Dino
iki, kutho Suroboyo ulang taun sing ke-719. Aku wes manggon nang Suroboyo 8 taun luwih, ket taun
2004, pas mlebu kuliah nang Unair. Dadi
aku wes menyatu banget karo Suroboyo, rasane wes dadi omah kedua.
Suroboyo iku terkenal ”The Hotest
City”, tapi yo gak masalah, justru iku senine urip nang kene. Mergo kutho gede,
arep golek opo ae onok nang Suroboyo, mulai soko bisnis, pendidikan, fasilitas-fasilitas
umum, kuliner, sampek hiburan. Tinggal milih ae, Rek!
Nah, lek krungu istilah BONEK, opo
sing langsung onok nang pikiranmu? Pasti "Arek Suroboyo". Wong-wong kutho
Suroboyo pancen unik-unik kok! Sek dalam rangka ulang taun’e Suroboyo, iki tak
copy-paste'ne tulisan soko berbagai sumber. Asli kocak, iki nggambarne arek Suroboyo banget.
Ciri-cirine Arek Suroboyo nek
ngomong iku khas banget, disebut’e Boso Suroboyoan, gak onok sing madani, to the point, terbuka,
tanpa tedeng aling-aling (bloko suto). Ini menunjukkan bahwa Arek Suroboyo
terkenal sebagai masyarakat yang terbuka, ramah, apa adanya, dan sangat suka
akan humor =D
Yo wes, pisan maneh, Met Ulang Tahun kutho Suroboyo.. Mugo-mugo dadi kutho sing luwih nyaman lan luwih sejahtera soko sakdurunge... Akhir kata, gawe sing moco: sepurane yo aku nulis iki spontan, kesusu, soale posting'e kudu ditepakno ambek momen iki, dadi ga sempet golek data-data pendukung liyane.. (halah, koyok meh nggawe opo ae) Hehehe.... :p
Aku dikaruniai Tuhan tubuh yang
kecil, mungil, dan kata orang mukaku imut-imut. Ga heran tiap orang yang
melihatku jadi sering ‘tertipu’ dengan umurku yang sebenarnya. Waktu SMP,
dikira masih kelas 4 SD. Udah SMA, dibilang masih pantes pake seragam SMP. Eh,
zaman kuliah sering disangka “Anak SMA nyasar dari mana nih?”
Begitu juga waktu masuk dunia
kerja. Becandanya orang-orang, “Anak kecil kok udah kerja?” atau “Bisa-bisa
ntar perusahaan dituntut gara-gara mempekerjakan anak di bawah umur”, atau
“Udah punya pacar? Masih kecil ga boleh pacaran, lho...” dan seabrek becandaan
lainnya. Whew!
Beberapa hari lalu aku dicegat
seorang SPB (Sales Promotion Boy) di
supermarket, lalu ditawari nyumbang untuk yayasan sosial tertentu.
“Mbak usianya berapa?” tanya si
SPB.
“Dua-enam,” jawabku.
“Hah?” si SPB keceplosan. “Wah,
saya kira masih 20-an lho, Mbak! Mukanya irit, ya?!” lanjutnya becanda lalu
tertawa. Hahaha...
“Udah sering dibilang gitu,
Mas,” aku guyoni si SPB.
Ya begitulah... Kalau
dibecandain orang-orang pake kata “anak kecil”, aku udah kebal. Tapi lama-lama
aku sebel juga kalau udah menyinggung fisik gitu, bagaimana pun juga, aku ga
suka “dianak kecil-anak kecil-kan”!!!
Gara-gara fisik yang kecil, aku
sering susah menemukan beberapa barang yang pas dengan ukuranku. Awalnya soal
pakaian. Beli celana panjang yang di pinggangnya pas, tapi selalu motong di
bagian bawah karena kepanjangan. Beli rok terusan, selalu mem-permak beberapa
bagian. Tapi untungnya sekarang banyak toko baju yang berpihak pada pemilik
tubuh mungil. Sejauh ini kalau soal atasan (baju/kaos), ga terlalu susah.
Setelah mengobservasi diriku sendiri dan lingkungan, akhirnya aku mengambil
kesimpulan kalau ukuran badanku ini nanggung: ukuran anak-anak yang paling
besar kekecilan, tapi kalau ukuran dewasa yang paling kecil, kadang-kadang
masih kebesaran. Hiyaaa...
Tapi ada satu barang yang aku
paling susah nemu ukuran yang pas: sepatu!
Kalau nyari sepatu, haduh...
aku bisa frustasi sendiri. Toko sepatu se-Surabaya didatangi, belum tentu nemu
(beneran ini, ga lebay!). Tau kenapa? Karena ukuran sepatuku ga pasti, antara 35-36. Tau sendiri
kalau sepatu cewek dewasa ukuran 35 itu amat sangat jarang sekali. Kebanyakan
yang paling kecil adalah ukuran 36, dan kadang-kadang itu pun masih kebesaran
di kakiku! Hadeew... Lagipula ukuran
satu merk dengan yang lain kan ga selalu sama. Jadi begitu ada yang cocok dan
pas di kaki, sudah pasti aku beli. Tentu masih mempertimbangkan harga dan
kecocokan hati juga lah... Pernah aku nemu satu sepatu yang bagus dan pas, tapi
harganya 800 ribu-an. Hah, buat apa sepatu 800 ribu... Memang waktu itu
dipajang di salah satu mall yang terkenal produk-produknya berharga mahal. Hehe...
Aku sering kecewa saat nyoba
sepatu, nemu model yang bagus dan cocok, tapi ga jadi terbeli karena kendala
ukurannya ga ada yang pas. Huh, sebel banget rasanya!
Saking frustasinya kalau mau beli
sepatu, aku menghindari merk-merk tertentu yang pasti ga ada ukuran kecil
(berdasarkan pengalaman). Jadinya aku memfokuskan tenaga untuk mencari sepatu
dari merk lain yang sekiranya ada ukuran kecil. Untungnya ada beberapa merk
sepatu yang punya ukuran kecil, jadi aku selalu memprioritaskan cari sepatu
merk Connexion atau Vicari.
Jadinya sekarang aku cuma punya
4 sepatu: dua high heels untuk ke kantor (gantian) dan dua sepatu flat,
ditambah 2 sandal biasa, dan 2 sandal jepit. Menurutku itu ga banyak, setuju
kan? Hehe... Untungnya sepatu dan sandal yang aku punya sekarang cukup awet dan
nyaman dipakai.
Suatu hari, aku jalan-jalan
dengan pacarku ke salah satu mall, dengan tujuan utama: cari sepatu! Soalnya
sepatuku untuk ke kantor udah mulai sedikit bermasalah, jadi sebelum jadi
masalah beneran, lebih baik aku menyiapkan cadangan. Setiap kali mau beli
sepatu, aku selalu berdoa, “ya Tuhan, semoga ada yang cocok dan pas di kaki,
amin.” Harus optimis!
Udah muter-muter dan
mencoba-coba, tapi ternyata belum nemu yang sreg dan ada ukurannya (lagi!). Dalam
keadaan capek dan hampir menangis, aku bilang, “Aku benci sama kakiku!”
Pacarku langsung menegur, “Heh,
ga boleh bilang gitu, kok ga bersyukur...”
Oiya, aku sadar, memang kakiku
diciptakan Tuhan dengan ukuran segini, tapi masa ga bisa nambah panjang
dikiiitt aja?? Soalnya mending kalau kebesarannya mencolok gitu, lha
kadang-kadang cuma kebesaran satu-dua sentimeter aja! Heuuh, cabe deh... =__=’
Lalu pacarku komentar, “Lha
kalau kebanyakan milih ya susah...”
Aku tau dia ga bermaksud
menyindir, tapi lalu aku merenungkan kata-katanya. Bener juga, saat ini
pertimbangan utamaku saat milih sepatu adalah model, lalu ukuran, dan terakhir
harga. Bisa dibilang mungkin karena terlalu milih sepatu model tertentu, aku
jadi ga melihat sepatu model lain yang sebenernya ga kalah bagus dengan yang
aku inginkan. Jadi kemungkinan dapetnya juga lebih sedikit.
Memang, kalau kita berhasil
mendapatkan sesuatu sesuai dengan yang kita inginkan, kepuasannya terasa
banget. Dalam hal ini, pakai sepatu yang sreg di hati dan nyaman, bisa
meningkatkan percaya diri dan mendongkrak penampilan.
Rupanya sepatu ini benar-benar
menguji kesabaran dan perjuanganku.
Tapi pencarianku belum
berakhir, aku masih harus beli sepatu nih!
Adakah referensi beli sepatu
yang ada ukuran kecil dimana yaa???
Beberapa hari
lalu, aku dapat kabar dari Mamaku kalau saudara sepupuku sedang dirawat di rumah
sakit karena ada masalah di perutnya. Cerita Mamaku, awalnya sepupuku itu merasa perutnya kaku dan sakit
banget. Setelah diperiksakan di rumah sakit, ternyata di dalam perutnya itu
penuh air dan ada semacam sel atau mungkin kista yang dapat menyebabkan kanker,
oleh sebab itu harus segera dioperasi.
Jadi ga nunggu waktu lama, sepupuku itu segera dibawa ke Singapura untuk
dioperasi ~ aku heran: kenapa harus ke Singapura ya???~
Lewat kejadian itu, aku berpikir, apa yang menyebabkan ada sel atau mungkin
kista di perut sepupuku itu? Padahal sepupuku itu masih muda, umurnya baru 20
tahun, belum menikah, masih kuliah. Aku memang ga tau apa penyebabnya, tapi aku berspekulasi apa mungkin karena
pengaruh makanan? Soalnya
sepupuku itu nge-kost di dekat kampusnya. Tau sendiri gimana kebiasaan makan
anak kost, kebanyakan serba instan, atau goreng-gorengan, dan jam makan jadi ga
beraturan...
Terlepas dari apakah pengaruh makanan yang menyebabkan sepupuku sakit,
memang kita harus menjaga apa yang kita masukkan ke tubuh, pastinya kan demi kesehatan...
Nah, aku pernah baca info dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) tentang makanan
yang terbaik dan makanan yang terburuk. Pada symposium ke-113, WHO membahas makanan, olah raga, dan kebiasaan hidup strategi baru
kesehatan global. Strategi baru tersebut mengemukakan bahwa pola makan yang
tidak sehat merupakan penyebab utama timbulnya bermacam macam penyakit non
infeksi (tidak menular) termasuk beberapa jenis kanker.
WHO merekomendasikan golongan makanan yang terbaik, yaitu:
1. Buah Terbaik
Urutan buah terbaik adalah pepaya, strawberry, orange, jeruk kupas, kiwi,
mangga, plum, kesemek, dan semangka.
2. Sayur Terbaik
Ketela kuning kaya kandungan vitamin dan juga zat antikanker, disusul oleh
asparagus, selada, brokoli, seledri, terong, bit, wortel, dan sawi putih.
3. Daging terbaik
Struktur daging angsa mirip dengan minyak zaitun, bermanfaat untuk jantung.
Daging angsa mendapat predikat sebagai sumber protein terbaik.
4. Makanan tersehat untuk proteksi otak
Antara lain Pocai (soinancia oleracea),
kucai, labu merah, onion, kembang
kol, kacang polong, tomat, wortel, sawi putih kecil, daun bawang, seledri, kacang
tanah, jambu mente, biji tusam, biji apricot, kedelai.
5. Tim atau Sup Terbaik
Adalah tim ayam, terutama tim ayam betina karena dapat mencegah flu, radang
tenggorokan, sesuai untuk konsumsi baik di musim dingin maupun musim panas.
Berikutnya, ini adalah 10 macam makanan sampah (Junk Food) yang diumumkan WHO:
1. Makanan Gorengan
Golongan makanan ini kandungan kalorinya tinggi, kandungan lemak/minyak,
dan oksidanya juga tinggi. Bila dikonsumsi secara regular dapat menyebabkan
kegemukan, hyperlipitdema, dan jantung koroner. Dalam proses menggoreng sering
terjadi banyak zat karsiogenik (racun), dan telah terbukti bahwa kecenderungan
kanker bagi mereka yang mengkonsumsi makanan gorengan jauh lebih tinggi daripada
yang tidak / sedikit mengkonsumsi makanan gorengan.
2. Makanan Kalengan
Baik yang berupa buah atau daging. Mengapa tidak sehat? Karena
kandungan gizinya sudah banyak dirusak,
terlebih kandungan vitaminnya hampir seluruhnya rusak. Kandungan proteinnya
telah mengalami perubahan sifat hingga penyerapannya diperlambat. Nilai gizinya
jauh berkurang. Selain itu banyak buah kalengan berkadar gula tinggi dan diasup
ke tubuh dalam bentuk cair sehingga penyerapannya sangat cepat. Dalam waktu
singkat, dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat, memberatkan beban
pankreas, dan bersamaan dengan tingginya kalori, dapat menyebabkan obesitas.
3. Makanan Asinan
Dalam proses pengasinan dibutuhkan penambahan garam secara signifikan, mengakibatkan
kandungan garam makanan tersebut melewati batas, jadi menambah beban ginjal
saat memprosesnya. Akibatnya, bahaya hipertensi. Terlebih pada proses
pengasinan sering ditambahkan amonium nitrit yang menyebabkan peningkatan
bahaya kanker hidung dan tenggorokan. Kadar garam tinggi dapat merusak selaput
lendir lambung dan usus.
4. Makanan Daging yang Diproses
Contohnya ham, sosis, dll. Makanan golongan tersebut mengandung garam nitrit cukup tinggi yang dapat
menyebabkan kanker, juga mengandung pengawet, pewarna, dll yang memberatkan
beban hati / hepar. Mengkonsumsi dalam jumlah besar dapat mengguncangkan
tekanan darah dan memberatkan kerja ginjal.
5. Makanan dari Daging Berlemak dan Jerohan
Walaupun makan ini mengandung protein yang baik, vitamin, dan mineral, tapi
daging berlemak dan jerohan mengandung lemak jenuh dan kolestrol yang sudah
divonis sebagai pencetus penyakit jantung. Makan jerohan binatang dalam jumlah
banyak dan waktu lama dapat menyebabkan penyakit jantung koroner dan tumor
ganas (kanker usus besar), kanker payudara, dll.
6. Olahan Keju
Sering mengkonsumsi olahan keju dapat menyebabkan penambahan berat badan
hingga gula darah meninggu. Mengkonsumsi cake
/ kue keju bertelur menyebabkan kurang gairah makan. Konsumsi makanan berkadar
lemak dan gula tinggi sering mengakibatkan pengosongan perut. Banyak kasus
terjadinya hyperaciditas (pengeluaran asam lambung berlebihan) dan rasa terbakar.
7. Mie Instan
Makanan ini tergolong makanan tinggi garam, serta miskin vitamin dan
mineral. Kadar garam tinggi menyebabkan beratnya beban ginjal, meningkatkan
tekanan darah, dan mengandung trans lipid, memberatkan beban pembuluh darah
jantung.
8. Makanan yang Dipanggang / Dibakar
Mengandung zat penyebab kanker.
9. Sajian Manis Beku
Contohnya adalah es krim, cake
beku, dll. Golongan ini punya 3 masalah karena mengandung banyak mentega yang
menyebabkan obesitas, kadar gula tinggi mengurangi nafsu makan, juga karena
temperaturnya rendah sehingga mempengaruhi usus.
10. Manisan Kering
Mengandung garam nitrat. Di dalam tubuh, zat ini dapat bergabung dengan
ammonium dan menghasilkan zat karsiogenik. Selain itu, mengandung esen segai
tambahan yang merusak hepar dan organ lain, juga mengandung garam tinggi yang
menyebabkan tekanan darah tinggi dan memberatkan kerja ginjal.
Setelah tau info itu, sekarang aku jadi lebih selektif terhadap makanan. Mengonsumsi
junk food memang ga dilarang kok,
semua tergantung masing-masing orang. Sekali-kali aku masih makan ayam+kentang goreng fast food, es krim (~that’s my favourite!!!~), atau roti-roti
manis; tapi kalau pas kepengen aja. Untungnya dari dulu aku ga suka jerohan,
asinan, manisan, makanan kaleng, dan mie instan; walaupun kata orang mie instan,
sarden, dan kornet adalah makanan para anak kost (seperti saya)... Haha :D
Pada dasarnya sih, tubuh yang sehat harus kita upayakan ga hanya dari apa
yang kita makan aja; tapi juga harus diimbangi juga dengan olahraga, istirahat,
ibadah, dan sebagainya. Jadi inget slogan ”Men sana in corporesano”, di dalam
tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat!
Februari adalah bulan penuh
cinta. Ungkapan itu ada tentunya karena tanggal 14 Februari, dimana orang di
seluruh dunia merayakan Valentine Day, Hari Kasih Sayang. Agaknya hal itu
memang masih dipercaya kebanyakan orang sih.. Buktinya dalam bulan ini, 3
minggu berturut-turut aku dapat undangan pernikahan dari teman. Wah,
pengeluaran tak terduga ini. Haha...
Ngomongin soal pernikahan, memang
teman seumuranku udah banyak yang menikah di tahun kemarin, dan prediksiku di tahun
ini juga. Kadang aku ditanya juga: kapan nikah? Wah, nanti dulu ya... Pasangannya
masih diuji coba nih, memenuhi syarat atau ga... Hehehe...
Pernikahan memang ga cukup
melihat dari segi fisik (termasuk usia) yang dipandang orang ”udah pantes nikah”.
Enak aja teman bilang, ”Jangan kebanyakan seleksi, ingat umur udah 26. Mau
nikah umur berapa?” Lho, kan banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum
memutuskan untuk menikah, yang paling utama dari segi kesiapan mental dong...
Aku suka baca artikel-artikel tentang
persiapan pernikahan. Namanya juga pengen menikah. Hehe... Sayangnya aku lupa
ini diucapkan oleh siapa dan di media mana, jadi maaf kalau ga mencantumkan
sumbernya. Jadi begini, setidaknya ada 3 poin yang harus dipersiapkan oleh
pasangan yang bermaksud mengucapkan ikrar untuk hidup bersama.
Ketika dua insan bermaksud
memasuki gerbang pernikahan, mereka harus tahu dan paham, bahwa manusia itu berubah. Pernikahan itu ibarat sebuah
paket. Dalam paket tersebut, terdapat dua manusia. Kedua manusia ini bisa
berubah, karenanya di dalam pernikahan akan selalu ada hal baru yang harus
dikejar. Jadi, sebelum memasuki jenjang pernikahan, masing-masing pasangan
harus mengetahui pola perubahan masing-masing.
Kalau yang satu berubahnya
cepat, sementara yang satu mandek, bisa akan ada masalah. Namun, ketika
keduanya sudah saling sadar, harus mau saling bantu. Yang berubahnya cepat itu harus mengajak pasangannya untuk belajar dan mencoba
mengerti. Jangan lupa untuk mengikuti perkembangan masing-masing. Hal
ini menjadi penting, karena ketika terjadi jeda dan masing-masing berkembang dengan
keadaan yang berbeda, ga heran akan ada perbedaan persepsi dan pola pikir.
Misal, si suami bekerja di dunia yang membuatnya harus bertemu banyak orang, ia
akan berkembang dan pola pikirnya pun sedikit-sedikit berubah. Sementara, jika
si istri ga mau berusaha untuk keep up dengan
perkembangan suami, maka akan sulit untuk bisa mengimbangi, apalagi jika si
suami pun ga mengajak si istri untuk belajar.
Selain mengenai perubahan, pasangan
yang ingin naik ke pelaminan harus menyadari, bahwa setelah hari pernikahan, gaya hidup pun berubah. Yang tadinya terbiasa
sendiri, kini segalanya harus dibagi dengan orang lain. Mau saling berbagi adalah satu poin tersendiri. Kebiasaan yang
tiba-tiba berubah biasanya bisa menjadi batu sandungan untuk sebagian orang. Keharusan
untuk berbagi ini seringkali menjadi penyebab perpecahan rumah tangga.
Kalau kita bertanya, mengapa
saat ini banyak terjadi perpecahan dalam pernikahan? Sementara mengapa di zaman
dulu, perceraian sangat jarang terjadi? Karena di zaman dulu orang ga ada yang
berpikir mengenai perceraian. Yang ada, bagaimana supaya pernikahannya bisa terus
berjalan dan memperbaikinya. Ketika kita berbentrokan dengan masalah keluarga,
yang terpenting adalah menurunkan ego masing-masing. Kalau belum bisa ditemukan
jalan tengahnya, carilah penengah yang bisa memberikan opini obyektif. Begitu
pula, biasanya terjadi pertengkaran saat perencanaan pernikahan, terjadi beda
pendapat, oleh karena itu penggunaan jasa perencana pernikahan bisa membantu
menengahi.
Mengenai persiapan mental dan psikologis menjelang
pernikahan, terdapat 3 poin penting yang perlu diketahui pasangan sebelum
menginjakkan kaki ke pelaminan dan menukar cincin tanda janji, yakni:
1.Jangan takut akan pernikahan.
Sebaiknya sebelum melangkah ke pernikahan, kenali sisi baik dan buruk
masing-masing. Karena setelah memasuki pernikahan, akan makin terlihat
sifat-sifat yang tadinya tertutup. Jujur akan segala hal dengan pasangan adalah
kunci jika ingin pernikahan berhasil.
2. Siapkan
diri. Tanya dengan diri sendiri, sudah siapkah untuk berbagi
segala hal dengan si pasangan? Siapkah untuk maju bersama? Karena untuk bisa
maju bersama, butuh upaya dan kerja keras, karena si pasangan ga memiliki pola
pikir yang sama dengan kita, perlu kesabaran dan tenaga ekstra untuk mau
menyamakan visi.
3. Jangan
takut perubahan. Perilaku seseorang bisa diubah.
Perilaku bukanlah gen yang ga bisa diubah. Jadi, ketika kita harus berubah
untuk bisa keep up dengan
pasangan yang berubah, begitu juga si dia.
Jangan ketinggalan pula untuk bisa menjaga ucapan. Karena apa yang terucap
adalah doa. Ketika kita berpikir atau terucap kata pisah, maka yang ada dalam
pikiran kita adalah hal itu sebagai titik akhir.
Kalau nasehat dari orang tua,
waktu pacaran bukalah mata lebar-lebar; untuk mengetahui pribadi calon pasangan
kita, termasuk ga menutup kemungkinan untuk mencari pribadi lain yang lebih
tepat dengan diri kita. Tapi ketika sudah menikah, tutuplah mata rapat-rapat,
karena kita harus menerima pribadi yang telah kita pilih sendiri, baik maupun
buruknya dia. Dalam hal ini, ingat poin yang menunjukkan tentang penurunan ego
demi mengurai konflik yang bisa terjadi dalam sebuah hubungan.
Nah, bagaimana menurut Anda, setuju
dengan pendapat ini?
Bila
mata adalah cerminan jiwa, bukankah tak heran apabila mata dan pandangannya
menjadi ungkapan cinta?
Orang
yang mencinta memiliki pikiran yang penuh bunga mawar: kenangan akan masa-masa
yang indah, mengesankan, dan menyentuh.
Orang
yang jatuh cinta menyadari suatu keberadaan yang positif, dan memimpikan suatu
masa depan yang cerah.
Cinta
dapat menjadikan pikiran jernih, kreatif, dan penuh dengan fantasi yang indah
dan menyenangkan, karena cinta membuat orang mengarungi lautan antara fantasi
dan kenyataan.
Apa
artinya waktu bagi hati yang sedang dilanda cinta, apabila satu detik terasa
abadi dan satu tahun terasa sejam? Cinta memberi impian nyata kepada manusia. Impian
yang dapat dicapai dan terus menerus diperjuangkan menjadi suatu kenyataan.
Cinta
itu saling meneguhkan. Cinta adalah bentuk peneguhan yang paling indah.
Mencinta
adalah suatu keberanian. Keberanian untuk semakin berkembang sehingga hidup tak
terasa sia-sia.
Milikilah hidup yang bermakna ganda: hidup yang sedang mekar dan memekarkan hidup orang lain!
Mencintai...
Bukanlah bagaimana kita melupakan,
melainkan
bagaimana kita memaafkan...
Bukan bagaimana kita mendengarkan,
melainkan
bagaimana kita mengerti...
Bukan apa yang kita lihat,
melainkan
apa yang kita rasakan...
Bukan bagaimana kita melepaskan,
melainkan
bagaimana kita berjuang...
Memang seringkali orang yang paling kita cintai justru
adalah orang yang paling menyakiti
hati kita...
Belajar untuk mencintai dan menikmati dicintai,
tapi jangan pernah mengharapkan orang lain mencintai diri kita dengan cara dan
sebanyak yang sudah kita berikan kepadanya...
Berikanlah cinta tanpa mengharapkan balasan, maka
kita akan menemukan hidup yang terasa lebih indah.
Happy
Valentine Day! Selamat mencinta dan hidup dalam cinta...
Suatu hari, pacarku
mengeluarkan statement yang cukup
menarik. ”Di dunia ini, ada 3 hal yang aku prioritaskan.”
”Apa itu?” tanyaku.
Dia jawab, ”Satu,
Tuhan. Dua, kamu. Tiga, Real Madrid.”
Spontan aku tertawa
mendengarnya. ”Haaah? Real Madrid juga?”
”Iya donk!” Dia
tersenyum bangga.
Aku tau pacarku sangat
maniak dengan sepakbola, khususnya Real Madrid, tim kesayangannya. Sebenarnya
dari SMP aku juga suka sepakbola, sampai sekarang pun masih sering nonton. Tapi ya aku ga semaniak dia kalau nonton atau mengikuti berita tentang
sepakbola.
Sebagian besar wanita
mungkin bertanya-tanya mengapa pria sangat menggilai sepak bola.
Pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apa sih serunya menyaksikan 22 pria berlarian
di lapangan mengejar 1 bola?” atau “Mengapa wajib begadang semalam suntuk untuk
menyaksikan tim itu bertanding?”. Apalagi kalau sampai tim kesayangannya gagal
menang, pria bisa uring-uringan seharian, termasuk pacarku juga gitu. Awalnya
aku juga berpikir gitu, tapi setelah mencoba nonton, ternyata sepakbola itu
seru, lho! Hehehe...
Eh, ternyata aku
menemukan artikel dari Kompas.com yang dapat menjawab pertanyaanku, juga
mungkin pertanyaan sebagian wanita tentang hubungan antara pria dan sepakbola. Begini katanya:
Pria ingin jadi yang terbaik
Bahkan sejak masih
kecil pun laki-laki sudah memiliki sifat kompetitif. Baik
saat bertanding di lapangan olahraga atau saat bermain dengan teman-temannya.
Mengapa? Karena mereka menyukai perasaan menjadi seorang pemenang dan tak ada
yang bisa menyamai dirinya. Nah, begitu pula ketika menyangkut pasangan Anda.
Ia merasa menjadi pemain ke-12 di lapangan ketika tim kesayangannya sedang
bertanding. Adalah hal yang umum jika tiba-tiba ia mengenakan kostum tim
kebanggaannya itu (bahkan saat ia menonton sendiri di rumah). Jika pasangan
Anda adalah termasuk fans berat,
tak ada salahnya untuk mendampingi si dia saat timnya bertanding. Atau
setidaknya selalu mendengar hasil akhirnya. Karena, untuk sebagian fans, adalah hal yang sangat
menyakitkan ketika timnya gagal (entah itu kalah bertanding, pemain terbaiknya
kena kartu merah, atau pelatihnya dipecat). Ia akan membutuhkan dukungan dan
teman untuk berbagi, sama seperti kita, para wanita yang butuh penghiburan saat
sepatu incaran kita yang hanya ada 1 ternyata sudah dibeli orang lain.
Semacam
bentuk terapi
Ketika pria melihat
pria lain beradu kepala dan tubuh hingga terjatuh-jatuh, ia melihat suatu hal
yang berbeda. Mungkin bagi wanita tindakan tersebut sangat menyakitkan dan
tidak menyenangkan untuk dilihat. Namun bagi pria, ia mengasosiasikannya dengan
keadaan yang sedang ia hadapi di kantor, dengan teman, dengan keluarga, bahkan
dengan Anda. Ketika pemain kesayangannya bisa menghadapi “tantangan” untuk
beradu badan dengan pria bertubuh kekar di hadapannya, ia pun pasti bisa
menghadapi tantangan yang ia miliki di kehidupannya. Jadi, anggap saja menonton
sepak bola menjadi semacam terapi untuknya menghadapi hidup, sama seperti Anda
saat membaca buku pengayaan diri (self
improvement).
Ia ingin didengar
Pernah melihat si dia
berlagak bak pelatih saat menonton sepak bola? Misal, “Ayo, Owen, kamu pasti
bisa!” atau “Astaga, Ronaldo, kenapa lewat situ?” dan sebagainya. Alasannya
sederhana, karena ia ingin didengar. Tugas pelatih adalah untuk “mendesain”
langkah permainan dan para pemain mengikuti petunjuknya. Siapa yang lari ke
arah mana, siapa yang melempar ke siapa, dan sebagainya. Secara turun-temurun,
pelatih dikenal sebagai orang yang sangat berwibawa dan hebat dalam berbicara.
Sosok pelatih seringkali diasosiasikan sebagai pribadi yang amat hebat, karena
profesi ini harus bisa menjadi motivator, ayah, sahabat, diktator, dan
sebagainya dalam waktu bersamaan.
Ketika menyaksikan
pertandingan, ia akan menduga-duga apa yang akan dilakukan para pemain, dan
mempertanyakan apa yang salah jika timnya kalah. Jika Anda ingin mendorong
semangat dan membuatnya merasa hebat, cobalah bertanya padanya (tentu pada saat
jeda iklan). Coba tanyakan arti istilah-istilah dalam persepakbolaan, atau
tentang seputar pertandingan yang berlangsung. Ia akan merasa senang untuk bisa
menjelaskan tentang hal ini kepada orang lain, karena ternyata ada orang yang
mau mendengarnya.
Ia
suka aksi seru
Seorang rekan Kompas.com
mengatakan, “Sepak bola itu lebih menyenangkan kalau kita punya tim yang kita
jagokan.” Anda tentu akan menjadi sangat fokus menyaksikan pertandingan ketika
Anda menginginkan tim Anda memenangkan pertandingan. Saking fokusnya, Anda akan
merasakan bahwa pertandingan berlangsung cepat dan menegangkan. Setiap pemain
memiliki peran spesifik dan penting, tujuannya satu; menang! Sepak bola adalah
olahraga tim. Para penggemar sepak bola tahu, bahwa dalam setiap pertandingan
diperlukan persiapan yang sangat rumit, tak heran jika ia tak bisa melepaskan
pandangannya dari layar kaca. Daripada bosan menunggunya tegang saat
menyaksikan timnya bertanding, cobalah ikut mendukung tim kesayangannya. Atau cobalah
untuk kreatif bikin suasana seru dengan memanfaatkan keadaan yang ada.
Sepak
bola mendukung persahabatan
Ya, tentu Anda pernah
mendengar acara “nonton bareng sepak bola”. Kegiatan ini banyak digelar pada
musim pertandingan piala dunia atau piala Champions (kejuaraan sepak bola
antarklub di Eropa). Dalam acara-acara semacam ini para fans bisa bersatu dan
membicarakan hal yang sama, tim kebanggaan mereka. Hal semacam ini bisa membuat
seorang penggemar sangat bahagia, tak heran jika si dia betah nongkrong di sana
berjam-jam, bahkan saat pertandingan sudah berakhir lama. Acara nonton bareng
semacam ini memberikan kesempatan untuk si dia dan teman-temannya menyoraki
atau mendukung sosok pemain yang jauh lebih cepat, lebih berotot, lebih kaya,
dan lebih beruntung darinya. Pada saat-saat seperti ini,
wajar jika Anda merasa tersisihkan dan tak diperhatikan.
Kalau menurut aku sih,
analisanya boleh juga...
Jadi ya biarlah para pria dengan kesukaan sepakbolanya. Apalagi pacarku punya impian, "Suatu hari nanti, kalau ke luar negeri, negara pertama yang akan aku datangi adalah Spanyol, dan aku akan menginjakkan kaki ke Santiago Bernabeu..."
"Sama siapa?" aku menggodanya.
"Sama kamu donk.. Ayo bulan madu disana."
Selama impiannya masih positif, aku pasti bilang "Amiiiiinnn...."
Kenapa harus ada
HP? Kenapa muncul Facebook? Twitter? Blackberry? Kalau hasilnya seperti ini...
Toh zaman dulu ga ada begitu-begituan juga ga apa-apa, kan?!
Inilah
keprihatinanku akan dampak teknologi masa kini...
Satu:
Teknologi mestinya “mendekatkan orang yang jauh”, bukan malah sebaliknya,
“menjauhkan orang yang dekat”.
Berapa banyak dari kita yang berterima kasih atas munculnya Facebook,
Twitter, atau apapun jaringan sosial lainnya. Berkat “mereka”, kita dapat
bertemu kembali dengan teman dan/atau kerabat yang sudah lama tidak bertemu,
bertukar informasi, dan tetap menjalin kekerabatan. Namun tanpa disadari,
ketergantungan dan maniak akan situs jejaring sosial tersebut malah membuat
kita “lupa berdiri”, alias melupakan keberadaan dan INTERAKSI dengan orang lain
secara langsung, bahkan yang posisinya dekat sekalipun, karena terus sibuk
memelototi komputer di depan mata kita.
Mengapa tidak berjabat tangan dan memberikan ucapan selamat ulang tahun
secara langsung pada rekan kerja satu kantor, daripada menuliskannya lewat Wall
Facebook-nya?
Mengapa tidak berdiskusi tentang urusan pekerjaan dengan rekan secara
langsung, daripada mengomunikasikannya lewat Yahoo Messenger?
Sungguh amat memprihatinkan... Yang jauh didekatkan, tetapi yang dekat
-bahkan terdekat- malah dijauhkan.
Dua:
Teknologi mestinya membantu kapasitas otak kita , bukan sebaliknya,
mengistirahatkan otak kita.
Sejak kemunculannya, alat komunikasi bernama Hand Phone telah mengubah
kehidupan manusia. Berbagai fitur yang ditawarkannya, seiring dengan
perkembangan zaman, semakin disesuaikan untuk memudahkan kebutuhan dan gaya hidup kita. Namun
sadarkah kita, keberadaan “benda canggih” yang awalnya hanya digunakan untuk
telepon atau mengirimkan pesan singkat (SMS) tersebut telah menggerus memori
kita?
Berapa banyak dari kita yang kelabakan atau panik saat HP hilang? Tentu
saja, bagaimanapun juga kan HP tetap merupakan sebuah kebutuhan, walaupun
sekarang bukan merupakan barang mewah lagi. Tapi yang aku tekankan di sini
bukan hilangnya “HP” tersebut, melainkan ini: bagaimana ketika HP tersebut
hilang, kita tak dapat menghubungi siapa-siapa karena tak ingat satu pun nomor
teman atau saudara???
Ketergantungan pada “Contact” HP tersebut sangatlah besar.
Memang, tak mungkin mengingat semua nomor teman yang rata-rata lebih dari
10 digit itu. Tapi apa salahnya mengingat nomor orang tua atau beberapa saudara
dan teman terdekat saja, untuk berjaga-jaga kalau misalnya terjadi sesuatu
seperti HP hilang atau mati karena low-batt.
Lalu jawablah pertanyaan ini: berapa banyak dari kita yang menyelesaikan
hitungan sederhana dengan mengandalkan KALKULATOR di HP?
Malas atau memang tidak bisa berhitung sih?? Sekadar memastikan hitungan
benar it's ok, tapi ga harus menghitungnya dari awal, kan?
Tiga:
Teknologi mestinya “membuka dunia kita lebih luas”, bukan sebaliknya,
”tenggelam dalam dunia kita sendiri”.
Aku akan berbicara tentang satu lagi kecanggihan yang muncul di abad ini:
Blackberry namanya, “ponsel pintar”,
katanya.
Sama seperti keprihatinanku akan Facebook dan Twitter yang membuat “orang
dekat dijauhkan”, keberadaan Blackberry ini telah “menghipnotis” orang yang
memakainya. Bagaimana tidak, lha dunia terasa dalam genggaman! Tinggal klik
sana, klik sini, kita bisa melakukan semuanya dengan BB. Belum lagi promosi
dari provider-provider yang menawarkan paket semurah-murahnya.
Tapi, aku seringkali melihat orang jadi sibuk sendiri dengan
Blackberry-nya, seolah-olah ga ada orang lain di sekitarnya. Betah duduk diam
berjam-jam asal BB ga pernah lepas dari genggaman, entah BBM-an, YM-an, FB-an,
Twitter-an, atau apapun yang bisa dilakukan dengan BB.
Mami aku tanya, “Kamu ga beli BB ta?”
“Ah, buat apa? Aku ga perlu kok.”
“Kan enak bisa chatting-chattingan, ntar BBM-an, kirim-kirim foto kayak
gini, lho...” katanya sambil menunjukkan BB-nya.
Aku bilang, “Mami, aku ini udah AUTIS, punya BB ntar aku tambah autis!”
Tentu aja aku bercanda (ga autis beneran), tapi rupanya Mamiku ga paham.
“Maksudnya? Autis piye?”
“Mami, punya BB itu bikin orang 'autis', seolah-olah punya dunia sendiri.
Lihaten ta, BB ga lepas dari tangan, dikit-dikit kling – kling – kling
(aku menirukan bunyi BB-nya), trus buru-buru ngelihat, ngejawab, atau apalah
gitu. Jadi ga ngerespon orang lain, ga interaksi sama orang lain karena sibuk
melototin BB-nya. Ya, gitu deh pokoknya.”
Mamiku diam tapi masih ga percaya, “Ah, masa gitu? Tapi kan ga semua.”
“Iya sih ga semua... Tapi tetep aja, aku ga perlu BB.”
“Tak bayarin, wes.
Pake xxx (menyebutkan salah satu provider) sama kayak Mami, bayarnya
murah!” Si Mami masih ngotot, sambil merayu.
“Nggak. Makasih,
Mami.”
Dan pernah lihat
berita ga, gara-gara ga dibeliin BB, seorang anak sampai nekat mau bunuh diri. Seorang
anggota dewan ga merhatiin rapat
karena asyik BBM-an ria.
Prihatin deh jadinya....
Lalu ini pengalamanku lainnya. Kemarin aku chating dengan 3 orang rekan kerja yang berada di cabang lain.
Setelah chatngalor ngidul membahas tentang pekerjaan, eh... mereka menanyakan hal yang sama, "Arzy, PIN BB-mu berapa?"
Heran,
kok bisa mereka bertanya tentang hal yang sama ya, padahal berada di
cabang yang berjauhan. Aku menjawab ketiganya dengan jawaban yang sama
pula, "Saya ga punya BB, Pak.." (kebetulan ketiganya laki-laki)
diikuti dengan smiley :D
Reaksi mereka bertiga pun sama lagi! "Ah, masa ga punya??"
Aku hanya menarik nafas panjang, bukan merasa tersindir, tapi heran, kenapa ga percaya kalau aku ga punya BB.
"Beneran deh Pak, saya ga punya BB..." tetap diikuti smiley :D
takutnya dikira sombong ga mau ngasih PIN-nya.
Hari gini ga punya BB? Mungkin itu yang ada di pikiran mereka. hihihi...^^p
Jika HP, FB, Twitter, BB, atau apapun teknologi canggih saat ini ga pernah
ada, apa yang terjadi dengan dunia?
Tulisan ini dibuat tidak untuk menggurui, menyindir, atau menyakiti siapa
pun. Bukan pula benar atau salah. Hanya sebuah OPINI.
Aku bukan ahli teknologi, ga selalu melek teknologi. Kalau ada yang mau
menambahkan, silahkan berkomentar.