi sorotan karena kiprahnya yang cukup bagus di dunia entertain dan mode. Jadi, banyaknya pilihan membuat para pecinta fashion dapat menambah koleksi busananya. Tetapi, seiring perkembangannya, bukan berarti mode-mode keluaran lama menjadi usang dan tidak menarik lagi. Justru di beberapa kalangan, gaya klasik yang disebut vintage ini tetap digemari dan diburu keberadaannya.

Memakai pakaian model lama bukan berarti membuat penampilan jadi terkesan kuno. Walaupun sederhana, kesan elegan dan bergengsi tetap bisa didapatkan. Kuncinya, perlu padu-padan dengan item lain yang stylish, misalnya dengan mengenakan aksesori. Tas tangan, arloji, atau perhiasan dapat mengubah penampilan seseorang menjadi lebih menarik dan trendi.

Kini, pakaian bergaya vintage banyak ditemui di butik ataupun mall. Tapi walaupun terbilang model lama, bukan berarti harganya murah. Beberapa item malah lebih mahal dibandingkan dengan model terbaru karena desainnya yang langka atau unik. Nah, bagi Anda yang ingin mencari koleksi vintage namun tidak ingin merogoh kocek terlalu dalam, Anda dapat mempertimbangkan untuk mengunjungi pasar barang bekas.

Tidak hanya pakaian yang dijual di pasar barang bekas atau pasar loak. Beragam jenis aksesoris, tas, sepatu, jaket, topi, mantel, bahkan kosmetik ada disana. Kebanyakan barang yang dijual berasal dari Singapura, Korea, China, Jepang, dan Amerika Serikat. Beberapa barang pun bukan bekas dipakai orang, melainkan sisa impor. Walaupun memang barang bekas, Anda tak perlu khawatir soal kualitasnya. Asal jeli memilih, barang bermerek dunia dengan kualitas yang baik bisa didapatkan. Plus, kepuasaan saat mendapatkannya dengan harga murah. Misalnya kemeja dihargai mulai Rp 5000 sampai Rp 40 ribu, tas sekitar Rp 15 ribu sampai Rp 100 ribuan, jaket atau sepatu mulai Rp 50 ribu hingga ratusan ribu Rupiah, bahkan banyak pula baju dan kaos yang cuma Rp 1000! Tentu saja, untuk mendapatkan harga terbaik, tawar menawar dengan si penjual menjadi keharusan. Bukan tidak mungkin, dengan uang Rp 100 ribu, Anda bisa mendapatkan 4 potong baju vintage yang tetap chic saat dipakai.

Sayangnya, masih banyak orang yang gengsi berbelanja di pasar barang bekas, mungkin karena image “pasar” yang kotor, panas, dan tidak ingin berdesakan dengan pembeli lain. Padahal banyaknya barang unik dengan model yang tidak pasaran dan harga terjangkau menjadi daya tarik tempat ini. Tapi beberapa wanita yang senang berbelanja di pasar barang bekas mengungkapkan serunya ‘berburu’ pakaian di antara tumpukan yang ‘menggunung’ itu.

Nah, tertarik untuk mulai mengunjungi pasar barang bekas? Agar berbelanja disana terasa lebih nyaman, tipsnya adalah kenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman, juga sebaiknya tidak memakai perhiasan yang mencolok. Jangan ragu untuk mencari dan menggali lebih dalam, karena kita tak akan pernah tahu ada pakaian branded yang unik terselip diantara tumpukan-tumpukan tersebut. Jika sudah menemukan pakaian yang diinginkan, jangan terburu-buru membelinya. Pastikan dulu kualitasnya, apakah masih layak pakai atau ada yang cacat, barulah mulai tawar menawar dengan si penjual. Jika menemukan warna baju yang pudar, kotor, atau berlubang, mintalah si penjual menurunkan lagi harganya. Siapkan selalu uang nominal kecil dan recehan di dalam dompet, agar tak menyusahkan penjual karena harus memberikan uang kembalian terlalu banyak.

Pasar barang bekas biasanya buka mulai pukul 9 pagi sampai 6 malam. Jika tidak ingin berdesakan, datanglah pagi hari saat suasana belum ramai dan panas, atau sekalian sore hari saat hendak tutup untuk mendapatkan tambahan obral. Harga yang murah dan banyaknya pilihan bisa membuat kita semangat mengelilingi seluruh pasar, berbelanja kesana-kemari. Oleh sebab itu, bawalah tas sendiri untuk membungkus barang yang kita beli. Selain pertimbangan kepraktisan, juga untuk mengurangi pemakaian tas kresek. Hal yang terpenting adalah jangan lengah, selalu jaga tas dan barang belanjaan Anda agar terhindar dari copet-copet yang memanfaatkan situasi berdesakan di pasar.

Satu lagi alasan orang ragu membeli pakaian bekas adalah takut terkena penyakit kulit atau gatal-gatal. Memang benar, karena pakaian-pakaian tersebut didatangkan entah dari mana, sudah disimpan terlalu lama hingga jadi lembab, juga mungkin sudah dipakai oleh dua orang, tiga orang, bahkan lebih. Untuk mencegah penularan kuman, pastikan mencuci dahulu pakaian second tersebut segera setelah sampai di rumah. Gunakan air panas untuk merendamnya, tambahkan sabun antiseptik, lalu cuci dengan sabun seperti biasa. Saat mencuci, perhatikan bahan pakaian. Katun yang tipis dan bahan yang halus sebaiknya dicuci dengan tangan, sedangkan untuk coat atau bahan-bahan yang tebal dapat dicuci dengan mesin cuci. Jangan abaikan pula perawatan pakaian berbahan khusus seperti bulu-bulu agar bentuknya tidak berubah.

Barang bekas tidak sepenuhnya langsung dibuang dan kehilangan fungsinya. Bisa jadi, dengan keunikan bentuk dan dianggap bernilai seni tinggi, barang bekas tersebut banyak dicari orang dan berharga mahal. Begitu pula dalam hal pakaian. Dengan kembalinya tren mode 1980-an, vintage fashion membuat perbendaharaan mode dunia semakin kaya. Bagi para pencintanya, bukankah merupakan suatu kepuasan saat memakai pakaian yang terlihat berharga mahal, padahal aslinya didapat dengan harga murah di pasar barang bekas? Kini, membeli pakaian second merupakan salah satu alternatif bagi wanita yang ingin tampil modis tanpa membuat dompet jadi tipis.

So, ladies, sudah siap berburu vintage fashion? Beberapa pasar barang bekas yang terkenal adalah Pasar Senen dan Pasar Baru di Jakarta, Pasar Gedebage di Bandung, Pasar Gembong di Surabaya, dan Pasar Kodok di Tabanan, Bali. Tampillah beda dengan gaya vintage yang Anda dapat berdasarkan inspirasi dari sana.


~~Diambil dari berbagai sumber~~