Selasa, 12 Februari 2013

Beda Tapi Cinta



Itulah judul serial “Lolly Love” yang aku lihat di TransTV hari Minggu sore yang lalu. Dikisahkan sepasang sahabat bernama Lolly dan Aga yang sama-sama mempunyai hobi fotografi. Lolly mengajak Aga untuk hunting foto di kawasan yang terkenal kental akan budaya China. Aga langsung setuju dan antusias menyambut ajakan Lolly. Disana, Aga melihat seorang cewek Chinese berkulit putih, berambut panjang, dan manis sekali, sampai Aga dibuat terpesona olehnya. Beberapa hari, cewek itu menjadi objek foto Aga. Sampai akhirnya Lolly –yang ternyata kenal dengan cewek pujaan Aga itu– mengenalkan Aga pada Ling-Ling, anak dari pemilik komunitas barongsay di tempat tersebut.

Keinginan kuat Aga untuk dekat dengan Ling-Ling membuatnya mendaftar untuk ikut latihan barongsay. Pulang latihan, Aga mengajak Ling-Ling makan malam, dan mulai dari situlah kedekatan mereka menumbuhkan benih-benih cinta. Sang pelatih barongsay –seorang cowok muda yang tidak disebutkan namanya– rupanya cemburu melihat kedekatan Aga dan Ling-Ling. Saat latihan, beberapa kali ia menendang kaki Aga dengan dalih bahwa kuda-kuda yang dilakukan Aga salah dan kurang kuat. Aga tersungkur, tangan dan kakinya terluka. Ling-Ling segera menolong Aga mengobati luka-lukanya. Tidak suka melihat hal tersebut, sang pelatih menelepon orang tua Ling-Ling agar segera datang ke tempat latihan.

Aga makin terpesona oleh kebaikan hati Ling-Ling. Akhirnya ia mengutarakan perasaan cintanya. Alangkah bahagianya ia, karena ternyata Ling-Ling pun mengungkapkan rasa yang sama. Namun di tengah kebahagiaan tersebut, kedua orang tua Ling-Ling datang dan mereka sangat marah melihat anaknya bersama dengan seorang pemuda pribumi.
“Jangan dekati anak saya!” amuk Papanya Ling-Ling pada Aga.
“Tapi kenapa, Om?” tanya Aga kecewa.
“Karena kamu beda!” kemarahan Papa Ling-Ling tak terbendung dan segera mengajak Ling-Ling pulang.

Di rumahnya, kemarahan Papa Ling-Ling masih belum usai. Berulang kali ia menyampaikan ketidaksukaannya atas hubungan Ling-Ling dengan Aga yang berbeda latar belakang: RAS. Ling-Ling masih mempertahankan pendapatnya, “Perbedaan itu indah!” tegasnya.
Sang Papa begitu marah saat Ling-Ling membantah aturannya, sehingga ia menampar Ling-Ling. Hati Ling-Ling hancur, lalu ia berlari ke kamarnya.

Beberapa hari kemudian, kondisi kesehatan Ling-Ling menurun karena ia sangat sedih. Pandangan matanya kosong, dan ia tak mau makan sama sekali. Si Mama berulang kali membujuknya agar mau makan, begitu pula Lolly, ia datang menjenguk sahabatnya itu. Upaya mereka berdua tidak berhasil. Ling-Ling tetap seperti orang linglung. Pada Lolly, si Mama mengungkapkan kesedihannya atas kondisi Ling-Ling. Ia sangat stres dan terpukul, seolah-olah ikut merasakan kesedihan putrinya. Dari kejauhan, si Papa mendengar percakapan mereka berdua, lalu ia merenung. Akhirnya si Papa menelepon cowok muda pelatih barongsay itu dan memberikan sebuah perintah padanya.

Hari berikutnya, Lolly datang membujuk Ling-Ling agar mau ikut dengannya berjalan-jalan. Ling-Ling yang awalnya ogah-ogahan akhirnya mau ikut dengan Lolly. Mereka menyaksikan pertunjukan barongsay. Tiba-tiba salah satu barongsay mendekati Ling-Ling, lalu Aga muncul dari balik kostum itu. Ling-Ling sangat terkejut, sekaligus senang melihat Aga. Akhirnya Papa dan Mamanya juga muncul, lalu si Papa menyampaikan bahwa ia menyetujui hubungan Ling-Ling dengan Aga. Semua bahagia. Perbedaan itu tidak lagi menjadi masalah diantara mereka. Begitulah akhir cerita dari serial tersebut.

Tema itu dipilih oleh pihak televisi karena di hari Minggu lalu, semua warga keturunan Tionghoa merayakan Tahun Baru Cina atau Imlek. Sejak beberapa tahun lalu, waktu era pemerintahan almarhum Gus Dur, warga keturunan Tionghoa memperoleh kemerdekaan untuk berekspresi, merayakan tahun barunya, dan menampilkan seni kebudayaannya, bahkan tahun barunya ditetapkan sebagai hari libur nasional. Orang-orang keturunan Tionghoa sudah bukan warga yang dianggap ‘pendatang’ dan dikucilkan, mereka tidak perlu takut-takut atau diam-diam lagi saat melakukan ritual keagamaan atau budayanya. Semua warga negara Indonesia sama kedudukannya dan berhak memperoleh perlakuan yang sama pula.

Aku selalu suka cerita yang happy ending. Tapi lewat cerita “Lolly Love” kemarin, aku agak ganjil saat melihat mengapa begitu gampangnya keluarga Ling-Ling akhirnya menyetujui hubungan Ling-Ling dengan Aga? Padahal di dunia nyata, perbedaan itu sangat susah ditoleransi. Ya, karena aku merasakannya sendiri.
Tidak ada seorang pun yang bisa memilih keadaan seperti apa ia hendak dilahirkan. Misalnya aku minta orang tua si A karena mereka kaya, atau orang tua si B aja karena mereka orang terkenal, tentu ga mungkin seperti itu. Aku dilahirkan dari keluarga keturunan Tionghoa, bukan di negara China lho, tapi di Indonesia. Besar di Indonesia, bergaul dengan orang-orang Indonesia, aku warga negara Indonesia, dan aku sangat cinta Indonesia!
Memang sih, aku belum pernah merasakan peristiwa rasis yang sangat kentara, seperti yang dialami oleh orang-orang terdahulu. Tapi peristiwa rasis terjadi padaku persis seperti yang dialami oleh Ling-Ling dan Aga di serial televisi itu.

Tiba-tiba cinta datang kepadaku...
Saat ku mulai mencari cinta...

Aku ga menyangka kalau aku bisa suka kepadanya. Pasanganku yang sekarang bukan orang keturunan Tionghoa sepertiku. Tapi siapa yang bisa menolak datangnya cinta? Saat dia bilang suka dan memintaku jadi pacarnya, aku berpikir sangat keras, karena aku tahu perbedaan itu bukanlah hal yang mudah untuk dijembatani. Bayangan penolakan dari keluargaku pun udah jelas di pikiranku. Tapi akhirnya aku memilih jalan ini, aku ga mau membohongi perasaanku dan jadi tersiksa karenanya. Dari awal dia pun tahu, kalau hubungan kami yang berbeda ras ini akan sulit dilalui. Dia mengambil pilihan untuk mengungkapkan perasaannya padaku, walaupun “Aku tahu kemungkinannya lebih besar ditolak daripada diterima,” katanya mengenang tindakan beraninya waktu itu.

Hubungan ini bukan coba-coba. Awalnya memang sulit, kami mengalami banyak perbedaan prinsip. Tapi justru dari perbedaan itu, aku belajar banyak hal darinya. Kami saling memahami pola pikir masing-masing, juga perilaku dan kebiasaan, yang tentunya dibawa dari pengalaman masa lalu dan didikan dari keluarga. Lama-lama aku menyadari bahwa seperti kata Ling-Ling: perbedaan itu indah. Benar! Hubungan kami cocok-cocok aja, malah jadi lebih berwarna karena kami saling menyesuaikan diri untuk hidup secara lebih universal, tidak menonjolkan salah satu budaya tertentu.

Sudah diduga, hubungan pacaranku sangat ditentang oleh orang tuaku. Macam-macam alasan dikemukakan. Terutama menurut mereka, karena perbedaan ras tersebut adalah hal yang mendasar. Padahal menurutku, perbedaan mendasar itu adalah keyakinan atau agama. Kalau aku dan dia sudah seagama, apa masalahnya? Aku bukannya ga setuju dengan alasan-alasan yang mereka ungkapkan, tapi yang membuat aku ga setuju adalah kenapa perbedaan itu menimbulkan anggapan bahwa ras dan budayanya sendiri lebih tinggi derajatnya dibandingkan dengan ras dan budaya lain? Waktu sekolah dulu kan selalu diajari Bhinneka Tunggal Ika, tapi mengapa praktek rasis masih terjadi di tengah dunia yang terus menyerukan agar sesama manusia hidup berdampingan dengan rukun dan damai...

Tuhan memang satu, kita yang tak sama...
Haruskah aku lantas pergi meski cinta tak kan bisa pergi....
Bukankah cinta anugerah, berikan aku kesempatan....

Sudah lama aku memperjuangkan cinta kami agar mendapat restu dari keluargaku, tentunya ga cuma sehari-dua hari restu itu datang dengan mudah seperti kisah Ling-Ling dan Aga. Selama itu pula kami saling memberi dukungan dan banyak berdiskusi, langkah apa yang harus kami tempuh, apakah harus bertahan atau ga diteruskan. Mungkin banyak orang akan mundur, ketika hubungan cintanya mendapat tentangan dari orang tua. Alasannya karena ga mau menyakiti perasaan mereka, atau ga mau dicap sebagai anak durhaka yang ga berbakti dan ga tahu berterima kasih. Tapi kami belum mau menyerah untuk berjuang, walaupun harus melewati 99 rintangan dan 77 cobaan sekalipun. Cinta itu ga salah kok, yang “salah” menurut pandangan orang adalah karena stereotype yang diciptakan oleh manusia itu sendiri, yang masih membentuk sekat-sekat kaku sehingga membatasi pembauran dan percampuran antarkebudayaan.

Hei, ini Indonesia! Kita berbagi tanah, air, dan udara yang sama. Kita hidup di Indonesia, negara seribu satu pulau yang kaya budaya; bukan di negara China, negara Jawa, negara Sunda, atau negara-negara seperti itu! Perbedaan itu indah, dan buktinya sudah banyak kok pasangan berbeda ras yang menikah dan hidup bahagia. Perbedaan budaya itu bukanlah hal yang harus diubah, tidak harus dipaksakan supaya jadi cocok, tapi harus diterima dan ditoleransi keberadaannya.
Memang ga semua orang sudah berpikiran terbuka seperti ini dan masih memegang teguh tradisi keluarga yang menentang hubungan berbeda ras. Perasaan takut ga akan diterima lagi oleh keluarga, malu, ga dapat menyesuaikan diri dengan keluarga pasangan, atau bahkan bingung nantinya harus mengikuti budaya yang mana kerap dirasakan oleh pasangan tersebut. Tapi kalau aku dan pacarku sih sudah berpikiran terbuka: bukan Jawa, bukan China, tapi kami Indonesia!

Aku senang melihat cerita antara Ling-Ling dan Aga itu, berharap pula suatu saat nanti hubunganku berakhir happy ending direstui oleh keluarga. Tapi sekaligus aku sedih kenapa jalan yang harus kami tempuh ga semudah restu atas kisah kasih mereka. Huhuhu.....T_T Aku ga menyesal dengan pilihanku sekarang, tapi masa iya aku harus mogok makan dulu seperti Ling-Ling supaya bisa mendapat restu orang tua???

Walaupun cuma film, tapi tema cerita itu memotret keadaan Indonesia yang mulanya menganggap perbedaan merupakan masalah besar, kini berubah menjadi semakin terbuka dan menerima keberagaman. Berbagai kisah serupa juga diangkat ke layar lebar seperti film “? (Tanda Tanya)” yang menampilkan banyak tokoh dengan kompleksnya perbedaan di antara mereka, “CIN(T)A” dan “3 Hati 2 Dunia 1 Cinta” yang menceritakan cinta sepasang pria dan wanita yang bukan hanya berbeda ras, tapi juga berbeda agama.

Banyak pihak telah membuat film dan cerita tentang perbedaan –tertama perbedaan ras dan agama– yang mulanya merupakan isu sensitif menjadi media untuk mempersatukan. Pro dan kontra selalu menyertai dibuatnya kisah-kisah itu, seperti halnya di dunia nyata. Tapi aku yakin, berpegang pada prinsip “semua orang tua pasti ingin anaknya bahagia”, setiap pribadi tentu berhak memperjuangkan kebahagiaannya sendiri dan bertanggung jawab terhadap hal itu. Jadi aku akan terus berjuang dan berdoa untuk STOP RACISM! Karena semua manusia sama derajatnya di hadapan Tuhan. Tuhan tidak mengajari umatNya untuk menciptakan golongan-golongan sendiri, tapi Tuhan mengajarkan cinta kasih dan perdamaian untuk semua manusia.

Akhir kata, mengutip salah satu dialog dalam film CIN(T)A yang sangat aku suka:
Mengapa Tuhan menciptakan kita beda-beda, padahal Dia cuma ingin disembah dengan satu cara?
Makanya Tuhan menciptakan cinta, supaya yang beda-beda bisa nyatu....

Senin, 28 Januari 2013

Persiapan Menghadapi Anak Kritis: Menulis



Seorang wanita- khususnya seorang ibu- dituntut untuk bisa cakap dalam urusan rumah tangga. Semua cinta, perhatian, dan fokus utama ada pada keluarga. Demikian besarnya peran seorang wanita di rumah sehingga seringkali wanita harus mampu melakukan berbagai hal sekaligus (multitasking) dalam mengurus suami dan anaknya.

Kadangkala, ketakutan terbesar seorang ibu adalah tidak bisa mendidik anak dengan baik. Di tengah gempuran modernisasi dan arus perubahan zaman yang sangat cepat saat ini, banyak ibu yang mengeluhkan kelakuan anak-anak sekarang yang beda banget dengan waktu seumurannya dulu.Ya jelas lah, anak-anak yang lahir setelah tahun 2001  disebut ”Generasi Z” atau Generasi Digital atau Generasi Millenium, yang tentu kita tahu lingkungannya sudah berbeda dengan zaman kita yang disebut Generasi Y atau X. Jadi, pastinya anak-anak sekarang memerlukan penanganan berbeda dan ibu tidak bisa serta merta menerapkan hal yang dahulu diajarkan orang tua kepada anak, misalnya ”Nenek dulu mengajari Mama seperti ini, jadi kamu juga harus nurut apa kata Mama”. Oh, bisa-bisa nanti anak jadi membangkang karena melakukan hal yang tidak disukai atau tidak pas di hatinya.

Tapi ibu ga perlu khawatir lagi bagaimana menanangani anak sekarang, khususnya dalam hal rasa ingin tahunya yang sangat tinggi (kritis). Ternyata aku menemukan artikel menarik yang menjelaskan salah satu cara cerdas menangani mereka, yaitu dengan aktif menulis dan membaca. Begini liputannya:

Ibu yang suka menulis merupakan salah satu tanda ibu yang suka membaca. Meski ada juga kemungkinan ibu yang suka menulis namun jarang membaca. Ibu yang suka membaca menjadi gudang ilmu bagi anaknya. Ibarat sekolah sebagai pusat belajar bagi anak mengenai banyak hal, maka ibu adalah guru yang mengajarkan banyak ilmu. Karena itu, ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya di mana seharusnya anak mendapatkan lebih banyak ilmu di awal mereka belajar.

Ibu yang suka menulis sekaligus hobi membaca dapat menjadi tempat menumpahkan dahaga anak yang serba ingin tahu. Bayangkan bila di tengah dahaganya, anak yang sedang kritis, mereka tidak mendapatkan pencerahan atau tidak mendapatkan apa yang ingin diketahuinya. Apa yang akan terjadi? Ada dua hal:

Pertama, anak akan bosan bertanya pada sang Bunda karena selalu mendapatkan jawaban, "Eeeeeeemmmm" dengan kening mengerut atau "Bunda tidak tahu". Ketika pertanyaan anak tak terjawab, maka keingintahuannya melemah. Anak akan malas bertanya lagi pada ibunya. Akhirnya mengubah haluan bertanya pada dirinya sendiri, bukan lagi pada ibu.

Kedua, anak mulai mencari tahu dengan caranya sendiri. Ini bisa dilakukannya dengan membaca atau paling cepat bertanya pada temannya. Nah, bagaimana bila temannya sama-sama tidak tahu? Tentu anak akan bingung. Lalu bagaimana jika temannya sok tahu dan memberikan jawaban salah? Anak akan menjadi salah mengartikan. Mereka mendapatkan jawaban yang salah sehingga akhirnya menghasilkan persepsi yang juga salah. Hal inilah yang kerap terjadi di dunia anak.
Anak Mau Tahu dan Ibu Serba Tahu
Kebiasaan menulis dan membaca seorang ibu akan membuat anak terbiasa dengan pemandangan keseharian ibu yang positif. Apa yang ibu baca akan memunculkan keingintahuan anak, "Ibu sedang baca apa?" Lantas ibu akan menerangkan dengan cara yang menarik.
Jadi, aktivitas ibu suka menulis bukan hanya menumpahkan ilmu dan keingintahuan ibu sendiri akan sesuatu. Hal ini juga berdampak pada anak yang semakin kritis bertanya. Karena anak ibaratnya memeroleh gizi dari setiap jawaban yang diberikan ibu.

Semakin anak ingin tahu dan mulai bertanya ini-itu, ibu pun tak kalah serunya menjawab pertanyaan anak dengan cara yang menarik. Hubungan antara ibu dan anak menjadi interaktif dan terjadilah simbiosis mutualisme. Anak akan bertanya apa saja dan ibu juga akan menjawabnya dengan cara yang berkelas. Anak menjadi kritis! Anak yang kritis ini merupakan cerminan dari kritisnya sang ibu.

Meski ibu gudangnya ilmu, namun tak semua ilmu ibu ketahui. Pada ibu-ibu yang doyan nulis, ketika ada pertanyaan anak yang tidak diketahui jawabannya, ibu tidak mudah panik atau grogi, misalnya saat anak bertanya tentang seks. Ibu yang berwawasan akan menjawabnya lebih cerdas, misalnya, "Baiklah, kita cari sama-sama, yuk, jawabannya di buku atau di Google." Akhirnya, ibu dan anak pun akan belajar bersama mencari jawabannya.
Pola ini lebih baik dibandingkan ibu yang sok tahu dengan menjawab semua pertanyaan anak meski jawabannya salah. Hal ini tentu akan menyesatkan.

Ibu Kritis, Anak pun Kritis
Ibu yang tidak menulis bukan berarti anaknya menjadi tidak kritis. Anak tetap bisa menjadi kritis karena memang di usianya rasa ingin tahunya sangat melangit. Ibu yang tidak suka menulis tetap dapat membuat anaknya kritis jika ibu mampu menjawab apa pun pertanyaan anak.

Sekalipun pertanyaan-pertanyaan anak kelihatannya sepele atau terlalu sulit dijawab dan seringkali membuat ibu merasa jengkel. Misalnya, "Kenapa kalau siang itu terang?" atau "Darimana asalku?" Hal ini sebetulnya sesuai dengan teori psikologi perkembangan anak. Bisa dilihat dari se-kritis apa anak menyampaikan isi pikirannya melalui kata apa dan mengapa. Mereka sedang melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka bayangkan.

Adakalanya ketika anak mengajukan pertanyaan kritis, kerap kali kondisinya tak matching dengan orangtua. Misalnya, anak memberikan pertanyaan dengan kata mengapa, sementara kondisi ibu sedang lelah atau bosan sehabis mengurus rumah, sehingga bisa jadi ibu tidak tahu harus menjawabnya. Akibatnya, bukan jawaban yang diperoleh anak, melainkan anak mendapatkan luapan emosi sang ibu. Akhirnya, sikap kritis anak berubah haluan menjadi "pertanyaan yang menumpuk di kepala".

Jadi, dalam hal ini, untuk kritis harus ada dua orang, yaitu ibu dan anak, bukan hanya salah satu pihak saja. Anak harus memiliki tempat nyaman untuk bertanya dan ibu juga bisa nyaman berbagi ilmu yang ada dalam pikirannya. Anak yang kritis akhirnya akan bertemu ibu yang kritis. Inilah yang membuat anak akan terus terangsang mengembangkan sikap kritisnya didampingi sang ibu. Luar biasa, bukan?

(Tabloid Nakita/Indari Mastuti, penulis buku Mompreneur dan pendiri Komunitas Ibu Doyan Nulis)
 Sumber: Kompas.com

Nah, artikel ini sangat pas buatku yang juga senang nulis dan sedang bersiap menjadi seorang ibu, kira-kira dua tahun lagi, hehehe...
Menulis dan membaca memang memberi banyak manfaat. Senang rasanya kalau dari membaca dan menulis bisa tambah pengetahuan, sharing pengalaman, terlebih kalau tulisanku bisa menginspirasi dan disukai banyak orang. I love writing and reading very much!

Rabu, 23 Januari 2013

When You Stressed

Next time you’re stressed: take a step back, inhale, and laugh. Remember who you are and why you’re here. You’re never given anything in this world that you can’t handle. Be strong, be flexible, love yourself, and love others. Always remember, just keep moving forward.

There are so many things that you can do right now to make yourself better. From meditation, to spending time with family, to going and doing hobby that you really enjoy, almost anything that you do actively beside mope around, will help to change how you are feeling in this moment.

When we focus on stress, we empower failure and defeat in our lives. While if we focus on the good in each situation, and moving forward from the place we are emotionally, physically, or financially, we will eventually burst through the obstacles that inhibit us from progress in our lives.

Change the way you think when things start to go wrong in your life!
While some people continue to believe what they have believed their whole lives and never progress in life, some people are able to consciously decide what they really believe and keep looking for better, so that their lives may become better simultaneously.

You are a good soul, and God loves you.


~~My Life, My Attitude, My Rules~~

Jumat, 30 November 2012

Ngidam Tahu Tek


Pertengahan tahun 2004, aku mulai tinggal di Surabaya. Menjalani kehidupan anak kuliah sekaligus anak kost. Ngekost sudah biasa, sejak SMA di Malang. Yang bikin excited adalah aku akan kuliah! Di dalam benak sudah terbayang akan belajar hal yang menyenangkan, bebas mengatur jadwal sendiri, banyak teman, aktif organisasi, dan ga pakai seragam lagi! Hehe... Menarik dan sangat menantang.

Hidup di kota baru harus menyesuaikan diri dengan banyak hal. Dari suhu sejuk di kota Malang, mau ga mau aku harus bersahabat dengan panasnya suhu udara kota Surabaya yang sangat ekstrem, belum lagi kalau hujan banjir, dan segala hiruk pikuk ibukota provinsi Jawa Timur ini. Sebagai pendatang, aku belajar tentang rute jalanan dan jurusan-jurusan angkot (biar gampang kalau mau kemana-mana), menyambangi mall-mall’nya, pindah dari satu gereja ke gereja lain untuk sekadar merasakan atmosfer misa yang berbeda (gereja Katolik tentunya), dan yang paling seru adalah mencicipi makanan-makanan khas kota ini.

Pasti sudah pernah tau kan, rujak cingur, lontong balap, lontong kupang, lontong mie,  dan tahu tek adalah beberapa makanan khas Kota Pahlawan. Semuanya sudah pernah aku coba, dan yang paling aku suka dari semuanya itu adalah tahu tek.
Tahu tek terdiri atas tahu goreng setengah matang dan lontong yang dipotong kecil-kecil dengan alat gunting dan garpu untuk memegangnya, kentang goreng, sedikit taoge, dan irisan ketimun dipotong kecil-panjang (seperti acar), lalu setelah disiram dengan bumbu di atasnya, ditaburkan kerupuk yang bentuknya kecil dengan diameter sekitar 3 cm. Dalam beberapa variasi, penjual tahu tek juga menyediakan tahu telur yang dibuat dengan menggoreng tahunya bersama adonan telur.
Bumbu tahu tek terbuat dari petis, air matang secukupnya, kacang tanah, cabai, dan bawang putih. Bumbu diulek, yaitu ditumbuk sambil diaduk dengan ulekan dalam cobek cekung yang terbuat dari batu (bentuknya seperti mangkuk besar), sampai bumbu ini harus sangat kental. Petis yang digunakan dianjurkan petis dari Sidoarjo, karena terasa lebih enak dan asli sesuai dari daerah asalnya (Surabaya berbatasan langsung dengan Sidoarjo).

Penampakan Tahu Tek :)

Dinamakan tahu tek karena gunting yang digunakan untuk memotong bahan masakan (tahu, lontong, kentang, dan telur) dibunyikan terus menerus, walaupun bahan makanan telah habis dipotong, sehingga seperti berbunyi tek..tek..tek.. Versi lain menyebutkan bahwa penjualnya berkeliling menjajakan dagangannya sambil memukul penggorengan, sehingga berbunyi tek..tek..tek.. begitu asal mula namanya.

Di Surabaya banyak banget warung yang menyediakan menu ini, tapi tahu tek yang terkenal ada di Jalan Dinoyo, Tahu Tek Pak Ali namanya. Warungnya sederhana, bisa dibilang berukuran kecil jika dibandingkan dengan ketenaran namanya sampai ke kalangan pejabat dan artis ibukota. Dinding warungnya dihiasi foto-foto Pak Ali bersama dengan orang-orang terkenal, juga kliping-kliping dari surat kabar yang menampilkan ulasan tentang tahu tek buatannya. Ada juga Tahu Tek Pak Jayen, di daerah Dharmahusada, yang ga kalah enaknya.

Biasanya, anak kost sering direpotkan dengan urusan makan. Makan pagi dan siang bisa di kampus, dan kebetulan kalau malam tiba, penjual tahu tek bergerobak dorong  itu sering lewat di depan kostku. Ketika males keluar untuk beli makan malam, tahu tek bisa diandalkan untuk mengisi perut. Asal ga terus-terusan makan tahu tek, soalnya kandungan petis yang cukup pekat selalu meninggalkan “jejak” ga enak di lidah dan tenggorokan setelah memakannya. Tapi sekali-kali makan, ga pa-pa lah! Dan kalau menurutku sih, lebih enak tahu tek buatan bapak yang keliling ini daripada tahu tek Pak Ali. Hehe.. Peace (selera orang kan beda-beda to...) ^_^

Setelah lulus kuliah, aku meninggalkan kostku di kawasan jalan Gubeng Kertajaya itu. Aku mendapat pekerjaan pertamaku di kawasan Waru (Sidoarjo), otomatis aku kembali ngekost, kali ini di Jalan Kutisari, masih di Surabaya. Jarak antara kostku dengan kantor sekitar 7 kilometer, tapi hal itu ga masalah karena aku sudah bisa naik sepeda motor sendiri. Sampai sekarang ketika aku sudah pindah kerja, aku masih setia menghuni kost Kutisari ini.

Beda dengan kostku sewaktu kuliah dimana aksesnya dekat dengan sumber-sumber makanan, kostku sekarang ini letaknya di perumahan. Kebiasaan males keluar untuk beli makan malam tetap ada karena jarak warung terdekat 1 kilometer, tepatnya di depan pintu gerbang perumahan. Kalau jalan kaki, lama-lama capek juga. Mau naik motor, eh, kok terasa deket banget, jadi merasa bersalah karena menyumbang banyak emisi karbon ke bumi, hehehe...
Ah, ternyata penjual keliling dimana-mana ada. Sekitar jam 7 sampai 8 malam, lewat deh bapak-bapak yang mendorong gerobak, ada yang jualan nasi goreng, tahu campur, dan tentu tahu tek! Asyiknya, yang lewat bukan cuma satu orang aja, tapi bisa 2 sampai 3 orang menjual makanan yang sama. Jadi bisa milih mau masakan buatan bapak yang mana.

Aku sudah punya langganan penjual tahu tek keliling, seorang bapak agak gendut yang mendorong gerobak warna kuning. Orangnya lucu dan ramah, suka menggoda juga.
“Pakai lombok berapa?”
“Satu aja.”
“Ga sepuluh ta? Ntar kurang...”
Hah, kalau telurnya sepuluh baru mau aku.
“Pakai kerupuk ga?”
“Iya dong!”
“Ntar batuk?”
Ah, Bapak ini ada-ada aja...
“Pokoke kayak biasa, Pak.” Karena sudah sering beli, Bapak itu hafal dengan kesukaanku.

Tahu tek buatan Bapak ini agak beda dengan tahu tek yang biasa aku makan waktu masih kuliah. Bumbunya bukan berwarna hitam khas petis, tapi cenderung kecoklatan, dan rasanya pun lebih dominan kacang dibandingkan petisnya. Ga ada kecambah maupun potongan ketimun yang ditaburkan di atasnya. Tapi soal rasa tetep enak! Yum!

Beberapa bulan lalu, aku merasakan suasana yang beda waktu malam. Aku ga mendengar suara “tek..tek..tek..” yang khas itu. Kemana ya si Bapak Gendut? Gitu aku menyebutnya, soalnya aku ga tau namanya, hehe.... Berhari-hari ga lewat, akhirnya aku lupa sendiri. Kadang-kadang ingat lagi kalau pas kepengen makan tahu tek, tapi kalau ditungguin selalu ga lewat. Begitu terus, sampai aku penasaran lalu sengaja nungguin di depan kost (mungkin aja aku ga dengar suaranya karena lagi di dalam kamar), eeh...ga kunjung lewat. Pindah kemana ya dia? Atau jangan-jangan sudah meninggal? Ih, pikiranku ga boleh negatif. Sejak saat itu aku ga pernah makan tahu tek lagi.

Dua minggu lalu, secara ajaib aku dengar suara yang sangat kurindukan (hihihi....:p) Wah, si Bapak Gendut kembali!  Langsung aku cegat dia, kebetulan pas belum makan malam. Sambil membuatkan pesananku, kami ngobrol.
“Pak, sampeyan kemana ae? Kok ga pernah lewat?”
“Lho, lewat, Mbak. Malah ta’pikir Mbak’e sing wes pindah. Kok ga pernah beli lagi.”
“Ah, mosok? Wes ta’tungguin tapi ga lewat-lewat gitu.”
“Hehehe.. Iya, Mbak. Pulang kampung ke Pasuruan,” katanya tetep dengan gaya cengengesan, lucu.
Ternyata si Bapak Gendut sudah ga jualan 4 bulan, karena pulang ke kota asalnya di Pasuruan. Di sana bukan jualan tahu tek juga, tapi macul di sawah, bersama istri dan anak-anaknya juga. Jadi petani lah, gitu ceritanya. “Baru seminggu ini jualan lagi,” katanya.
Setelah itu, kami ngobrol banyak dan si Bapak ga sungkan menceritakan tentang kegiatannya di kampung, termasuk keputusannya kenapa kembali jualan tahu tek keliling di Surabaya daripada meneruskan jadi petani di kampung halamannya. Hmm, ternyata aku merasa sangat dihargai oleh si Bapak Gendut. Kalau kita mau membuka diri untuk orang lain, mereka pun akan membuka diri pula.
Wah, senangnya... Ngidam tahu tek-nya keturutan, bisa dapat cerita dari teman baru pula! Hehe...

Rabu, 31 Oktober 2012

Happy Birthday, Madridista!



Kemarin, tanggal 30 Oktober, salah satu Madridista —sebutan bagi fans klub sepakbola asal Spanyol yaitu Real Madrid— berulang tahun yang ke-26. Begitu senangnya ia, karena beberapa hari sebelumnya (Senin dini hari), Real Madrid menang 5-0 saat berhadapan dengan Mallorca di pertandingan La Liga. Peristiwa itu seperti kado indah baginya.
Ia menyebut dirinya Madridista sejati, yang selalu mendukung klub kesayangannya itu bagaimana pun keadaannya, menang atau kalah. Ga satupun pertandingan Madrid ia lewatkan. Cemerlangnya Cristiano Ronaldo selalu ia ceritakan dengan mata berbinar. Kecintaannya pada Real Madrid ibarat Tan 90° = ~ (tak terhingga sepanjang masa). Begitu bangganya ia meneriakkan “Hala Madrid!”, karena Real Madrid adalah jiwanya, semangatnya.

Apa artinya sebuah ulang tahun? Di usianya yang dewasa ini, tersimpan banyak harapan di dalam dirinya. Ia seorang yang suka merenda impian-impian, dan hal itu diikuti oleh pikirannya yang fokus tentang bagaimana mewujudkan impian tersebut menjadi nyata. Tujuan hidupnya jelas terpeta, oleh sebab itu setiap hari ia melangkah dengan optimis, bekerja giat dengan hati yang bersih, dan menjalankan rencana-rencana yang ia telah susun dengan begitu rapi. Alangkah bahagianya saat satu per satu impian tersebut telah terealisasi berkat usaha kerasnya. Cita-citanya ga pernah berhenti di satu hari. Setiap saat dimana pun berada, ia selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya, selalu berupaya meraih indahnya berbagai elemen kehidupan. Coba tanyalah padanya, apa yang akan ia lakukan besok, atau satu tahun lagi, atau bahkan sepuluh tahun lagi. Ia pasti bisa menjawabnya, karena pola pikirnya panjang ke depan.

Ia seorang yang penyayang dan lembut. Betapa pasangannya merasa diperlakukan dengan sangat baik olehnya. Ia dapat menempatkan diri sebagai seorang pemimpin yang mengambil keputusan dan membimbing pasangannya. Saling menghormati dan toleransi selalu mengisi hari-hari saat berdua. Dua insan yang berbeda tapi selalu bisa jadi teman bertukar pikiran, rekan seru-seruan, sumber informasi, juga tempat curhat dan pendengar yang baik. Ga saling menuntut, tapi saling merendahkan hati untuk menerima kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Komitmen yang terjalin berkembang menjadi target yang sudah dipasang. Doa-doa tak henti dipanjatkan, agar satu tahun lagi semua yang telah direncanakan menjadi indah pada waktunya.

Di dalam keluarga, ia dijadikan contoh yang baik bagi adik-adik dan saudara-saudaranya. Walaupun demikian, ia tetaplah seorang pria yang masih ingin menikmati masa muda (dan masa lajang). Ia gembira berkumpul dengan teman-teman, makan-makan, atau jalan-jalan ke luar kota. Kesukaannya selain sepakbola adalah baca komik, nonton film kartun, dan main game di komputer, PSP, maupun Ipod. Sense of humor-nya kuat, ekspresinya lepas, dan itulah salah satu daya tarik personalnya.

He is an amazing guy. He is my love. Apa yang aku cari dari sosok seorang pria, ada padanya. Nobody’s perfect, namun prinsip hidupnya yang tegas, ketegaran hatinya, daya juangnya, dan kesetiaannya membuatku percaya, bahwa ia akan menjadi orang hebat suatu saat nanti. Cukup lama mengenalnya, aku tahu benar bagaimana rekam karir serta pertumbuhan pribadinya. Ia sangat loyal pada sesuatu yang dicintainya, dikerjakannya, sama seperti loyalitasnya pada Real Madrid. Kami sudah merajut harapan bersama di masa depan, dan akan berjuang untuk mewujudkannya.

Sungguh masa depan itu memang ada, karena kamu telah berhasil melewati satu tahun lagi usiamu. Hal yang terkecil membentuk kesempurnaan, namun kesempurnaan bukanlah hal yang kecil.
Happy birthday, my beloved Madridista! This is dedicated for you, with my love and pray....
Hadiah ulang tahun dariku untuknya :)

Rabu, 17 Oktober 2012

Cantik Itu (Nggak Harus) Mahal!



Kita pasti sudah sering dengar ungkapan “Don’t judge a book by its cover”, jangan menilai buku hanya dari covernya. Dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan ini pun ditujukan supaya orang ga menilai orang lain hanya dari tampilan luarnya (fisik), tapi lebih penting menilai orang dari “dalam”nya, seperti budi pekerti, kepandaian, atau kemampuan.
Tapi bagaimanapun juga, kita ga bisa memungkiri kalau tampilan luar juga berpengaruh pada hubungan antarmanusia. Contohnya, bagaimana kita bisa mendapatkan posisi di dunia kerja jika pada saat interview tidak menampilkan diri yang pantas dan rapi? Klien atau customer pun ga akan membeli produk yang kita jual jika sebagai garda depan kita berdandan asal-asalan, jadinya ga enak dilihat. Lalu apa yang ada dalam pikiran kita, ketika melihat sekelompok anak muda berpakaian serba hitam nongkrong ga jelas di pinggir jalan, dengan tindik atau tato di sekujur tubuh, rambut dicat warna-warni, dan merokok? Pasti kita menilai anak muda tersebut urakan, pemalas, salah didikan, dan sebagainya. Maka dari itu, kesan pertama yang dilihat orang lain dari kita turut mempengaruhi penilaian terhadap diri kita.

Karena penampilan itu penting, maka sekarang banyak ditemui klinik-klinik kecantikan atau perawatan tubuh, baik tubuh secara keseluruhan maupun hanya bagian tertentu, misalnya wajah atau kuku. Beragam fasilitas yang disediakan, mulai dari yang luks berbiaya fantastis hingga salon-salon yang awalnya hanya menangani penataan rambut kini juga menambah komposisi mereka dengan menyediakan perawatan tubuh. Masyarakat pun bisa leluasa memilih tempat dan jenis perawatan yang mereka butuhkan, tentunya sesuai dengan gaya hidup dan budget masing-masing.

Aku termasuk jarang menggunakan jasa klinik perawatan semacam itu. Beruntungnya aku memiliki jenis kulit yang normal cenderung kering, jadi ga gampang jerawatan. Perawatanku sehari-hari ya cukup mandi dan cuci muka teratur dengan sabun yang lembut, pakai body lotion, pakai pelembab muka yang ada SPF-nya untuk menangkal sinar matahari, dan pakai krim malam. Produk yang aku pakai juga produk-produk umum yang banyak dijual di pasaran.
Beda dengan pacarku, dia memiliki jenis kulit yang sensitif dan gampang jerawatan. Awalnya dulu kulit mukanya kering dan agak kusam, jadi aku sarankan dia pakai pelembab. Untungnya dia mau ngikuti saranku. Setelah pakai pelembab secara teratur, mukanya mulai kelihatan cerah. Lama-kelamaan, dia jadi serius merawat kulit. Selain pakai pelembab, dia juga pakai body lotion, pastinya dia pilih produk yang khusus untuk cowok. Tentu aku senang karena dia ga gengsi untuk melakukan perawatan kulit yang biasanya monopoli kaum perempuan. Itu tandanya dia memerhatikan penampilan.

Walaupun sudah dirawat, wajar kalau sesekali masih muncul masalah pada kulit. Pacarku masih sering jerawatan, sampai-sampai tiap jerawatnya muncul, aku godain “Kamu mau ‘dapet’ (menstruasi), ya?” hahaha... Karena hal itu,  lalu aku teringat sesuatu.
Suatu hari, aku ngomong ke pacarku, “Eh, kita facial, yuk?”
“Ayuk. Ga pa-pa,” katanya.
Wah, aku senang ternyata dia mau. Mulailah aku cari informasi tentang klinik-klinik perawatan muka, jenis-jenis perawatannya, hingga harganya.
Dari berbagai tempat yang terkenal, misalnya Natasha, Esther, dan LBC (London Beauty Centre), akhirnya aku pilih yang terakhir karena pertimbangan lokasinya dekat dengan tempat tinggalku. Soal harga, relatif bersaing lah.

Akhirnya, pertengahan bulan lalu aku dan pacarku pergi ke LBC. Kalau aku sudah pernah facial, tapi bagi pacarku, ini adalah pengalaman pertamanya. Apa komentarnya setelah selesai? “Addoohh... Sakit banget! Apalagi pas bersihin komedo, dipencet kenceng-kenceng. Aku mau teriak rasanya. Sampe pegangan pinggir tempat tidurnya. Waktu di-masker enak, dingin, sampe ketiduran waktu nunggu maskernya kering.” Hahaha...  Beberapa hari kemudian, dia mengakui perbedaan wajahnya setelah di-facial, jadi bersih, halus, dan cerah.

Harga yang harus dibayar setiap facial memang lumayan, sekitar Rp 105 ribu ++. Walaupun prosesnya menyakitkan, tapi aku dan pacarku ga kapok mengulanginya. Minggu lalu, kami kesana lagi. Kali ini ga langsung facial, tapi konsultasi dulu dengan dokternya. Dia mau perawatan khusus biar ga gampang jerawatan, sedangkan aku mau menghilangkan bintik-bintik coklat di wajah. Bintik-bintik di wajahku ini bukan flek, tapi keturunan dari mamaku. Menghilangkannya harus dengan di-cooter atau seperti disulut dengan api gitu. Ada alat khusus untuk itu. Wow, serem ya? Tapi karena aku sudah pernah di-cooter, jadi sudah tau prosesnya seperti apa. Rasanya jauh lebih sakit dari facial biasa! Clekit-clekit gitu... Sesudah itu, muka jadi merah, timbul bekas luka, tapi dalam waktu 3-5 hari luka itu akan mengelupas dan kulit jadi bersih.

Selama dalam masa perawatan, alangkah lebih baik hasilnya jika ditunjang dengan produk yang tepat. Jadi setelah treatment, si dokter meresepkan beberapa produk yang harus dipakai. Belinya ya di Apotek LBC. Untuk pacarku, ada sabun muka anti jerawat, krim anti iritasi, krim pagi, dan krim malam. Kalau buatku cuma gel antibiotik untuk menyembuhkan bekas lukanya. Ketika membayar di kasir, harga yang disebutkan cukup membuat kami tercengang: Rp 575 ribu untuk pacarku, dan Rp 280 ribu untukku. Hmm...

“Gini ya perjuangan untuk kulit bagus...” gumam pacarku. Selain prosesnya sakit, produk yang harus dipakai cukup banyak, harganya lumayan mahal, dan kami harus rutin menjalaninya! Aku harus kembali kesana 2 minggu lagi untuk peeling, dan dia setidaknya harus 3 kali perawatan lagi. Geleng-geleng kepala jadinya.

Nantinya, semua perawatan dan biaya yang dikeluarkan itu akan berbanding lurus ketika melihat hasil kulit muka yang cerah dan mulus. Makanya kami merasa ga rugi mengeluarkan banyak biaya seperti itu. Kami pengen terus merawat muka dengan facial sebulan sekali. Tapi tentu perawatan dari luar ga ada artinya kalau ga didukung dengan perawatan dari dalam.

Sebenernya kulit terawat dan sehat bisa kok didapat dengan mudah dan murah. Anjuran yang paling sering dikemukakan adalah:
  1. Banyak minum air putih.
  2. Makan buah-buahan dan sayur-sayuran hijau. Katanya mangga, jeruk, dan anggur adalah buah yang bagus untuk kulit karena kaya kandungan likopen dan vitamin C. Teh hijau juga bagus karena mengandung kolagen yang menjaga kulit tetap kenyal.
  3. Menghindari sinar matahari antara jam 10 pagi sampai 4 sore, karena tinggi ultraviolet yang dapat merusak kulit. Sebaiknya melindungi kulit dengan sunblock, memakai jaket, topi, kacamata hitam, atau payung saat berada di luar ruangan.
  4. Tidak minum minuman beralkohol dan tidak merokok.
  5. Cukup tidur (istirahat), olahraga, dan seimbang antara pola makan dengan gaya hidup.
  6. Bila perlu, lengkapi dengan suplemen khusus untuk kulit seperti vitamin E.
Satu lagi yang paling penting, jangan mudah percaya pada iklan-iklan produk perawatan kulit atau wajah yang mengeklaim dirinya tidak hanya bekerja di permukaan tapi dapat menembus jauh ke dalam kulit. Karena menurut info yang pernah aku baca, kulit manusia terdiri dari beberapa lapis dan sudah ada penelitian yang menyebutkan bahwa tidak ada satu pun krim yang dapat menembus lapisan teratas pada kulit. Cek artikel lengkapnya disini.

Jadi, siapapun bebas memilih seperti apa ia hendak memperindah tampilan dirinya: apakah dengan berbagai perawatan dan produk kimiawi yang mengeluarkan banyak biaya, atau dengan cara alami yang dipercaya lebih aman, tidak mempunyai efek samping bagi kesehatan, dan pastinya lebih hemat. Jika kembali ke ulasan di awal, manakah yang lebih Anda pilih: cantik atau pintar? Tampan tapi bodoh atau jelek tapi pintar? :)

Sabtu, 22 September 2012

Jika Cinta Itu Sebuah Kue

Setelah di blog sebelumnya aku cerita tentang suka-dukanya bisnis kuliner (blog: Serba-Serbi Jualan Makanan), kali ini aku mau praktek. Bukan praktek buka restoran, tapi praktek masak. Aku mau membuat kue namanya “Kue Cinta”.

Kue ini terambil dari buku kumpulan resep warisan leluhur. Jadi memang sudah lama ada. Mungkin namanya kurang komersil alias biasa banget, jadinya banyak yang menduga-duga seperti apa sih kue ini? Apa berbentuk hati, berwarna pink, sebagaimana lazimnya rupa "cinta"? Lalu, apa istimewanya?

Nah, setelah ini, diharapkan kue klasik ini disukai oleh masyarakat, khususnya kaum muda; selain semua varian kue yang ada modern ini, seperti Rainbow Cake, Red Velvet, atau Macaroons. Yuk, simak bahan-bahan dan cara membuat kue ini!

Bahan-bahan dasar:
  • 1 Pria sehat
  • 1 Wanita sehat
  • 1 bungkus penuh usaha
  • 100% komitmen
  • 2 pasang restu orang tua
  • 1 bungkus kasih sayang murni
Bumbu-bumbu dan bahan pelengkap:
  • Humor secukupnya
  • Rekreasi secukupnya
  • Doa secukupnya
  • Komunikasi secukupnya
Cara membuat:
  • Pria dan wanita dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni.
  • Aduk bahan-bahan dasar, bumbu, dan bahan pelengkap hingga tercampur rata dan mengembang, tunggu selama minimal satu tahun.
  • Siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu kedua pasang orang tua secara merata.
  • Masukkan semua bahan ke dalam Loyang Asmara dan panggang dengan Api Cinta yang merata selama kurang lebih satu jam di depan pemuka agama.
  • Kue siap dinikmati.
Tips:
  • Pilih pria dan wanita yang benar-benar matang dan seimbang.
  • Jangan yang satunya terlalu tua dan yang lainnya terlalu muda karena dapat memengaruhi kelezatan.
  • Sebaiknya beli bahan di toko yang bernama TEMPAT IBADAH, walaupun agak jual mahal tapi mutunya terjamin.
  • Jangan beli di tempat yang bernama DISKOTIK atau PARTY karena walaupun modelnya bagus dan harum baunya, tapi kadang menipu konsumen, dan bisa jadi menggunakan bahan-bahan kimia dan zat pewarna yang bisa merusak kesehatan.
  • Gunakan kasih sayang cap "IMAN, HARAPAN, & KASIH" yang telah mendapatkan standar mutu dari Departemen Kesehatan dan Departemen Agama.
Catatan: 
Kue ini dapat dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati selagi masih hangat. Tapi jika sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa potong doa, kemudian masukkan ke oven bernama "Tempat Ibadah" dan nyalakan api cinta untuk menghangatkannya. Setelah mulai hangat, jangan lupa tambahkan komunikasi secukupnya bila berjauhan.


Demikianlah resep Kue Cinta yang sudah ada dari zaman nenek moyang kita. Ternyata bukan kue dalam arti sesungguhnya :)
Petuah leluhur yang satu ini memang sudah terbukti kualitasnya. Jadi tunggu apa lagi?

Bagi yang belum menikah dan sedang merencanakan pernikahan, mari kita mempersiapkan diri untuk membuat Kue Cinta ini. Bagi yang masih sendiri dan merindukan datangnya belahan jiwa, seperti katanya Mario Teguh: indahkanlah dan pantaskanlah diri sendiri, berlakulah penuh hormat, lembutlah pada sesama, agar kita menjadi pribadi yang baik bagi keindahan jiwa yang telah Tuhan persiapkan untuk kita. Pria yang baik untuk wanita yang baik, dan sebaliknya.
Bagi yang sudah menikah, semoga Tuhan mengaruniakan rezeki yang baik, kesehatan jasmani dan rohani, keluarga yang bahagia, serta kesetiaan sampai akhir waktu, setelah membuat dan memakan Kue Cinta ini.

Yang setuju denganku dan mempunyai harapan sama, katakan: AMIN!