Tampilkan postingan dengan label Kini Kutahu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kini Kutahu. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Oktober 2013

Kejutan Dari Teman Baru

PERHATIAN! Demi melindungi privasi, tulisan ini merahasiakan beberapa info dan data dari para pelaku di dalamnya. Jika ada ketidakjelasan hari, tanggal, tempat, tujuan, dan hal-hal lain, ini merupakan kesengajaan.


Minggu lalu, aku punya teman baru. Berawal dari tujuan melengkapi beberapa syarat administratif, aku menuju sebuah kantor di Jalan Manyar itu. Kebetulan aku ditemui oleh seorang pria muda yang rapi, dan... well, aku akui dia good looking. Sebut aja namanya Sendy. Setelah ngobrol menanyakan hal-hal yang harus aku lengkapi, dia berjanji, ”Nanti saya hubungi kalau jadi, ya...” Lalu kami bertukar nomor HP agar lebih mudah berkomunikasi.

Beberapa hari berlalu tanpa kabar, aku follow up perkembangan administrasiku ke Sendy lewat SMS. Satu kali, ga dibales. Besoknya, aku kirim SMS lagi. Ga dibales lagi! Akhirnya setelah hampir ngirim SMS ketiga, dia menghubungi aku. Katanya, administrasi yang aku urus sudah selesai. Oke, lega, case closed.

Setelah itu, aku ga pernah nyangka kalau obrolan dengan Sendy bakal berlanjut. Perkiraanku sih, mungkin karena aku keukeuh banget nanya, dia jadi terkesan: gigih banget ini orang, haha... (aku nulis begini karena belum konfirmasi ke dia bener atau ga. Peace, Sen! Y^_^Y)
Dia memang baik dan sebab utama obrolan kami bisa nyambung adalah karena kami lulusan fakultas yang sama dan berprofesi sama. Awalnya aku manggil dia ”Pak” untuk menunjukkan penghormatan, padahal sebenernya dia ga pantes dipanggil ”Pak”. Mungkin dia cuma lebih tua 1-2 tahun dari aku. Suasana mulai cair saat dia bilang, ”Jangan panggil Pak ah, panggil aja Sendy”. Jadi kami biasa ngobrol lewat Whatsapp, bertukar info tentang kerjaan. Gimana kerjaanmu disana? Ngapain aja? Kalau aku di sini seperti ini, bla.. bla.. bla... Oh, kamu disana kayak gitu?
Yah, begitulah. Seru aja, karena pada dasarnya aku memang suka menambah teman, suka belajar dan memperluas pengetahuan, apalagi dari orang baru.

Lama-lama, obrolan kami ga cuma soal kerjaan lagi. Mulai seru-seruan, saling mengorek informasi pribadi. Suatu hari, dia bilang kalau bisa ilmu grafologi (membaca tulisan tangan dan tanda tangan untuk menentukan kepribadian seseorang). Wah, aku juga pernah baca tentang grafologi, jadi tau sedikit-sedikit. Bisa grafologi memang menunjang profesi kami yang banyak berhubungan dengan orang. Ilmu grafologi itu sangat menarik dan aku memang sudah lama mau belajar lebih lanjut, mau menekuni, juga karena profesi sebagai seorang Grafolog masih jarang ada di Indonesia. Tapi pertimbangannya, kursus grafologi itu mahal banget! Jadi selama ini aku cuma belajar dari internet. Nah, mumpung punya temen yang (ngakunya) bisa grafologi, apa salahnya belajar dari dia? Aji mumpung. Hehe...
Untunglah, dia juga punya pikiran yang sama dengan aku. Jadi kami mau belajar bareng. Dari situ nanti bisa sharing pengetahuan, karena yang aku tau belum tentu dia tau, dan sebaliknya, sekaligus meyakinkan: bener ga sih grafologi yang aku pelajari dari internet itu?

Pada hari dan jam yang telah disepakati bersama, kami ketemuan di suatu tempat. Ini bukan kencan, lho! Ini adalah ”belajar bersama”, hahaa... (kayak anak sekolah aja)
Minta kertas dan pinjam pulpen dari waiter-nya, aku tanda tangan, lalu minta dianalisa. Hasilnya:
Katanya aku punya ”sense of  art” yang tinggi >> Betul.
Katanya aku mempunyai kekaguman pada orang tua >> Betul.
Katanya aku punya emosi yang besar (bisa positif ataupun negatif), tapi masih bisa menyalurkan dengan baik dan dikontrol oleh rasio (misalnya apa yang aku lakukan untuk emosi ini) >> Betul.
Katanya aku masih sering mengingat masa lalu, dan walaupun masa lalu itu berakhir dengan baik, masih menyisakan ’sesal’ atau ’tanda tanya’ yang ga pernah bisa tuntas. Kalau berakhir dengan ga menyenangkan, bisa menimbulkan kekecewaan dan ’dendam’ yang harus dipenuhi >> Bisa jadi.
Katanya dalam hal menyelesaikan masalah, aku cenderung kurang mantap dan kurang stabil >> Kadang-kadang.
Katanya aku punya kebutuhan yang tinggi untuk dilindungi >> Betul.

Hmm, interesting! Dia ungkapkan lebih banyak dari itu, memang ga semua betul 100%, malah ada yang salah (ga aku cantumkan soalnya lupa). Aku kagum sama pengetahuannya. Waktu gantian aku coba analisa tanda tangannya, syukurlah ternyata info yang aku dapat dari internet itu cukup akurat. Walaupun aku ga bisa menjelaskan sebanyak dia, tapi dia mengakui kalau cocok dengan kepribadiannya. Seneng banget, soalnya belum terlalu kenal, jadi belum tau pribadinya seperti apa, tapi lewat tanda tangan bisa dianalisa dan lumayan sesuai. Keren! ^_^

Didorong oleh keinginan yang kuat untuk bisa, aku jadi minta diajari, bagian-bagian mana yang bisa membuat dia menganalisa pribadiku seperti itu. Sambil guyon, dia bilang, ”Belajar ini biayanya mahal, lho! Kamu bisa bayar ga?” haha...

Ternyata sama kayak aku, dia ga belajar grafologi secara khusus yang membutuhkan biaya mahal itu. Dia belajar grafologi dengan cara menggabungkan berbagai interpretasi dari tes grafis psikologi. Kalau kalian dipsikotes, pasti diminta menggambar sesuatu. Bisa orang, pohon, atau orang-rumah-pohon, bisa juga melengkapi gambar dari bagian yang sudah ada, kan? Nah, secara psikologi, semua gambar itu bisa diinterpretasikan sebagai kepribadian seseorang. Setiap tarikan garis, lengkungan, titik, arsiran, coretan, proporsi gambar, penekanan, bahkan bekas yang tertinggal akibat hapusan pensil pun bisa dianalisa. Wow, kalau dia bisa belajar sendiri dengan menggabungkan interpretasi dari tes grafis, itu mengagumkan, soalnya pasti ga gampang. Analisa tes grafis ga boleh sembarangan, harus hati-hati banget, teori harus kuat, dan pastinya grafologi juga gitu. Bahkan, para Grafolog yang aku tau, sampai pakai kaca pembesar dan penggaris waktu menganalisa tanda tangan atau tulisan seseorang. Keren! ^_^

Setelah Sendy menjabarkan bagian-bagian dari tanda tanganku berikut penjelasannya, aku masih penasaran pengen belajar. ”Ayo sekarang yang tulisan tangan. Kamu analisa tulisanku, ya...”
”Aku ga bisa kalau tulisan tangan. Aku bisanya cuma tanda tangan.”
Hah? Aku kaget waktu dia bilang gitu. Heran jadinya, bukannya itu satu kesatuan, ya? Mungkin karena dia belajarnya dari tes grafis aja, jadi cuma bisa menerjemahkan yang tanda tangan.
Kalau gitu, gantian aku yang beraksi, haha... Setelah dia nulis beberapa kalimat, aku coba menganalisanya. Yeah, akurat juga! Yaa, tetep ada yang salah, tapi sekali lagi, aku cukup bangga akan hasilnya. Hehehe...

”Kamu kok ga mau tau sih, dari bagian mana aku bisa analisa kayak gitu?” tanyaku saat melihat dia ga bereaksi antusias pengen tau.
”Ga, aku memang ga mau tau kok,” katanya tapi dengan tampang cengengesan.
”Oooh, curang. Ga mau bayar, ya?”
”Hahahaa...” dia ketawa.
Apa jangan-jangan emang dia udah bisa jadi ga perlu dikasih tau...

Terakhir, aku unjuk kemampuan lain: membaca garis tangan. Aku juga belajar otodidak, dari buku. Ketika telapak tangannya terentang di hadapanku, dari garis-garisnya aku melihat bahwa, "Wah, kamu orangnya tenang banget!”
”Iya, bener,” balasnya ngangguk-angguk.
Mencoba analisa yang lain lagi, ternyata kecenderungannya masih sesuai. Wah, lama-lama aku bisa jadi dukun beneran ini. Amiinn *eh?

Dua jam nongkrong, ngobrol, makan, dan belajar grafologi. Nice experience with new friend.
Aku bersyukur karena Tuhan merancangkan ini semua. Saat lagi antusias dengan grafologi, eh kenalan dengan orang baru yang ternyata bisa grafologi. Sendy orangnya asyik, seru, ramah, mbanyol, dan ga pelit berbagi ilmu. Walaupun dia lebih pinter grafologinya daripada aku (tapi dia ga mengakui kalau dia pinter), dia menerima masukan saat aku berpendapat, misalnya ”Setauku di tanda tangan itu ga boleh ada lingkaran, soalnya menunjukkan  sifat posesif atau over protektif...”
”Oya? Bisa jadi referensi tuh... Coba ntar aku cari tau juga.”

Jadi memang bener, jika diibaratkan diri kita adalah gelas yang penuh berisi air, ketika kita ga membiarkan air itu dituang ke tempat lain, kita ga akan pernah diisi dengan air baru. Lewat teman baruku, aku  menyemangati diri sendiri untuk menjadi manusia baik yang bermanfaat bagi orang lain.
Keep moving, keep challenging, keep improving!
    

Kamis, 04 April 2013

Berburu Vintage Fashion

Tren mode dunia selalu eksis setiap hari. Munculnya para desainer muda berbakat membuat dunia fashion tak pernah berhenti menampilkan karya-karya baru yang menjadi referensi untuk tampil gaya. Bahkan, negara-negara kiblat mode seringkali mengeluarkan kreasinya sesuai 4 musim: semi, panas, gugur, dan dingin. Di Asia, saat ini Korea menjadi sorotan karena kiprahnya yang cukup bagus di dunia entertain dan mode. Jadi, banyaknya pilihan membuat para pecinta fashion dapat menambah koleksi busananya. Tetapi, seiring perkembangannya, bukan berarti mode-mode keluaran lama menjadi usang dan tidak menarik lagi. Justru di beberapa kalangan, gaya klasik yang disebut vintage ini tetap digemari dan diburu keberadaannya.

Memakai pakaian model lama bukan berarti membuat penampilan jadi terkesan kuno. Walaupun sederhana, kesan elegan dan bergengsi tetap bisa didapatkan. Kuncinya, perlu padu-padan dengan item lain yang stylish, misalnya dengan mengenakan aksesori. Tas tangan, arloji, atau perhiasan dapat mengubah penampilan seseorang menjadi lebih menarik dan trendi.

Kini, pakaian bergaya vintage banyak ditemui di butik ataupun mall. Tapi walaupun terbilang model lama, bukan berarti harganya murah. Beberapa item malah lebih mahal dibandingkan dengan model terbaru karena desainnya yang langka atau unik. Nah, bagi Anda yang ingin mencari koleksi vintage namun tidak ingin merogoh kocek terlalu dalam, Anda dapat mempertimbangkan untuk mengunjungi pasar barang bekas.

Tidak hanya pakaian yang dijual di pasar barang bekas atau pasar loak. Beragam jenis aksesoris, tas, sepatu, jaket, topi, mantel, bahkan kosmetik ada disana. Kebanyakan barang yang dijual berasal dari Singapura, Korea, China, Jepang, dan Amerika Serikat. Beberapa barang pun bukan bekas dipakai orang, melainkan sisa impor. Walaupun memang barang bekas, Anda tak perlu khawatir soal kualitasnya. Asal jeli memilih, barang bermerek dunia dengan kualitas yang baik bisa didapatkan. Plus, kepuasaan saat mendapatkannya dengan harga murah. Misalnya kemeja dihargai mulai Rp 5000 sampai Rp 40 ribu, tas sekitar Rp 15 ribu sampai Rp 100 ribuan, jaket atau sepatu mulai Rp 50 ribu hingga ratusan ribu Rupiah, bahkan banyak pula baju dan kaos yang cuma Rp 1000! Tentu saja, untuk mendapatkan harga terbaik, tawar menawar dengan si penjual menjadi keharusan. Bukan tidak mungkin, dengan uang Rp 100 ribu, Anda bisa mendapatkan 4 potong baju vintage yang tetap chic saat dipakai.

Sayangnya, masih banyak orang yang gengsi berbelanja di pasar barang bekas, mungkin karena image “pasar” yang kotor, panas, dan tidak ingin berdesakan dengan pembeli lain. Padahal banyaknya barang unik dengan model yang tidak pasaran dan harga terjangkau menjadi daya tarik tempat ini. Tapi beberapa wanita yang senang berbelanja di pasar barang bekas mengungkapkan serunya ‘berburu’ pakaian di antara tumpukan yang ‘menggunung’ itu.

Nah, tertarik untuk mulai mengunjungi pasar barang bekas? Agar berbelanja disana terasa lebih nyaman, tipsnya adalah kenakan pakaian dan alas kaki yang nyaman, juga sebaiknya tidak memakai perhiasan yang mencolok. Jangan ragu untuk mencari dan menggali lebih dalam, karena kita tak akan pernah tahu ada pakaian branded yang unik terselip diantara tumpukan-tumpukan tersebut. Jika sudah menemukan pakaian yang diinginkan, jangan terburu-buru membelinya. Pastikan dulu kualitasnya, apakah masih layak pakai atau ada yang cacat, barulah mulai tawar menawar dengan si penjual. Jika menemukan warna baju yang pudar, kotor, atau berlubang, mintalah si penjual menurunkan lagi harganya. Siapkan selalu uang nominal kecil dan recehan di dalam dompet, agar tak menyusahkan penjual karena harus memberikan uang kembalian terlalu banyak.

Pasar barang bekas biasanya buka mulai pukul 9 pagi sampai 6 malam. Jika tidak ingin berdesakan, datanglah pagi hari saat suasana belum ramai dan panas, atau sekalian sore hari saat hendak tutup untuk mendapatkan tambahan obral. Harga yang murah dan banyaknya pilihan bisa membuat kita semangat mengelilingi seluruh pasar, berbelanja kesana-kemari. Oleh sebab itu, bawalah tas sendiri untuk membungkus barang yang kita beli. Selain pertimbangan kepraktisan, juga untuk mengurangi pemakaian tas kresek. Hal yang terpenting adalah jangan lengah, selalu jaga tas dan barang belanjaan Anda agar terhindar dari copet-copet yang memanfaatkan situasi berdesakan di pasar.

Satu lagi alasan orang ragu membeli pakaian bekas adalah takut terkena penyakit kulit atau gatal-gatal. Memang benar, karena pakaian-pakaian tersebut didatangkan entah dari mana, sudah disimpan terlalu lama hingga jadi lembab, juga mungkin sudah dipakai oleh dua orang, tiga orang, bahkan lebih. Untuk mencegah penularan kuman, pastikan mencuci dahulu pakaian second tersebut segera setelah sampai di rumah. Gunakan air panas untuk merendamnya, tambahkan sabun antiseptik, lalu cuci dengan sabun seperti biasa. Saat mencuci, perhatikan bahan pakaian. Katun yang tipis dan bahan yang halus sebaiknya dicuci dengan tangan, sedangkan untuk coat atau bahan-bahan yang tebal dapat dicuci dengan mesin cuci. Jangan abaikan pula perawatan pakaian berbahan khusus seperti bulu-bulu agar bentuknya tidak berubah.

Barang bekas tidak sepenuhnya langsung dibuang dan kehilangan fungsinya. Bisa jadi, dengan keunikan bentuk dan dianggap bernilai seni tinggi, barang bekas tersebut banyak dicari orang dan berharga mahal. Begitu pula dalam hal pakaian. Dengan kembalinya tren mode 1980-an, vintage fashion membuat perbendaharaan mode dunia semakin kaya. Bagi para pencintanya, bukankah merupakan suatu kepuasan saat memakai pakaian yang terlihat berharga mahal, padahal aslinya didapat dengan harga murah di pasar barang bekas? Kini, membeli pakaian second merupakan salah satu alternatif bagi wanita yang ingin tampil modis tanpa membuat dompet jadi tipis.

So, ladies, sudah siap berburu vintage fashion? Beberapa pasar barang bekas yang terkenal adalah Pasar Senen dan Pasar Baru di Jakarta, Pasar Gedebage di Bandung, Pasar Gembong di Surabaya, dan Pasar Kodok di Tabanan, Bali. Tampillah beda dengan gaya vintage yang Anda dapat berdasarkan inspirasi dari sana.


~~Diambil dari berbagai sumber~~

Senin, 28 Januari 2013

Persiapan Menghadapi Anak Kritis: Menulis



Seorang wanita- khususnya seorang ibu- dituntut untuk bisa cakap dalam urusan rumah tangga. Semua cinta, perhatian, dan fokus utama ada pada keluarga. Demikian besarnya peran seorang wanita di rumah sehingga seringkali wanita harus mampu melakukan berbagai hal sekaligus (multitasking) dalam mengurus suami dan anaknya.

Kadangkala, ketakutan terbesar seorang ibu adalah tidak bisa mendidik anak dengan baik. Di tengah gempuran modernisasi dan arus perubahan zaman yang sangat cepat saat ini, banyak ibu yang mengeluhkan kelakuan anak-anak sekarang yang beda banget dengan waktu seumurannya dulu.Ya jelas lah, anak-anak yang lahir setelah tahun 2001  disebut ”Generasi Z” atau Generasi Digital atau Generasi Millenium, yang tentu kita tahu lingkungannya sudah berbeda dengan zaman kita yang disebut Generasi Y atau X. Jadi, pastinya anak-anak sekarang memerlukan penanganan berbeda dan ibu tidak bisa serta merta menerapkan hal yang dahulu diajarkan orang tua kepada anak, misalnya ”Nenek dulu mengajari Mama seperti ini, jadi kamu juga harus nurut apa kata Mama”. Oh, bisa-bisa nanti anak jadi membangkang karena melakukan hal yang tidak disukai atau tidak pas di hatinya.

Tapi ibu ga perlu khawatir lagi bagaimana menanangani anak sekarang, khususnya dalam hal rasa ingin tahunya yang sangat tinggi (kritis). Ternyata aku menemukan artikel menarik yang menjelaskan salah satu cara cerdas menangani mereka, yaitu dengan aktif menulis dan membaca. Begini liputannya:

Ibu yang suka menulis merupakan salah satu tanda ibu yang suka membaca. Meski ada juga kemungkinan ibu yang suka menulis namun jarang membaca. Ibu yang suka membaca menjadi gudang ilmu bagi anaknya. Ibarat sekolah sebagai pusat belajar bagi anak mengenai banyak hal, maka ibu adalah guru yang mengajarkan banyak ilmu. Karena itu, ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya di mana seharusnya anak mendapatkan lebih banyak ilmu di awal mereka belajar.

Ibu yang suka menulis sekaligus hobi membaca dapat menjadi tempat menumpahkan dahaga anak yang serba ingin tahu. Bayangkan bila di tengah dahaganya, anak yang sedang kritis, mereka tidak mendapatkan pencerahan atau tidak mendapatkan apa yang ingin diketahuinya. Apa yang akan terjadi? Ada dua hal:

Pertama, anak akan bosan bertanya pada sang Bunda karena selalu mendapatkan jawaban, "Eeeeeeemmmm" dengan kening mengerut atau "Bunda tidak tahu". Ketika pertanyaan anak tak terjawab, maka keingintahuannya melemah. Anak akan malas bertanya lagi pada ibunya. Akhirnya mengubah haluan bertanya pada dirinya sendiri, bukan lagi pada ibu.

Kedua, anak mulai mencari tahu dengan caranya sendiri. Ini bisa dilakukannya dengan membaca atau paling cepat bertanya pada temannya. Nah, bagaimana bila temannya sama-sama tidak tahu? Tentu anak akan bingung. Lalu bagaimana jika temannya sok tahu dan memberikan jawaban salah? Anak akan menjadi salah mengartikan. Mereka mendapatkan jawaban yang salah sehingga akhirnya menghasilkan persepsi yang juga salah. Hal inilah yang kerap terjadi di dunia anak.
Anak Mau Tahu dan Ibu Serba Tahu
Kebiasaan menulis dan membaca seorang ibu akan membuat anak terbiasa dengan pemandangan keseharian ibu yang positif. Apa yang ibu baca akan memunculkan keingintahuan anak, "Ibu sedang baca apa?" Lantas ibu akan menerangkan dengan cara yang menarik.
Jadi, aktivitas ibu suka menulis bukan hanya menumpahkan ilmu dan keingintahuan ibu sendiri akan sesuatu. Hal ini juga berdampak pada anak yang semakin kritis bertanya. Karena anak ibaratnya memeroleh gizi dari setiap jawaban yang diberikan ibu.

Semakin anak ingin tahu dan mulai bertanya ini-itu, ibu pun tak kalah serunya menjawab pertanyaan anak dengan cara yang menarik. Hubungan antara ibu dan anak menjadi interaktif dan terjadilah simbiosis mutualisme. Anak akan bertanya apa saja dan ibu juga akan menjawabnya dengan cara yang berkelas. Anak menjadi kritis! Anak yang kritis ini merupakan cerminan dari kritisnya sang ibu.

Meski ibu gudangnya ilmu, namun tak semua ilmu ibu ketahui. Pada ibu-ibu yang doyan nulis, ketika ada pertanyaan anak yang tidak diketahui jawabannya, ibu tidak mudah panik atau grogi, misalnya saat anak bertanya tentang seks. Ibu yang berwawasan akan menjawabnya lebih cerdas, misalnya, "Baiklah, kita cari sama-sama, yuk, jawabannya di buku atau di Google." Akhirnya, ibu dan anak pun akan belajar bersama mencari jawabannya.
Pola ini lebih baik dibandingkan ibu yang sok tahu dengan menjawab semua pertanyaan anak meski jawabannya salah. Hal ini tentu akan menyesatkan.

Ibu Kritis, Anak pun Kritis
Ibu yang tidak menulis bukan berarti anaknya menjadi tidak kritis. Anak tetap bisa menjadi kritis karena memang di usianya rasa ingin tahunya sangat melangit. Ibu yang tidak suka menulis tetap dapat membuat anaknya kritis jika ibu mampu menjawab apa pun pertanyaan anak.

Sekalipun pertanyaan-pertanyaan anak kelihatannya sepele atau terlalu sulit dijawab dan seringkali membuat ibu merasa jengkel. Misalnya, "Kenapa kalau siang itu terang?" atau "Darimana asalku?" Hal ini sebetulnya sesuai dengan teori psikologi perkembangan anak. Bisa dilihat dari se-kritis apa anak menyampaikan isi pikirannya melalui kata apa dan mengapa. Mereka sedang melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka bayangkan.

Adakalanya ketika anak mengajukan pertanyaan kritis, kerap kali kondisinya tak matching dengan orangtua. Misalnya, anak memberikan pertanyaan dengan kata mengapa, sementara kondisi ibu sedang lelah atau bosan sehabis mengurus rumah, sehingga bisa jadi ibu tidak tahu harus menjawabnya. Akibatnya, bukan jawaban yang diperoleh anak, melainkan anak mendapatkan luapan emosi sang ibu. Akhirnya, sikap kritis anak berubah haluan menjadi "pertanyaan yang menumpuk di kepala".

Jadi, dalam hal ini, untuk kritis harus ada dua orang, yaitu ibu dan anak, bukan hanya salah satu pihak saja. Anak harus memiliki tempat nyaman untuk bertanya dan ibu juga bisa nyaman berbagi ilmu yang ada dalam pikirannya. Anak yang kritis akhirnya akan bertemu ibu yang kritis. Inilah yang membuat anak akan terus terangsang mengembangkan sikap kritisnya didampingi sang ibu. Luar biasa, bukan?

(Tabloid Nakita/Indari Mastuti, penulis buku Mompreneur dan pendiri Komunitas Ibu Doyan Nulis)
 Sumber: Kompas.com

Nah, artikel ini sangat pas buatku yang juga senang nulis dan sedang bersiap menjadi seorang ibu, kira-kira dua tahun lagi, hehehe...
Menulis dan membaca memang memberi banyak manfaat. Senang rasanya kalau dari membaca dan menulis bisa tambah pengetahuan, sharing pengalaman, terlebih kalau tulisanku bisa menginspirasi dan disukai banyak orang. I love writing and reading very much!

Sabtu, 23 Juni 2012

"Boss" atau "Leader"?


Tuhan menciptakan manusia dengan segala kekuasaanNya. Kata John Locke, pada saat dilahirkan, manusia itu ibarat kertas yang putih bersih (tabula rasa). Pola asuh dan lingkunganlah yang membentuk seseorang menjadi manusia seperti pada waktu dewasa. Banyak segi kepribadian dan karakter individu yang diperolehnya dari proses belajar.
Karakter tersebut terus menemukan muaranya seiring dengan perkembangan hidup manusia. Selain dipengaruhi oleh sifat bawaan, karakter hasil pengaruh lingkungan itu kemudian menentukan bagaimana manusia berperilaku.

Dalam perilaku kehidupan sehari-hari, manusia pasti berhubungan dengan sesamanya. Bagi kita yang berada di dunia profesional berlabel perkantoran, kerjasama dan komunikasi yang baik mutlak diperlukan agar dapat bekerja dengan baik pula. Aku menulis ini karena terinspirasi oleh perilaku orang-orang di kantorku.

Di kantorku ini, ada ± 160 manusia. Dari jumlah itu, sekitar 13 orang menjabat supervisor dan pimpinan di beberapa bagian, seperti departemen marketing, departemen kredit, departemen operasional, dsb. Memang terkesan aneh, dalam satu kantor ada begitu banyak pimpinan. Tapi karena perusahaan tempatku bekerja ini mempunyai banyak cabang di seluruh Indonesia, dan Surabaya adalah kantor cabang terbesar, maka sebagian besar pimpinan seperti koordinator area, koordinator wilayah, juga para koordinator operasional ditempatkan di Surabaya; tentu dengan tetap berkoordinasi dengan kantor pusat di Jakarta.

Nah, menarik saat mengamati bagaimana para pimpinan dan supervisor ini bekerja. Mereka mempunyai gaya masing-masing. Ada yang begitu terbuka dalam hal koordinasi, ramah, namun tetap tegas dan profesional, sehingga ia disukai oleh kami, para staf, baik yang berada di departemennya maupun bukan. Sebaliknya, ada pimpinan yang terkesan kaku, begitu serius, disegani, bahkan cenderung ditakuti oleh para staf. Ada yang meluapkan emosi secara terbuka, ada pula yang lebih mampu mengelola emosinya. Ada yang dibalik sikap tegasnya memimpin ternyata juga suka melucu dan tertawa keras-keras. Ada pula lho, yang tidak berbahasa Indonesia yang baik, tapi kalau ngomong campur-campur dengan bahasa Jawa! Ada yang moody, alias pas mood-nya baik, ia ikut senang-senang dengan para karyawan, tapi hati-hati aja pas mood-nya jelek... bisa “disemprot” deh...hehe.. Macem-macem lah! :D

Nah, berdasarkan pengamatan itu, aku belajar mengapa ada pimpinan yang –dalam bahasa gampangnya– disukai, disegani, cenderung ditakuti, atau tidak disukai (dibenci). Ternyata itu ditinjau dari bagaimana cara mereka memperlakukan anak buah atau para stafnya. Ada yang disebut “Boss”, dan juga “Leader”.
Boss dan Leader adalah dua istilah yang mempunyai definisi tersendiri, walaupun kelihatannya sama, yaitu seseorang yang memuncaki suatu piramida pekerjaan.



Leader adalah seseorang yang mampu memotivasi bawahannya. Ia mempunyai pikiran yang terbuka untuk menerima kritik, tantangan, maupun ide dari orang lain. Seorang Leader tidak serta merta memerintah bawahannya, namun lebih mendorong mereka untuk melakukan pekerjaannya secara lebih baik. Oleh sebab itu seorang Leader dipandang sebagai contoh yang baik, dihormati dan disukai bawahannya bukan semata-mata karena jabatan ataupun senioritasnya, namun juga karena kemampuan, karakter, serta attitude-nya.

Sebaliknya, Boss dihormati terutama karena kekuasaannya. Boss menciptakan suasana tegang dan rasa takut pada para stafnya, akibat kontrol ketatnya terhadap kinerja mereka. Seorang Boss biasanya tertutup terhadap kritik, tantangan, dan saran dari anak buahnya. Hal ini berarti bahwa pengakuan dan penghormatan yang diterima oleh si Boss adalah karena ketakutan anak buahnya kepada mereka.

Secara garis besar, perbedaan tersebut dirangkum sebagai berikut:
  1. Boss mengarahkan bawahannya, Leader mengajari mereka.
  2. Boss mengandalkan kekuasaan, Leader mengandalkan niat / kehendak baik.
  3. Boss menciptakan ketakutan, Leader menimbulkan antusiasme dan rasa percaya diri.
  4. Boss mengatakan ”Saya”, Leader mengatakan ”Kita”.
  5. Ketika Boss menyalahkan bawahannya, Leader memperbaiki kesalahan mereka.
  6. Boss memerintah bawahannya, Leader meminta kepada mereka.
  7. Boss menggunakan kemampuan karyawannya, Leader mengembangkan kemampuan mereka.
  8. Boss tahu bagaimana cara menyelesaikan sesuatu, Leader menunjukkan bagaimana cara menyelesaikan sesuatu.
  9. Boss membuat pekerjaan menjadi membosankan, Leader membuat pekerjaan menjadi menarik.
  10. Boss mengatakan ”Pergi!”, Leader mengatakan ”Mari kita pergi!”.
  11. Untuk menjadi Leader, seseorang harus memberikan contoh yang baik, sedangkan Boss tinggal memberikan perintah dan menunggu hasil yang dikerjakan oleh orang lain.

Kalau dari segi persamaannya, baik Leader maupun Boss adalah orang yang mempunyai kedudukan di sebuah perusahaan. Sama-sama mempunyai kekuasaan, hanya saja yang satu lebih dihormati karena kualitas dan karismanya, sedangkan satunya dihormati karena ditakuti. Boleh dikatakan bahwa setiap Leader dapat menjadi Boss, tetapi jarang ada Boss yang dapat menjadi Leader.

Dari pembelajaran itu, kesannya memang Leader lebih positif, ya?
Lalu bagaimana caranya seorang Boss dapat menjadi Leader?
Seorang Boss harus menunjukkan bahwa ia mempunyai pengatahuan yang memadai, rencana kerja yang jelas, antisipasi terhadap segala kemungkinan masalah, tinjauan masa depan, tindakan yang nyata, berorientasi pada proses serta hasil, menghargai setiap pribadi bawahannya, serta bertindak sebagai teman sekaligus mentor bagi mereka. Kualitas-kualitas tersebut diperlukan untuk menjadi seorang Leader.
Selanjutnya, seorang Leader yang baik harus dapat membuat anak buahnya menyadari bahwa mereka mempunyai kemampuan lebih besar dari yang mereka pikirkan, sehingga mereka dapat bekerja dengan memaksimalkan kemampuan tersebut secara konsisten. Lebih lanjut, seorang Leader tidak lagi menciptakan pengikut atau bawahan, namun ia dapat menciptakan Leader-Leader baru.

Terlepas dari apakah karakter Boss atau Leader itu dipengaruhi oleh sifat bawaan dan pola asuh masa anak-anak, semuanya kembali pada proses belajar di lingkungan pada masing-masing individu tersebut.

So, which one are you: Boss or Leader?

Kamis, 31 Mei 2012

Dirgahayu Surabaya!


Dino iki, kutho Suroboyo ulang taun sing ke-719. Aku wes manggon nang Suroboyo 8 taun luwih, ket taun 2004, pas mlebu kuliah nang Unair. Dadi aku wes menyatu banget karo Suroboyo, rasane wes dadi omah kedua.

Suroboyo iku terkenal ”The Hotest City”, tapi yo gak masalah, justru iku senine urip nang kene. Mergo kutho gede, arep golek opo ae onok nang Suroboyo, mulai soko bisnis, pendidikan, fasilitas-fasilitas umum, kuliner, sampek hiburan. Tinggal milih ae, Rek!

Nah, lek krungu istilah BONEK, opo sing langsung onok nang pikiranmu? Pasti "Arek Suroboyo". Wong-wong kutho Suroboyo pancen unik-unik kok! Sek dalam rangka ulang taun’e Suroboyo, iki tak copy-paste'ne tulisan soko berbagai sumber. Asli kocak, iki nggambarne arek Suroboyo banget.

Ciri-cirine Arek Suroboyo nek ngomong iku khas banget, disebut’e Boso Suroboyoan,  gak onok sing madani, to the point, terbuka, tanpa tedeng aling-aling (bloko suto). Ini menunjukkan bahwa Arek Suroboyo terkenal sebagai masyarakat yang terbuka, ramah, apa adanya, dan sangat suka akan humor =D

# Arek Suroboyo lek tukaran mesti ngomong :
"Awas koen yo, delok'en molehmu!"
Lapo..? Ditraktir mangan ta..?

# Lek ngilokno uwong :
"Wuih, wenak koen suarane arek iki, kok gak mbecak ae?"

# Sing lanang, lek ngamuk langsung ngomong :
"Njaluk tak pancal'a ndasmu?!" Sepeda bek'e...

# Lek onok wedok'an ayu, endel, langsung dikomentari :
"Mbooook, mentolo tak gowo moleh ae!"

# Lek nyebut uaaakeh :
"Sak taek ndayak". Koyok ngerti2'o ae...

# Lek disindir karo koncone, langsung ngomong :
"Sakjane koen iku ngenyek, ta ngetrek-etrek?"

# Lek ngomong, ngarepe biasane ditambahi huruf U :
"Uaaakeh, ueeendel, ueeenak, uaaasssuu kok"

# Lek janjian :
"Wis teko endi koen..?"
---> Wes nang dalan iki, diluk maneh.
padahal sik nang omah...

# Lek mari di-iLokno, langsung mbales :
"Ndasmu, ndogmu, bapakmu"
Pokok'e sing onok mu-mu ne...

# Lek suwi gak ketemu konco, langsung ngomong :
"Wah sik urip ta koen, tak pikir wis pitung dinone"

# Lek irunge gatel trus kudu wahing, munine :
Ha..ha..ha..hancookkk..!!

# Lek onok wong pamer :
"Eh aku tuku mobil anyar iki," langsung dijawab :
"SOPO SING TAKOK??"

# Senengane muring-muring nggawe awalan "jam" :
Jamput, jambul, jambret, jambu, dst

# Lek ndelok wedok ayu, langsung ngomong :
"Cok, ayune... Bapak'e sunat nang ndi iku?"

# Lek onok koncone ngomong gak jelas, langsung disauti :
"Koen iku ngomong ta kemu?"

# Lek ngomong, mesti di'kei akhiran A :
"NdasmuA, matamuA, makmuA, mbokmuA"

# Lek krungu koncone ngomong banter, langsung disauti :
"Wuusss, sante ae jon, gak usah mbleyer"

Nah, mesem'o Cak, Ning... ^_^
Piye menurutmu? Bener opo gak??


Yo wes, pisan maneh, Met Ulang Tahun kutho Suroboyo.. Mugo-mugo dadi kutho sing luwih nyaman lan luwih sejahtera soko sakdurunge...
Akhir kata, gawe sing moco: sepurane yo aku nulis iki spontan, kesusu, soale posting'e kudu ditepakno ambek momen iki, dadi ga sempet golek data-data pendukung liyane.. (halah, koyok meh nggawe opo ae)
Hehehe.... :p

Kamis, 23 Februari 2012

Jangan Takut Menikah!


Februari adalah bulan penuh cinta. Ungkapan itu ada tentunya karena tanggal 14 Februari, dimana orang di seluruh dunia merayakan Valentine Day, Hari Kasih Sayang. Agaknya hal itu memang masih dipercaya kebanyakan orang sih.. Buktinya dalam bulan ini, 3 minggu berturut-turut aku dapat undangan pernikahan dari teman. Wah, pengeluaran tak terduga ini. Haha...
Ngomongin soal pernikahan, memang teman seumuranku udah banyak yang menikah di tahun kemarin, dan prediksiku di tahun ini juga. Kadang aku ditanya juga: kapan nikah? Wah, nanti dulu ya... Pasangannya masih diuji coba nih, memenuhi syarat atau ga... Hehehe...

Pernikahan memang ga cukup melihat dari segi fisik (termasuk usia) yang dipandang orang ”udah pantes nikah”. Enak aja teman bilang, ”Jangan kebanyakan seleksi, ingat umur udah 26. Mau nikah umur berapa?” Lho, kan banyak hal yang harus dipersiapkan sebelum memutuskan untuk menikah, yang paling utama dari segi kesiapan mental dong...
Aku suka baca artikel-artikel tentang persiapan pernikahan. Namanya juga pengen menikah. Hehe... Sayangnya aku lupa ini diucapkan oleh siapa dan di media mana, jadi maaf kalau ga mencantumkan sumbernya. Jadi begini, setidaknya ada 3 poin yang harus dipersiapkan oleh pasangan yang bermaksud mengucapkan ikrar untuk hidup bersama.
Ketika dua insan bermaksud memasuki gerbang pernikahan, mereka harus tahu dan paham, bahwa manusia itu berubah. Pernikahan itu ibarat sebuah paket. Dalam paket tersebut, terdapat dua manusia. Kedua manusia ini bisa berubah, karenanya di dalam pernikahan akan selalu ada hal baru yang harus dikejar. Jadi, sebelum memasuki jenjang pernikahan, masing-masing pasangan harus mengetahui pola perubahan masing-masing.
Kalau yang satu berubahnya cepat, sementara yang satu mandek, bisa akan ada masalah. Namun, ketika keduanya sudah saling sadar, harus mau saling bantu. Yang berubahnya cepat itu harus mengajak pasangannya untuk belajar dan mencoba mengerti. Jangan lupa untuk mengikuti perkembangan masing-masing. Hal ini menjadi penting, karena ketika terjadi jeda dan masing-masing berkembang dengan keadaan yang berbeda, ga heran akan ada perbedaan persepsi dan pola pikir. Misal, si suami bekerja di dunia yang membuatnya harus bertemu banyak orang, ia akan berkembang dan pola pikirnya pun sedikit-sedikit berubah. Sementara, jika si istri ga mau berusaha untuk keep up dengan perkembangan suami, maka akan sulit untuk bisa mengimbangi, apalagi jika si suami pun ga mengajak si istri untuk belajar.
Selain mengenai perubahan, pasangan yang ingin naik ke pelaminan harus menyadari, bahwa setelah hari pernikahan, gaya hidup pun berubah. Yang tadinya terbiasa sendiri, kini segalanya harus dibagi dengan orang lain. Mau saling berbagi adalah satu poin tersendiri. Kebiasaan yang tiba-tiba berubah biasanya bisa menjadi batu sandungan untuk sebagian orang. Keharusan untuk berbagi ini seringkali menjadi penyebab perpecahan rumah tangga.
Kalau kita bertanya, mengapa saat ini banyak terjadi perpecahan dalam pernikahan? Sementara mengapa di zaman dulu, perceraian sangat jarang terjadi? Karena di zaman dulu orang ga ada yang berpikir mengenai perceraian. Yang ada, bagaimana supaya pernikahannya bisa terus berjalan dan memperbaikinya. Ketika kita berbentrokan dengan masalah keluarga, yang terpenting adalah menurunkan ego masing-masing. Kalau belum bisa ditemukan jalan tengahnya, carilah penengah yang bisa memberikan opini obyektif. Begitu pula, biasanya terjadi pertengkaran saat perencanaan pernikahan, terjadi beda pendapat, oleh karena itu penggunaan jasa perencana pernikahan bisa membantu menengahi.
Mengenai persiapan mental dan psikologis menjelang pernikahan, terdapat 3 poin penting yang perlu diketahui pasangan sebelum menginjakkan kaki ke pelaminan dan menukar cincin tanda janji, yakni:
1. Jangan takut akan pernikahan. Sebaiknya sebelum melangkah ke pernikahan, kenali sisi baik dan buruk masing-masing. Karena setelah memasuki pernikahan, akan makin terlihat sifat-sifat yang tadinya tertutup. Jujur akan segala hal dengan pasangan adalah kunci  jika ingin pernikahan berhasil.
2. Siapkan diri. Tanya dengan diri sendiri, sudah siapkah untuk berbagi segala hal dengan si pasangan? Siapkah untuk maju bersama? Karena untuk bisa maju bersama, butuh upaya dan kerja keras, karena si pasangan ga memiliki pola pikir yang sama dengan kita, perlu kesabaran dan tenaga ekstra untuk mau menyamakan visi.
3. Jangan takut perubahan. Perilaku seseorang bisa diubah. Perilaku bukanlah gen yang ga bisa diubah. Jadi, ketika kita harus berubah untuk bisa keep up dengan pasangan yang berubah, begitu juga si dia.
Jangan ketinggalan pula untuk bisa menjaga ucapan. Karena apa yang terucap adalah doa. Ketika kita berpikir atau terucap kata pisah, maka yang ada dalam pikiran kita adalah hal itu sebagai titik akhir.
Kalau nasehat dari orang tua, waktu pacaran bukalah mata lebar-lebar; untuk mengetahui pribadi calon pasangan kita, termasuk ga menutup kemungkinan untuk mencari pribadi lain yang lebih tepat dengan diri kita. Tapi ketika sudah menikah, tutuplah mata rapat-rapat, karena kita harus menerima pribadi yang telah kita pilih sendiri, baik maupun buruknya dia. Dalam hal ini, ingat poin yang menunjukkan tentang penurunan ego demi mengurai konflik yang bisa terjadi dalam sebuah hubungan.
Nah, bagaimana menurut Anda, setuju dengan pendapat ini?
  

Rabu, 08 Februari 2012

Tentang HP, Facebook, Twitter, dan BB

Kenapa harus ada HP? Kenapa muncul Facebook? Twitter? Blackberry? Kalau hasilnya seperti ini... Toh zaman dulu ga ada begitu-begituan juga ga apa-apa, kan?!
Inilah keprihatinanku akan dampak teknologi masa kini...
 
Satu:
Teknologi mestinya “mendekatkan orang yang jauh”, bukan malah sebaliknya, “menjauhkan orang yang dekat”.

Berapa banyak dari kita yang berterima kasih atas munculnya Facebook, Twitter, atau apapun jaringan sosial lainnya. Berkat “mereka”, kita dapat bertemu kembali dengan teman dan/atau kerabat yang sudah lama tidak bertemu, bertukar informasi, dan tetap menjalin kekerabatan. Namun tanpa disadari, ketergantungan dan maniak akan situs jejaring sosial tersebut malah membuat kita “lupa berdiri”, alias melupakan keberadaan dan INTERAKSI dengan orang lain secara langsung, bahkan yang posisinya dekat sekalipun, karena terus sibuk memelototi komputer di depan mata kita.

Mengapa tidak berjabat tangan dan memberikan ucapan selamat ulang tahun secara langsung pada rekan kerja satu kantor, daripada menuliskannya lewat Wall Facebook-nya?
Mengapa tidak berdiskusi tentang urusan pekerjaan dengan rekan secara langsung, daripada mengomunikasikannya lewat Yahoo Messenger?
Sungguh amat memprihatinkan... Yang jauh didekatkan, tetapi yang dekat -bahkan terdekat- malah dijauhkan.

Dua:
Teknologi mestinya membantu kapasitas otak kita , bukan sebaliknya, mengistirahatkan otak kita.

Sejak kemunculannya, alat komunikasi bernama Hand Phone telah mengubah kehidupan manusia. Berbagai fitur yang ditawarkannya, seiring dengan perkembangan zaman, semakin disesuaikan untuk memudahkan kebutuhan dan gaya hidup kita. Namun sadarkah kita, keberadaan “benda canggih” yang awalnya hanya digunakan untuk telepon atau mengirimkan pesan singkat (SMS) tersebut telah menggerus memori kita?

Berapa banyak dari kita yang kelabakan atau panik saat HP hilang? Tentu saja, bagaimanapun juga kan HP tetap merupakan sebuah kebutuhan, walaupun sekarang bukan merupakan barang mewah lagi. Tapi yang aku tekankan di sini bukan hilangnya “HP” tersebut, melainkan ini: bagaimana ketika HP tersebut hilang, kita tak dapat menghubungi siapa-siapa karena tak ingat satu pun nomor teman atau saudara???
Ketergantungan pada “Contact” HP tersebut sangatlah besar.
Memang, tak mungkin mengingat semua nomor teman yang rata-rata lebih dari 10 digit itu. Tapi apa salahnya mengingat nomor orang tua atau beberapa saudara dan teman terdekat saja, untuk berjaga-jaga kalau misalnya terjadi sesuatu seperti HP hilang atau mati karena low-batt.
Lalu jawablah pertanyaan ini: berapa banyak dari kita yang menyelesaikan hitungan sederhana dengan mengandalkan KALKULATOR di HP?
Malas atau memang tidak bisa berhitung sih?? Sekadar memastikan hitungan benar it's ok, tapi ga harus menghitungnya dari awal, kan?


Tiga:
Teknologi mestinya “membuka dunia kita lebih luas”, bukan sebaliknya, ”tenggelam dalam dunia  kita sendiri”.

Aku akan berbicara tentang satu lagi kecanggihan yang muncul di abad ini: Blackberry namanya,  “ponsel pintar”, katanya.
Sama seperti keprihatinanku akan Facebook dan Twitter yang membuat “orang dekat dijauhkan”, keberadaan Blackberry ini telah “menghipnotis” orang yang memakainya. Bagaimana tidak, lha dunia terasa dalam genggaman! Tinggal klik sana, klik sini, kita bisa melakukan semuanya dengan BB. Belum lagi promosi dari provider-provider yang menawarkan paket semurah-murahnya.
Tapi, aku seringkali melihat orang jadi sibuk sendiri dengan Blackberry-nya, seolah-olah ga ada orang lain di sekitarnya. Betah duduk diam berjam-jam asal BB ga pernah lepas dari genggaman, entah BBM-an, YM-an, FB-an, Twitter-an, atau apapun yang bisa dilakukan dengan BB.

Mami aku tanya, “Kamu ga beli BB ta?”
“Ah, buat apa? Aku ga perlu kok.”
“Kan enak bisa chatting-chattingan, ntar BBM-an, kirim-kirim foto kayak gini, lho...” katanya sambil menunjukkan BB-nya.
Aku bilang, “Mami, aku ini udah AUTIS, punya BB ntar aku tambah autis!”
Tentu aja aku bercanda (ga autis beneran), tapi rupanya Mamiku ga paham.
“Maksudnya? Autis piye?”
“Mami, punya BB itu bikin orang 'autis', seolah-olah punya dunia sendiri. Lihaten ta, BB ga lepas dari tangan, dikit-dikit kling – kling – kling (aku menirukan bunyi BB-nya), trus buru-buru ngelihat, ngejawab, atau apalah gitu. Jadi ga ngerespon orang lain, ga interaksi sama orang lain karena sibuk melototin BB-nya. Ya, gitu deh pokoknya.”
Mamiku diam tapi masih ga percaya, “Ah, masa gitu? Tapi kan ga semua.”
“Iya sih ga semua... Tapi tetep aja, aku ga perlu BB.”
“Tak bayarin, wes. Pake xxx (menyebutkan salah satu provider) sama kayak Mami, bayarnya murah!” Si Mami masih ngotot, sambil merayu.
“Nggak. Makasih, Mami.”
 
Dan pernah lihat berita ga, gara-gara ga dibeliin BB, seorang anak sampai nekat mau bunuh diri. Seorang anggota dewan ga merhatiin rapat karena asyik BBM-an ria.
Prihatin deh jadinya....

Lalu ini pengalamanku lainnya. Kemarin aku chating dengan 3 orang rekan kerja yang berada di cabang lain.
Setelah chat ngalor ngidul membahas tentang pekerjaan, eh... mereka menanyakan hal yang sama, "Arzy, PIN BB-mu berapa?"
Heran, kok bisa mereka bertanya tentang hal yang sama ya, padahal berada di cabang yang berjauhan. Aku menjawab ketiganya dengan jawaban yang sama pula, "Saya ga punya BB, Pak.."  (kebetulan ketiganya laki-laki) diikuti dengan smiley :D
Reaksi mereka bertiga pun sama lagi! "Ah, masa ga punya??"
Aku hanya menarik nafas panjang, bukan merasa tersindir, tapi heran, kenapa ga percaya kalau aku ga punya BB.
"Beneran deh Pak, saya ga punya BB..." tetap diikuti smiley :D
takutnya dikira sombong ga mau ngasih PIN-nya.
Hari gini ga punya BB? Mungkin itu yang ada di pikiran mereka. hihihi...^^p

Jika HP, FB, Twitter, BB, atau apapun teknologi canggih saat ini ga pernah ada, apa yang terjadi dengan dunia?
Tulisan ini dibuat tidak untuk menggurui, menyindir, atau menyakiti siapa pun. Bukan pula benar atau salah. Hanya sebuah OPINI.
Aku bukan ahli teknologi, ga selalu melek teknologi. Kalau ada yang mau menambahkan, silahkan berkomentar.
Peace ^_^Y

Jumat, 03 Februari 2012

Training QCC (Quality Control Circle)


Tanggal 27-28 Januari 2012 yang lalu, aku mendapat kesempatan mengikuti training QCC yang diselenggarakan oleh kantorku. Sebelumnya, akan kuceritakan sedikit tentang kantor tempatku bekerja ini. Sasana Artha Finance bergerak di bidang pembiayaan, tepatnya perkreditan (leasing) sepeda motor. SAF adalah anak perusahaan dari PT Mitra Pinasthika Mustika (MPM) yaitu salah satu main dealer sepeda motor Honda di Indonesia. Oleh sebab itu, SAF hanya menangani kredit sepeda motor merk Honda. PT MPM Motor dan PT SAF telah berkembang pesat dan mempunyai berbagai cabang di seluruh Indonesia. Untuk lebih jelasnya, akses saja website www.mpm-motor.co.id atau www.saf.co.id. Di situ tersedia banyak informasi  tentang PT MPM Motor dan PT SAF.

Nah, training QCC yang akan kubagikan di sini diadakan oleh MPM Motor, dengan pembicara Bapak Yuwono, Bapak Sutarbak, dan Bapak Anggoro, plus satu orang dari PT SAF yaitu Bapak Honowahjoedi Roesli. Bertempat di PT MPM Jalan Raya Sedati, Sidoarjo, training ini diikuti oleh 40 orang dari SAF Surabaya dan 20 orang dari SAF Sidoarjo. Aku ga tau mengapa terpilih untuk mengikuti training, tapi aku sangat bersyukur karena inilah kesempatan untuk menambah pengetahuan.

Pada dasarnya, QCC (yang dalam bahasa Indonesia disebut GKM, Gugus Kendali Mutu), adalah sejumlah karyawan dengan pekerjaan yang sejenis yang bertemu secara berkala untuk membahas dan memecahkan masalah-masalah pekerjaan dan lingkungannya, dengan tujuan untuk meningkatkan mutu perusahaan. Kelompok-kelompok kerja ini nantinya akan berkompetisi menghasilkan perbaikan dalam perusahaan yang nantinya akan dinilai oleh manajemen dalam sebuah panel.

Hari pertama, training tentang Basic Mentality (Mentalitas Dasar). Awal dari Basic Mentality ini adalah fokus pada pelanggan dengan cara meningkatkan kualitas; karena pelanggan adalah keseluruhan dari proses, maka produk/jasa yang berkualitas berarti nilai tambah bagi pelanggan. Kualitas disini meliputi aspek QCDSM, yaitu:
Q (Quality)      : kualitas produk atau jasa
C (Cost)          : kualitas biaya rendah
D (Delivery)    : kualitas pengiriman barang atau jasa
S (Safety)       : kualitas keamanan barang
M (Moral)        : kualitas semangat melayani pelanggan
Jadi, dalam bekerja kita harus bertindak berdasarkan kebutuhan dan kepentingan pelanggan (MARKET-IN, NOT PRODUCT-OUT), seperti mengetahui apa produk kita, siapakah pelanggan kita, apakah pelanggan kita puas, dan adakah  cara lain untuk meningkatkan kepuasan pelanggan.

Setelah itu, Basic Mentality juga mengajarkan untuk fokus pada manajemen dengan menggunakan konsep PDCA (Plan, Do, Check, Action)
PLAN berarti membuat rencana yang baik sebelum memulai kerja.
DO berarti melaksanakan pekerjaan sesuai dengan rencana yang telah disusun.
CHECK berarti meneliti hasil pekerjaan apakah telah sesuai dengan rencana.
ACTION berarti mengambil tindakan koreksi atas penyimpangan yang ada dan menyusun rencana baru.
Dalam melakukan proses PDCA, juga diperlukan kegiatan pengendalian yang meliputi penanggulangan (untuk mengurangi akibat yang lebih buruk dari timbulnya masalah selama proses kerja) dan pencegahan (untuk mencegah terulangnya masalah atau kesalahan yang sama).
Pengendalian ini harus dilakukan berdasarkan fakta atau data, serta menetapkan prinsip prioritas. Jadi, kita harus menetapkan sasaran kerja (target) yang terukur, lalu dikuatkan oleh adanya prosedur dan standarisasi tertulis, yang biasa disebut SOP.

Walaupun sudah menetapkan target dan melakukan proses PDCA yang benar, apalah artinya jika tidak didukung oleh sumber daya manusianya. Maka, Basic Mentality juga mengajarkan ”Aspek Sumber Daya Manusia” yaitu perubahan pola pikir dan  tindakan manusia untuk memperlakukan individu lain sebagai manusia seutuhnya; antara lain:
  1. Tidak boleh menyalahkan orang lain. Sebaliknya, kita harus saling percaya (heart), saling mengerti (head), dan saling memberi (hand).
  2. Kematangan individu; meliputi integritas, proaktif, dan mentalitas kelimpahruahan (ikhlas) sehingga membentuk pribadi yang dapat diandalkan.
  3. Menciptakan kerjasama dan partisipasi dalam kelompok yang efektif.
  4. Hubungan atasan dan bawahan yang harmonis.
  5. Keselarasan Antarkelompok.

Setelah itu semua, Basic Mentality yang terakhir mengajarkan kita untuk fokus pada keunggulan; dengan cara bebas mencoba hal-hal baru (menemukan potensi yang belum termanfaatkan), mengelola resiko, dan belajar pada kesalahan sehingga menciptakan semangat yang pantang menyerah.

Dalam melakukan Quality Control, tentu saja kita memerlukan data yang bisa mengungkapkan fakta secara lengkap, serta sudah sesuai dengan fakta yang sebenarnya (tidak dimanipulasi). Untuk mengumpulkan data tersebut, bisa digunakan beberapa alat (perangkat kendali mutu) yang dirangkum dalam SEVEN TOOLS, yaitu:
1.      Lembar pengumpul data (check sheet)
2.     Stratifikasi, yaitu mengurai persoalan menjadi kelompok sejenis yang lebih kecil atau menjadi unsur-unsur tunggal dari persoalan.
3.      Grafik, data yang dinyatakan dalam bentuk gambar ini jadi lebih mudah dibaca, enak dilihat, dan sekaligus dapat dipaparkan sebagai perbandingan. Ada 3 macam grafik: grafik garis, grafik balok, dan grafik lingkar.
4.      Diagram Pareto; bertujuan untuk menemukan problem yang menjadi penyebab utama yang merupakan kunci dalam penyelesaian persoalan dan perbandingannya terhadap keseluruhannya.
5.      Diagram Sebab-Akibat, disebut juga diagram tulang ikan (Fish Bone Diagram), berguna untuk menemukan faktor-faktor yang berpengaruh pada kualitas. Prinsip yang dipakai dalam pembuatan diagram ini adalah brainstorming (sumbang saran), jadi semakin banyak ide, semakin baik hasilnya.
Untuk menemukan faktor-faktor yang berpengaruh, ada 5 faktor utama yang diperhatikan, yaitu dikenal dengan istilah 4M 1 E: Man (Orang), Material (Bahan), Method (Metode/Cara), Machine (Alat), dan Environment (Lingkungan).
6.      Histogram, untuk mengetahui distribusi / penyebaran data yang ada.
7.      Diagram Pencar.

Pada training itu, aku paling suka membuat diagram pareto dan diagram tulang ikan. Sangat menarik! Training hari pertama selesai pada pukul 19.00. Cukup melelahkan karena sejak jam 9 pagi kami diberi materi berupa teori yang  cukup banyak. Ngantuk.

Hari kedua, materi training berupa 8 langkah implementasi proses PDCA, yaitu:
  1. Menentukan tema.
  2. Mencari sebab-sebab masalah.
  3. Mempelajari faktor apakah yang paling berpengaruh.
  4. Membuat rencana perbaikan.
  5. Melaksanakan rencana perbaikan tersebut (mencoba dalam praktek).
  6. Memeriksa / mengevaluasi hasil.
  7. Menetapkan standarisasi.
  8. Menetapkan rencana berikutnya (tema baru).

Setelah dipaparkan teori, mulai pukul 10 pagi kami mencoba menerapkannya dalam kelompok. Aku sekelompok dengan departemenku, PGA (Personal & General Affair) yang beranggota 5 orang. Total ada 8 kelompok, antara lain dari PGA, Marketing, AR Control (pengolahan piutang), Cashier, Collector + Remedial, Accounting + Audit, dan Kredit. Kami mempraktekkan langkah 1 sampai 4 saja, yaitu baru sampai pada tahap PLAN. Di sinilah training berjalan lebih dinamis. Masing-masing kelompok berdiskusi, brainstorming untuk mengangkat tema sesuai dengan masalah yang banyak terjadi di departemennya. Lingkup kerja PGA adalah seputar kepegawaian. Kelompokku berangkat dari ide untuk membahas tentang biaya operasional kantor, antara lain biaya kertas, listrik, telepon, dan air.

Berdasarkan data, setiap bulan perusahaan mengeluarkan biaya operasional paling banyak untuk kertas, yaitu sekitar Rp 15 juta! Lalu diikuti dengan listrik (Rp 12 juta), telepon (Rp 10 juta), dan air (Rp 1 juta). Karena biaya kertas yang paling banyak, akhirnya kami sepakat mengangkat tema “Mengatasi pemborosan kertas yang berakibat pada pembengkakan biayanya”.

Kami diberi waktu berdiskusi dan mempersiapkan presentasi sampai jam 2 siang. Setelah itu, kami harus mempresentasikan hasil diskusi itu. Satu per satu wakil dari kelompok maju presentasi. Ada yang membahas tentang penjualan, administrasi kredit, masalah kredit yang macet, Juklak (petunjuk pelaksanaan) kantor, dll. Aku mewakili kelompokku maju presentasi. Karena tema yang kuangkat lebih bersifat umum, maka audiens yang mendengarkan presentasiku cukup antusias. Aku senang sekali bisa presentasi dan memaparkan opini kelompokku.
Sesi presentasi itu merupakan babak yang paling menyenangkan saat training. Santai, namun tetap serius. Seringkali malah penuh gelak tawa, karena ada aja orang yang mempresentasikan materinya secara mbanyol. Memang bakat-bakat pelawak deh! Hahaha... Presentasi dan diskusi berjalan sangat hidup, terlihat semua orang sangat menikmatinya.
Di akhir presentasi, kami mendapat koreksi ataupun saran dari para pemateri. Wajar aja, soalnya kami baru pertama kali ini mendapat materi tentang QCC dan teori yang disampaikan sangat banyak. Kata pembicaranya, seharusnya materi QCC ini disampaikan dalam 5 hari training! Karena keterbatasan waktu, jadi diringkas hanya 2 hari training. Makanya kami masih bingung dan banyak kesalahan di sana-sini. Ga apa-apa, toh masih dalam tahap belajar.

Aku ga mungkin memaparkan bagaimana hasil diskusi kelompok dan presentasiku tentang tema pemborosan kertas itu di sini, karena sangat banyak. Bisa-bisa aku bikin novel deh! Hahaha.... Tapi yang mau aku share di sini adalah senangnya mendapat wawasan baru tentang QCC. Aku jadi mulai memikirkan bagaimana implementasi PLAN-ku itu di kantor nantinya. Seperti yang telah aku kemukakan di awal, nantinya PLAN dari masing-masing kelompok itu harus diimplementasikan di kantor dan dilihat hasilnya. Jadi kami harus melakukan proses selanjutnya, yaitu DO, CHECK, dan ACTION. Nantinya, hasil PDCA tersebut akan dilombakan sampai ke Jakarta dengan para pimpinan pusat dan pemenangnya akan mendapatkan serangkaian hadiah dan fasilitas. Wah, aku mau sekali menang!
Well, dua hari training itu sangat menambah pengetahuanku. Walaupun setelah itu aku jadi terkena gejala flu karena kecapekan, aku jadi bersemangat dan menunggu training-training berikutnya! Aku siap! ^_^ 
aku saat presentasi :)